Gedung pencakar langit dengan banyaknya lampu yang menyala.
Sebuah pemandangan apik yang tak boleh dilewatkan ketika malam hari jika mata masih betah terbuka.
Cukup diam, duduk di bangku yang ada di trotoar, yang mengarah langsung ke jalanan utama. Dengan kepala mendongak menikmati apa yang ada di depan mata.
Hal-hal sederhana itu kadang bisa menjadi alternative pelepas penat orang dewasa dari rumitnya hidup bak benang kusut sulit teruraikan.
"Vanilla, rasa kesukaan mu."
Sebuah ice cream cone muncul di depannya, lengkap dengan tangan pria yang memegang cemilan pencuci mulut itu.
"Terimakasih."
Y/n mengambilnya, dan langsung membuka kemasannya untuk dia cicipi. Membiarkan lelehan manis itu menelusuri lidahnya, sehingga sensasi dingin mampu membuatnya terasa lebih releks dari sekedar menatap mobil yang berlalu lalang.
"Dalam waktu dekat ini, kau akan menandatangani kontrak dengan Jeno?"
"Aku meminta persetujuanmu dulu. Baru aku lakukan." Matanya melirik ke sekitar memastikan sesuatu. "Kau yakin membicarakan hal sepenting itu di sini?"
"Aku sudah bilang ke Renjun kalau malam ini aku bersama Jaemin. Dan aku bilang ke Jaemin, malam ini aku menginap di rumah Haewon. Kau juga bilang jika Jeno sedang ada urusan bisnis di Jepang 'kan. Kau tak perlu khawatir."
"Bagaimana aku tidak khawatir? Kita sudah melakukannya sejauh ini. Apa lagi aku yang pura-pura menjadi munafik untuk bisa mengelabui mereka dan bahkan berkata aku membenci kakakku sendiri."
Wajah cantik itu memamerkan senyum lebarnya. "Tapi usulan dariku itu berhasil 'kan?"
Gyuvin menghela napas lega, dia melemaskan bahunya. Pria itu menyandarkan punggung di sandaran kursi. Mengkuti yang Y/n lakukan.
"Kau itu lebih gila dari yang gila."
Y/n tertawa sumbar.
"Hanbin pasti menggelengkan kepala melihat kelakuan ku sekarang."
Dan tawa tersebut, terhenti pula olehnya begitu nama Hanbin keluar dari mulutnya sendiri. Sinar mata meredup, kontras dengan lampu terang yang terpantul lewat iris hazelnya.
"Terlepas dari banyaknya rencana buruk kita." Pria itu menoleh ke wanita yang sampai detik ini tak sedikit pun menatapnya, meski mereka telah terlibat pecakapan panjang. "Kau benar-benar membuktikan kalau kau sangat mencintainya."
"Sungguh... aku tidak tau."
Kepalanya menunduk. Ice cream yang belikan Gyuvin tak lagi tersentuh oleh lidahnya, dia biarkan begitu saja meleleh mengenai kakinya yang beralaskan sandal.
Kemudian, dia melanjutkan dengan suara kecil serupa gumaman.
"Terlalu kompleks masalah yang ku dekap sendiri. Seperti memeluk duri yang kutahu suatu saat akan membuatku mati karena kehabisan darah. Tapi... masalah yang kudekap itu satu-satunya alasan membuatku ingin hidup lebih lama. Meski hanya bermaksud membalaskan dendam."
Gyuvin mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya. Dia bersimpuh hadapan Y/n, mengusap noda lelehan ice cream yang mengotori jari kaki wanita itu.
Pandangan keduanya bertemu. Iris mata serupa, namun kilatannya berbeda tipis.
Menyiratkan sebuah kesan makna yang berbeda.
"Selama ini aku juga mencoba mendekap masalah yang kau peluk sendiri itu. Aku tak pernah sekali pun membuatmu bertindak sendiri. Apa aku tidak pernah terlihat di mata mu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Bondage » Dark Side Series
FanfictionDark Side Series WARNING! Rating 24+ Rape, Mature, Angst 🚫Not Children *** 10 tahun sudah berlalu sejak hari di mana dirinya menjadi korban pemerkosaan oleh tiga lelaki yang bahkan tidak begitu dikenalnya. Karena strata sosial yang tinggi. Ketigany...
