.
.
.
.
.
.
.
.
Senyum merekah Jena tampilkan ketika melihat anak-anak menyantap makan siang mereka dengan lahap. Tidak jarang celotehan mereka terdengar berselingan dengan kunyahan. Pemandangan sangat menyejukkan hati yang melihat.
Hari ini Jena bisa ke panti lebih awal, tidak harus menjemput karena twins dijemput Tantenya. Sudah menjadwalkan mau bermain bersama dengan Arsel, sepupu mereka. Kalau sudah begini kemungkinan besar akan menginap sampai akhir pekan.
"Kak........Jena." suaranya terdengar kecil, seolah ragu-ragu untuk memanggil.
Jena menengok ke arah sumber suara yang memanggilnya. "Perlu bantuan apa Mada?." tanya Jena, kepada anak laki-laki yang berdiri di sampingnya dengan membawa piring berisi makanan.
"Boleh Mada meminta tolong? Tapi kalau Kak Jena tidak mau tidak apa-apa kok." ucap Mada, anak itu masih setia berdiri di samping kiri tanpa berminat untuk langsung duduk dikursi kosong sebelah kanan Jena.
Tangannya mengusap kepala Mada, lalu tersenyum. "Memang Mada mau meminta tolong apa? Kok sampai bilang kaya gitu." ucap Jena dengan penasaran.
"Tolong, bolehkah kalau Mada minta disuapi Kak Jena pakai tangan. Mada hanya ingin tau rasanya seperti apa, melihat teman Mada disuapi Mamanya pakai tangan sepertinya sangat menyenangkan." ucap Mada
Seketika Jena terdiam menatap Mada, hatinya mencelos sakit. Anak umur 9 tahun sudah tau keadaan hidupnya berbeda dengan anak lain. Tatapan mata penasarannya tidak bisa disembunyikan. Entah juga kenapa bisa memilihnya untuk meminta disuapi.
Jena mengambil alih piring yang dipegang Mada, lalu meletakan dimeja. "Boleh dong. Mada duduk dulu ya, Kak Jena mau cuci tangan. Biar nanti Mada tidak sakit perut." ucap Jena
Mada mengangguk paham lalu duduk dikursi sebelah Jena.
Sebuah kegiatan yang menyelamatkan Jena sesaat, setidaknya dengan cuci tangan Mada tidak melihatnya berlinangan air mata. Sedikit lama karena juga menenangkan diri agar tidak banjir ketika menyuapi nanti. Apalagi ini Jena hamil moodnya sangat cepat berubah menjadi melo.
"Mada mau makan semua ini? Tumis brokolinya mau, Nak?" tanya Jena, dia memastikan bahwa semua menu dipiring itu bisa dimakan oleh Mada.
"Mau semua Kak, Mada paling suka brokoli." ucap Mada
Mendengar itu langsung Jena mengambil sedikit-sedikit lauk pauknya untuk dijadikan satu dengan nasi. Ditekan sebentar baru disuapkan ke Mada yang sudah menunggu. Anak itu langsung berbinar mendapatkan suapan pertama yang diinginkan.
"Enak Nak?" tanya Jena
"Enak! Masakan Bu Nur selalu the best Kak." ucap Mada, Nur penanggungjawab dapur di panti ini.
"Bener dari dulu malah. Kak Jena kalah jauh tau." ucap Jena, dia juga menjadi saksi betapa enaknya masakan Nur. Tidak jarang memang Jena makan di panti.
KAMU SEDANG MEMBACA
Life With You
Ficción GeneralSequel dari Dosen Duda Itu Suamiku. ini kisah Jena dan Ardi bersama anak kembarnya.
