Telunjuk tangan kanannya menekan tombol speaker, untuk berbicara dengan Gyuvin.
"Dia bertanya mengenai rencanamu yang akan membunuhnya."
Dia berkata, seolah dirinya berada dipihak pria itu.
Sedangkan matanya tertuju pada roomchat antara dirinya dengan Jeno.
[Jeno : Bagaimana? Ada singgungan dari Gyuvin tentang rencananya yang akan membunuhku?]
Secara garis besar. Bagi dirinya yang mengenal Jeno. Dia amat menyakini pria licik itu tidak mungkin percaya begitu saja padanya, apa lagi Gyuvin.
Di mana akhir-akhir ini, keduanya amat terbuka kala menghunuskan pedang guna mengambil nyawa orang yang menjadi rekan dalam kejahatannya itu.
[Jeno : Aku ingin membunuhnya lebih cepat sebelum dia membunuhku]
Y/n mengangkat kedua sudut bibirnya.
Yang dia butuhkan di sini, memang harus Jeno yang tidak percaya padanya. Agar pria itu lebih menginginkannya. Nafsu untuk memiliki pasti akan jauh lebih besar kala merasa Y/n tidak benar-benar berada dalam genggamannya.
Toh pada akhirnya, nyawa pria itu juga akan diambil oleh Gyuvin. Biar Gyuvin yang mengurusnya.
Dia pun tidak ingin mengotori tangannya. Kecuali untuk orang yang telah membunuh orangtuanya.
Plan yang telah disusunnya bertahun-tahun ini. Berbanding terbalik dengan yang dirinya inginkan dari Gyuvin.
Adik dari Sung Hanbin itu, harus benar-benar mempercayai Y/n. Sekalipun Y/n bilang besok adalah hari di mana dunia berakhir. Gyuvin harus mempercayainya.
Agar tidak ada tembok yang menghalangi kala Y/n membunuhnya.
"Lalu kau membalas apa?"
Berlagak saja dulu seakan Y/n tidak tau Gyuvin menyadap ponselnya. Seperti pria itu yang juga berakting dirinya belum melihat pesan yang Jeno kirimkan padanya.
"Tentu sesuai rencana kita. Kubilang kau akan membunuhnya, tepat di hari pernikahan kami."
Terdengar suara tawa di ujung telepon.
"Anggap saja aku masih punya sedikit kebaikan untuk Jeno. Paling tidak dia bisa mempersiapkan diri untuk membuat surat wasiatnya."
Selepas sambungan telepon terputus.
Y/n mengadahkan kepalanya ke cermin. Seringainya melebar, melihat pantulan dirinya sana.
Tidak sendirian, yang tertangkap dalam bola matanya, ada Hanbin juga yang tengah memeluknya dari belakang.
Pelukan yang seharusnya hangat. Bukannya terasa hampa dalam kedinginin layaknya sekarang ini.
Dalam pendengaran Y/n, Hanbin berkata lirih padanya. "Aku takut kau mati, Y/n."
"Tidak akan." Y/n menjawab seakan Hanbin benar-benar bersamanya.
"Bisakah kau lupakan saja semuanya? Aku khawatir."
"Tidak mau," tolaknya tegas.
Kali ini, dirinya akan mengikat rantai pada leher dewi fortuna, agar keberuntungan berpayung untuknya.
"Aku tidak mau melupakan semuanya. Dan tidak kau tidak perlu khawatir, aku pasti berhasil membunuh adikmu."
|||
Bondage
Venuskinsa Fanfiction 2024
KAMU SEDANG MEMBACA
Bondage » Dark Side Series
FanfictionDark Side Series WARNING! Rating 24+ Rape, Mature, Angst 🚫Not Children *** 10 tahun sudah berlalu sejak hari di mana dirinya menjadi korban pemerkosaan oleh tiga lelaki yang bahkan tidak begitu dikenalnya. Karena strata sosial yang tinggi. Ketigany...
