27. Menyampaikan

657 39 2
                                        

.

.

.

.

.

Jumat siang acara kumpul keluarga digelar karena merayakan ulang tahun sang tetua kepala keluarga. Adi Wijaya, mertuanya itu sedang berulang tahun yang ke 62. Beliau secara spesifik ingin perayaan di rumah bersama istri, anak, mantu dan cucu-cucunya. Bukan perayaan formal dan megah, hanya makan siang bersama dilanjut quality time dengan cucu-cucunya.

Kebetulan sedang hari libur makanya jumat siang sudah bisa kumpul bersama. Kalau tidak libur Ardi tidak akan bisa gabung lebih awal, tentu masih disibukkan dengan jadwal mengajarnya. Paling-paling Jena dan twins yang akan datang lebih dulu untuk mewakili.

Acara makan siang selesai, sekarang Jena sendiri sedang asik bersantai di gazebo bersama para wanita. Lotisan sambil mengamati bapak mertua dan anak-anaknya berenang, ditambah 3 lelaki yang ikut menjaga. Bisa dibayangkan seberisik apa area kolam renang keluarga Wijaya dengan 4 cucu mereka.

"Aduh, mangganya asem banget. Nanasnya malah manis loh." ucap Retno, muka Mama mertuanya terlihat sedang menahan rasa asam yang menohok lidah.

"Hehehe sengaja Ma, itu Nita yang pilih mangganya matang tapi yang rasanya asam." ucap Nita sambil menyengirkan senyum.

Lotisan ini adalah ide Nita, mode mengidam sahabatnya itu. Mengidam mangga masam untuk dijadikan lotisan. Mana cuaca terik cocok untuk makan itu ditambah angin juga sepoi-sepoi

"Eh! Iya ini mah nanas madu. Coba deh Jen, enak ini walau kayaknya enggak meyakinkan karena bentuk kecil-kecil. Biasanya juga kamu bakal comot nanas dulu Jen, tumben banget ini sampai dianggurin." ucap Dina

"Aslinya sih pengen, tapi gimana aku sedang hamil jadi mungkin buah lain aja." ucap Jena, memakan buah melon yang diselimuti sambal lotis.

Byurrr uhuk-uhuk
Suara semburan dan tersedak menjadi satu setelah Jena berbicara.

Mertuanya mendekat lalu menyentuh perut Jena. "Ndug, beneran kamu hamil lagi?." tanya Retno

Jena berdiri lalu mengusap perutnya, tangan berhenti di sisi bawah posisi menyangga."Belum terlihat ya, Ma?" tanya Jena

"Masyaallah." ucap Retno lalu memeluk Jena.

"JENA SELAMAT"

Ucapan riuh berasal dari Dina dan Nita menarik perhatian para pria untuk mendekat. Seketika gazebo ramai dikerubungi untuk mencari tau alasan riuh tadi. Heran pasti karena pemandangannya sekarang Jena dipeluk oleh mertua dan iparnya.

"Ada apa?" tanya Genta

"Jena hamil lagi, Mas." ucap Dina

"Wah! Selamat ya Mas Ardi." ucap Genta, menepuk pundak kakak iparnya.

"Oo.. ini to projek Tawangmangu kemarin." ucap Dilan menggoda sang kakak. Asal menebak yang membuat dirinya sendiri mendapat tatapan tajam.

"Sok tau kamu, Lan." ucap Ardi

"Walah! Makasih ya Di. Kadonya sangat diluar ekspektasi Papa. Tapi Papa sangat bahagia mendengarnya." ucap Adi

"Wih! Al dan Gam, mau punya adik tuh." ucap Adi sembari mengusap kepala cucu kembarnya, seakan memberi tahu.

"Yangkung telat tau." ucap Gamma

"Betul, Al dan Gam tau lebih dulu. Sudah lama sekali lo Yangkung." tambah Alpha

"Loh?! Masak? Memang sudah berapa minggu, Jen?." tanya Adi

"Ini memasuki minggu ke 17, Pa." ucap Jena

"Udah gede itu, Kok kalian enggak kabar-kabar? Jangan bilang klubanan minggu kemarin itu buat 4 bulanan Jena juga?." Retno langsung menodong pertanyaan prihal kiriman nasi kluban minggu kemarin.

Mereka berdua memang sengaja untuk merahasiakan kehamilan sampai semua jelas. Tidak dipungkiri sebelum semuanya jelas, kepala Jena dipenuhi overthinking berbagai hal. Tapi alhamdulillahnya minggu kemarin tepat memasuki minggu ke 16, calon anak mereka dinyatakan sehat. Tidak ada efek pil kb itu terhadap janinnya.

Rencananya memang ingin langsung memberi tahu, tapi Ardi menyarankan untuk ditunda seminggu. Menunggu moment ulang tahun Papa mertuanya, hitung-hitung sekalian menjadi kado. Bukan hanya pihak keluarga Ardi yang telat diberi tahu, keluarga Jena pun juga.

Ardi mendekat ke sisi Jena, menggenggam tangan istrinya itu. "Begini, Ardi dan Jena juga tidak menyangka mendapat kepercayaan kembali. Sungguh ini di luar perkiraan kami berdua. Bukan bermaksud untuk merahasiakan kabar bahagia ini, tapi kami harus memastikan sesuatu hal dulu. Baru bisa membagikan kabar bahagia ini ke kalian semua dan keluarga Jena." ucap Ardi

"Jena ketahuan hamil itu saat kandungan usia 7 mingguan, itu saja tidak terasa kalau sedang hamil. Ada kejadian lucu, Ardi lah yang malah mengalami gejala mual dan muntah. Maka dari itu sebelum Jena mengecek, dia masih mengkonsumsi pil kb. Itu saja iseng mengecek karena yang curiga itu pacar Algan bukan kami sendiri." jelas Ardi

"Nita dan Algan kalian ingat waktu Mas ijin pulang? Waktu kamu mengidam ikan mangut itu?." tanya Ardi

"Jangan bilang hari itu kalian baru tau, Mas Mbak?" ucap Dilan

"Ya, kami baru tau hari itu." ucap Jena membenarkan.

"Kami jadi berkonsultasi dan melakukan pengecekan secara menyeluruh. Jujur kami berdua khawatir dan takut membuat ekspektasi berlebih. Soalnya tidak sedikit, lebih dari setengah blister pil sudah Jena minum. Pengecekan disarankan sampai kandungan umur 16 minggu. Alhamdulillahnya tidak ada efek yang mempengaruhi kandungan, jadi hari ini bisa membagi kebahagian pada kalian semua." ucap Jena, takut memang kalau keluarga mereka berharap berlebihan.

"Maaf kalau terlambat memberi tau." ucap Jena

"Masyaallah, tidak ada kata terlambat." ucap Retno

"Jadi alasan renovasi rumah karena itu?" tanya Genta

"Ya, untuk memudahkan istri Mas beraktifitas. Lihat pengalaman hamil twins yang harus pindah-pindah kamar ternyata tidak terlalu efektif. Demi kenyamanan masa tua juga. Mas berfikir jangka panjangnya, biar tidak menyusahkan anak." ucap Ardi

"Sekali lagi Ardi dan Jena meminta maaf, bukannya tidak ingin melibatkan kalian cuma ya ada sesuatu yang ingin kami pastikan dulu." ucap Ardi

"Boy or girl, Di?" tanya Retno

"Jujur kami sendiri belum tau, Ma. Minta doanya ya semoga Jena dan calon anak kami sehat." ucap Ardi

"Kami selalu doakan, baik untuk Jena dan Nita. Semoga kehamilannya diberi kelancaran sampai nanti tiba waktunya melahirkan. Terpenting adalah selamat, sehat dan lengkap keduanya. Lanang arep, wedok yo arep." ucap Adi (lanang arep, wedok yo arep = cowok mau, cewek ya mau)

"Kesampaian nih foto berdua huhu." ucap Nita, sahabatnya itu sudah berlinangan air mata.

"Iya nanti bakal foto berdua, udah jangan nangis ih. Kabar bahagia kok nangis sih." ucap Jena menenangkan Nita.

"Ya kamu sih! Tiba-tiba ada gebrakannya. Mungkin ini hadiah untuk kalian karena niat baik kalian tidak terlaksana." ucap Dina

"Ngomong-ngomong masih topcer juga kamu Mas. Lawannya pil kb loh." ucap Dilan sembari memberikan Ardi 2 jempol.

Buk
Sebuah bantal mendarat di muka Dilan.

"DILAN!" ucap Ardi dengan menggelegar. Biasa Dilan masih suka membuat prahara.

.

.

.

.

Tbc

Jika kalian suka cerita ini bisa vote, share dan ikuti akun junghyura21 supaya tidak ketinggalan update. Oh iya dimasukan dalam perpus kalian ya guys. Bisa ramein di kolom komentar yuk.

Oh iya jangan lupa mampir dicerita JH lainnya.

Thank you guys.

Life With YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang