.
.
.
.
.
.
.
..
.
.
Menepati janji ke twins, Ardi dan Jena berkunjung ke panti asuhan di weekend ini. Hanya sekedar berkunjung, mengunjungi Gia dan anak-anak yang lain. Bukan untuk menengok kegiatan mahasiswa Ardi saat mengajar sukarela.
"Gia bobok Mas?" tanya Jena kepada Ardi.
"Bobok nih, anteng banget dia. Enggak terganggu sama sekali padahal kakak-kakaknya pada main heboh." ucap Ardi yang sedang menggendong Gia yang tertidur. Sesekali menepuk pantat bayi mungil itu agar semakin terlelap tidur.
Pemandangan yang sangat hangat tersaji di depan Jena, Ardi menggendong Gia. Bayi mungil itu terlihat nyaman di gendongan suaminya. Jena sendiri tidak bisa menahan senyumnya melihat itu.
"Nyaman banget ya Nduk." ucap Jena sambil mengamati Gia.
Ardi dan Jena sekarang berada di teras panti asuhan, berbincang bersama pengurus panti sembari mengamati twins bermain bersama anak-anak panti. Berlarian kesana kemari tanpa beban, cuaca terik tidak menghalangi keasyikan mereka bermain. Tidak jarang tawa dan teriakan terdengar dari mereka.
"Biar saya pindahin aja Mas Ardi, sedari tadi sudah gendong pasti pegal." ucap Ami
"Enggak seberapa pegal Bu. Walau lama enggak gendong bayi tapi masih aman Bu Ami." ucap Ardi dengan senyum lebarnya.
"Tapi kamu agak kaku Mas Ardi. Bukan begitu Bu Ami?" tanya Jena
"Haha, mungkin Mas Ardi lebih ekstra hati-hati aja jadi terlihat kaku Mbak Jena. Tapi saya lihat masih luwes kok gendong bayi merah Mbak." ucap Ami
"Memang sih Bu. Ilmu gendong bayinya belum hilang berarti. Padahal udah 5 tahun lebih kalau bayinya twins." ucap Jena
"Mungkin sembunyi saja Mbak, ini nyatanya balik lagi pas gendong Gia. Kalau tiap hari gendong pasti udah enggak ada kaku-kakunya." ucap Ami
"Pengennya tiap hari Bu, cuma masih belum memungkinkan." ucap Ardi tersenyum tipis.
"Mbak Jena dan Mas Ardi jangan berkecil hati, ikhlaskan semua sama Allah saja. Jalani dengan biasa, kalau jodoh pasti tidak kemana. Apalagi ini masalah mengadopsi seorang anak, benar jodoh-jodohan. Banyak yang sudah mengalaminya." ucap Ami
"Ada yang sampai batal begitu Bu?" tanya Jena
"Ada aja cara untuk gagal, maka ada juga cara untuk berhasil. Jadi jangan lupa sisipkan dalam doa ya." ucap Ami
"Iya Bu, minta doanya buat kami ya Bu. semoga dilancarkan semuanya. Diberi keikhlasan dan ketabahan untuk menjalani semua ini. Apalagi kalau udah jatuh cinta kadang susah untuk mengikhlaskan Bu." ucap Ardi
"Saya mengerti, kita saling doa mendoakan semoga apa yang kita doakan dikabulkan oleh Allah Mas, Mbak." ucap Ami
Kalau ditanya mungkin di mulut akan menjawab ikhlas tapi di hati masih ada rasa kecewa pada diri sendiri. Menunggu 3 tahun itu sangat lah sulit, mana belum tau kedepannya akan bagaimana. Tapi sebisa mungkin Jena dan Ardi terus belajar mengikhlaskan. Benar kata Bu Ami juga, kalau jodoh tidak akan kemana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Life With You
Fiksyen UmumSequel dari Dosen Duda Itu Suamiku. ini kisah Jena dan Ardi bersama anak kembarnya.
