26. Two Birthday

743 43 2
                                        

.

.

.

.

.

.

.

Perpindahan ke rumah sementara berjalan dengan lancar, hanya membawa baju saja. Perabotan sudah ada lengkap kecuali mungkin alat makan karena sifat pribadi. Cukup membantu tidak perlu memindahkan barang-barang terlalu banyak.  Kebetulan rumah yang Ardi sewa milik pasutri juga, disewakan karena sedang berhemat pengeluaran.

Di rumah ini juga hari ini menjadi saksi perayaan ulang tahun suami dan twins. Bukan perayaan besar, hanya peringatan kecil-kecilan berempat. Lebih tepatnya ini di hari ulang tahun twins, karena cuma beda hari harus bergantian perayaannya. Walau Ardi sendiri sebenarnya mengalah pada twins, cuma Jena yang mengatur agar adil. Sesekali dirayakan pas ultah Ardi, sesekali pas ultah twins.

Kali ini Jena memasak nasi kuning, tidak terlalu ribet menurutnya. Tidak terlalu banyak juga bikin nasi kuningnya. Rencana untuk dimakan sendiri, nanti dihantarkan ke rumah mertua dan ibunya.

"Wah! Bisa nih nanti jualan nasi kuning tampah. Bagus sayang, hiasannya juga meriah." ucap Ardi, mengomentari hasil karya Jena di dapur.

"Sayang sekali ini nasi kuning spesial, hanya dibikin di hari spesial saja. Bukan untuk umum, Mas Ardi." ucap Jena

"Thank you ya sayang selalu merayakan hari spesial suamimu ini dan twins." ucap Ardi

"Sama-sama Mas, walaupun sederhana perlu untuk dirayakan menurutku." ucap Jena

"Maaf ya Mas, aku tidak menyiapkan hadiah yang bagus." ucap Jena

"Apa yang tidak bagus? Kamu membuatnya dengan penuh cinta. Lagipula kan udah ada hadiah terbaik dan terkhusus." ucap Ardi sambil mengusap perut Jena memutar.

Jena menyiapkan bannie rajut untuk Ardi dan twins, beneran dirajut sendiri. Sengaja dibikin kembaran biar tidak iri-irian antara bapak dan anak. Awalnya bingung karena kayaknya semua barang sudah pernah menjadi kado.

"Hadirnya dia sudah menjadi hadiah yang tidak pernah Mas sangka sayang. Aku udah sangat happy, malah aku khawatir sama kamu karena pasti membuat rajutan bannie memakan waktu yang lama. Istirahat jadi kurang juga pastinya." ucap Ardi

"Aku merajut sambil duduk, tidak membuat capek Mas. Pilates aja sanggup, lucu kalau merajut sambil duduk aja enggak sanggup." ucap Jena

Kelas pilates memang sengaja dilanjutkan, walau sebenarnya Jena sendiri baru masuk 2x sebelum ketahuan hamil. Dokter juga tidak mempermasalahkan, terpenting mengurangi porsi gerakan saja. Dikonsultasikan kepada coach pilatesnya juga agar semua aman. Kontrol minggu ke 10 Jena, tidak ada masalah alhamdulilah.

"Lucu sih, Biar Mas yang mindahin ke depan."  Ardi memindahkan tampah berisi nasi kuning ke ruang tamu.

Di ruang tamu sudah di set sedemikian rupa oleh Ardi. Dihias sedikit supaya terlihat seperti perayaan ulang tahun pada umumnya. Tidak lupa juga memasang kamera untuk mengabadikan momen ini.

"Wah! Mama hebat!" ucap Gamma

"Nasi kuningnya banyak hiasan, keren Mama. Mama dan adik deh yang keren." ucap Alpha, Twins tampak bahagia melihat hasil prakarya Jena.

"Adik kalian udah di training Mama sedari dini, boys." ucap Ardi

"Bagaimana kalau kita mulai?" tanya Jena sembari menyeting kamera ke wireless remote. Sedangkan Ardi menyalakan lilin-lilin di nasi kuning.

Life With YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang