30.

420 49 6
                                        

Dokumen pasien yang bertumpuk, terlalu banyak pekerjaan yang agak tidak terurus karena masalah pribadi yang sulit dipisahkan. Meski secara garis besar ini mencangkup masalah temannya. Tapi Haewon rasanya tidak bisa untuk tidak ikut campur sesuatu yang memang keluar dari jalurnya sebagai seorang teman.

"Nuna. Aku sudah memanggilmu sebanyak 3 kali tapi kau tidak juga menyahut."

Yushi yang duduk berseberangan dengan Haewon –di mana ada meja kerja Haewon di tengah mereka-, berdecak kesal sampai mengerucutkan bibirnya karena kakak sepupunya itu tak kunjung merespon ucapannya.

"A-ah, iya, kenapa?" Haewon mendongak sesaat sebelum kembali berkutat dengan tulisannya.

"Teman nuna yang satu itu cukup aneh ya?"

Haewon mengernyit, "Maksudmu temanku yang juga temannya Yiren?"

Yushi belum mengiyakan, tapi Haewon langsung mencecarnya disertai kekehan geli. "Kenapa? Kau suka dengannya? Sudah kubilang calon suaminya itu seorang CEO dari perusahaan besar, begitu juga mantan kekasihnya. Kau yang kerjanya mendapatkan gaji tiap bulan, tidak setara dengan calon suaminya yang bisa menggaji puluhan ribu karyawan tiap bulan."

"Bukan yang itu!" pekik Yushi tak terima, "kalau yang itu sih memang gila! Maksudku, teman dekatmu itu yang mendiang ibu dari calon suaminya, pernah menjadi pasien di sini."

Haewon bergeming. Sejak tadi sedang mendoktrin pikirannya sendiri agar tidak berkelumit perihal Y/n, Yushi malah memancing membahas teman Haewon itu.

"Kenapa dengan Y/n?"

"Ah, iya, Y/n!" seru Yushi, dia menepuk tangannya sekali, "dia itu... bisa melihat hantu ya?"

Haewon segera menaruh pulpennya di jurnal yang sedang dia tulis. Dia menatap malas Yushi. "Tidak! Lagi pula tidak ada orang yang bisa melihat hantu juga. Kau terlalu banyak mengoleksi film horror sepertinya."

"Tapi gelagat dia sungguh aneh, nuna!"

"Aneh dari mananya, hah? Coba kau jelaskan, apa yang kau lihat sampai kau bisa berspekulasi bahwa temanku itu bisa melihat hantu."

Yushi berdesis agak bingung menjelaskan sudut pandangnya, lengkap dengan tangannya yang tidak bisa diam di atas meja Haewon seolah memperagakan lewat gerakan tangan.

"Nuna ingatkan waktu ibu calon suami teman nuna itu meninggal, aku juga ada di sana. Nah, aku tidak sengaja melihat teman nuna memandangi sudut lain yang tidak ada orangnya di sana, saat aku ketahuan tengah memperhatikannya, dia tersenyum padaku dengan tatapan kosongnya dan itu mengerikan! Lalu aku penasaran, aku ikuti saja dia, dan aku dengar dia berbicara sendiri!"

"Tidak ada orang yang bisa melihat hantu, Yushi," tegas Haewon, "kau hanya salah dengar."

"Sungguh, aku tidak bohong."

Keduanya saling beradu argument. Berbicara dengan tempo waktu yang sama, saling menyahuti satu sama lain, tanpa menunggu ada yang berhenti.

"Orang yang mengaku dirinya bisa melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain itu tanda-tanda punya penyakit kejiwaan..."

"Nuna, aku tidak mungkin salah dengar..."

"...dan itu salah satu ciri orang pengidap skizofrenia!"

"...dia menyebut nama Sung Hanbin!"

Haewon tersentak dan diam. Bukan karena Yushi ikut membentaknya, namun karena Yushi menyebut nama Sung Hanbin. Di mana Yushi tidak pernah tau tentang teman lelakinya yang mati dibunuh 10 tahun silam.

Kemudian otaknya menyusun cepat perbandingan sudut pandang dari Yushi dan kalimat yang sebelumnya dia ucapkan.

Haewon menggeleng pelan. Diambil kembali pulpen yang sebelumnya tergeletak di atas jurnal. "Y/n tidak bisa melihat hantu."

Bondage » Dark Side SeriesCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang