.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kehamilan ketiga Jena sejauh ini berjalan dengan lancar. Mode mengidamnya pun tergolong mudah, tidak ada ngidam yang sampai tidak terpenuhi. Semuanya alhamdulillah bisa terpenuhi karena banyak support system juga membantu dalam pencarian, Ardi atau keluarga yang mengusahakan.
Tapi pengalaman kali ini sedikit berbeda, ada masalah yang sangat mengganggu Ardi sampai uring-uringan beberapa hari. Ketika hamil twins, Jena dulu pada trimester dua cenderung suka bermanja dan berdekatan dengan sang suami bagaimanapun kondisinya. Sekarang di waktu trimester yang sama istrinya enggan untuk bermanja dengan Ardi hampir seminggu ini.
Jangankan bermanja, berjarak dua meter saja kata Jena tubuh Ardi bau kecut atau asam. Ya, kecut katanya seperti orang tidak mandi berhari-hari saat sang istri mendiskripsikan. Padahal sudah mandi empat kali pada waktu kali pertama istrinya menolak berdekatan. Durasi mandi juga lebih lama untuk memastikan tidak ada bau kecut yang tersisa. Deodroan pun selalu pakai, parfum juga waktu di rumah sekarang juga pakai tapi tidak ada yang berefek.
"Mas! iiiih! jangan berdiri terlalu lama di depan AC, bau kecutnya menyebar sekamar." omel Jena, tangan kecilnya sudah menutupi hidung untuk menghalangi bau.
Ardi memang habis mandi, hanya bertelanjang dada dengan handuk dipinggang saja. Tetesan-tetesan air masih turun dari rambut basahnya. Berhenti sebentar untuk melihat istrinya yang bersandar di ranjang, wajahnya masih terlihat lemas.
"Mas ini udah mandi 2x loh sayang, masak masih bau? Seharian cuma mengajar aja di ruangan berAC, bukan main bola yang mandi keringat gitu. Udah mau seminggu juga lo ini." ucap Ardi, seakan mencoba protes ke Jena. Ini hampir seminggu Ardi harus berjaga jarak dengan sang istri.
"Masih bau, enggak tau mual ba.. Ho--ekk hoek." dengan sigap Jena meraih kantung kresek di sisi ranjang. Usaha menutupi hidung sia-sia, bau kecut yang dihindari masih juga tercium.
"ACnya Mas matikan aja kalau gitu, malah muntah kamunya." ucap Ardi
"Ja--ngan ger--ah." ucap Jena
Serba salah memang dimatikan gerah, tidak dimatikan katanya bau menyebar. Padahal kata Alpha dan Gamma tidak mencium bau kecut yang Jena maksud. Justru malah wangi sabun yang menyeruak bercampur deodoran dan parfum. Ardi sampai mendapatkan julukan baru seperti laundry berjalan kalau kata mahasiswanya beberapa waktu ini. Orangnya dimana wanginya masih dimana-mana. Penggunaan parfumnya pun naik drastis, benar-benar seperti mandi parfum.
Satu tarikan nafas Ardi lebih panjang, meluaskan stok sabarnya dalam menangani bumil. "Ya sudah, Mas ke wardrope. Nanti Mas panggilkan twins biar ada yang nemenin." ucap Ardi
"Maaf ya Mas." ucap Jena, endingnya rasa bersalah menghampiri lagi.
"Udah jangan minta maaf terus sayang, ini diluar kendali kamu. Mas mencoba tahan, walau sedikit sulit karena udah kangen banget. Rasanya pengen banget peluk, cium, mengusap perut kamu." ucap Ardi
KAMU SEDANG MEMBACA
Life With You
Fiction généraleSequel dari Dosen Duda Itu Suamiku. ini kisah Jena dan Ardi bersama anak kembarnya.
