Campuran warna merah darah dan gold terlihat begitu elegan dipadukan dalam sebuah undangan.
Y/n hanya melihat covernya saja, tanpa membaca keseluruhan. Lain dengan Haewon yang sampai memakai kacamatanya untuk dapat melihat jelas tiap kalimat yang tertera di sana.
"Aku tidak akan datang," seru Haewon.
Dia melepaskan kacamatanya dan menaruh benda tersebut di atas meja sebelum menyusul Y/n yang duduk di ranjang kamar Haewon.
Temannya itu tengah menginap.
Y/n menoleh ke Haewon yang akan bersiap tidur. "Kenapa tidak datang? Kau tidak kasian dengan Jaemin yang sudah menyiapkan acara reuni setelah 10 tahun lamanya kita tidak pernah bertemu teman sekolah kita lagi?"
"Tidak apa-apa. Aku hanya tidak mau datang. Kita pergi ke tempat lain saja ya."
Haewon yakin Y/n tidak akan datang juga, meski tau Jaemin dan Y/n punya hubungan ambigu yang belum dirinya mengerti.
Temannya itu mendapatkan kenangan buruk di masa sekolah. Nasib sial yang menjadi buah bibir diangkatan mereka, sekalipun Y/n menghilang entah ke mana setelah kejadian tersebut menjadi konsumsi public.
Datang kembali ke tempat di mana semua masalah hidupnya bermula. Bukan suatu hal baik yang dilakukan.
Memikirkan kemungkinan semua pasang mata tertuju padanya hanya karena kejadian masa lalu di mana dirinya yang menjadi korban.
Itu hal paling buruk yang membongkar kembali kenangan lama.
Seharusnya, orang waras membayangkan kemungkinan buruk itu bukan?
"Aku mau datang ke sana." Y/n membaringkan tubuhnya di sisi ranjang yang kosong, dia menghadapkan tubuhnya ke Haewon setelah menarik selimut hingga sebatas leher.
"Hah?"
Lantas jawaban Y/n kali ini, apa cukup menjadi bukti jika dalam dirinya tak ada kadar kewarasan lagi?
Singgungan senyum aneh dia tunjukan. Kembali mengucapkan hal yang butuh ditela'ah lebih dulu untuk bisa di mengerti.
"Aku harus datang ke sana. Jaemin 'kan menyiapkan ini untukku. Tidak mungkin 'kan aku tidak datang?"
Tangan Haewon yang berada di balik selimut tebal, mengepal gelisah. Ada apa lagi sebenarnya?
"Kau meminta Jaemin membuat acara ini?"
"Tidak juga, sih. Tapi secara harfiah mungkin iya. Dan Jaemin tidak kepikiran cara lain selain ini... mungkin?" Y/n mengerutkan kening, sekilas bola matanya bergulir ke atas. Dia menggoyangkan pelan bahu Haewon, "kau datang ya? Nanti aku berangkat bersamamu."
Haewon bersikeras menolak. "Tidak. Kau tidak boleh datang ke sana, apa pun alasannya."
"Aku tetap mau pergi."
"Kalau begitu kau pergi saja sana sendiri," balasnya dengan penolakan agak keras.
Padahal sama sekali tidak ada niatan menyuruh Y/n datang ke sana sendiri.
Dia akan membawa temannya itu ke mana saja saat hari-H. Yang paling penting harus menghindari tiga manusia yang paling berbahaya itu dulu.
"Ayolah temani aku," pintanya memelas, disertai bujukan yang membuat Haewon lebih iba, sehingga tidak ada pilihan selain mengiyakannya, "kan sudah tidak ada Hanbin yang bisa menemani aku. Masa kau meninggalkan aku sendiri, sih?"
Haewon menghela napas panjang.
Lagi-lagi kembali mengungkit perihal Hanbin.
Jika kembali menolak, perdebatan kecil ini tidak akan ada habisnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bondage » Dark Side Series
FanfictionDark Side Series WARNING! Rating 24+ Rape, Mature, Angst 🚫Not Children *** 10 tahun sudah berlalu sejak hari di mana dirinya menjadi korban pemerkosaan oleh tiga lelaki yang bahkan tidak begitu dikenalnya. Karena strata sosial yang tinggi. Ketigany...
