"Kau serius menyinggung tentang kode etik psikolog untuk mengambil teman mu itu dariku?"
Mendengar itu, Haewon yang tengah ingin menghabiskan espresso untuk mengisi perutnya, menaruh kembali gelas dalam genggamannya dan mengadahkan kepalanya pada wanita yang baru saja duduk di satu meja dengannya.
Tanpa menolehkan kepala, hanya menggunakan pandangan dia menulusuri taman belakang yang kebetulan tidak ada seorang pun selain mereka.
"Kau juga sebenarnya bisa saja menyangkal omonganku yang mengatakan kalau kau teman dekat Y/n sehingga kau yang menangani Y/n, Yiren."
Yiren tidak menemuinya di tengah keramaian. Di mana bisa saja obrolan mereka terdengar oleh orang lain yang membuat Haewon tidak lagi menangani temannya sendiri.
Namun Yiren malah menemuinya dalam kesunyian. Meyakinkan Haewon percakapan mereka berdua menyangkut persoalan pribadi.
Lebih tepatnya adalah Y/n dan Yiren.
Haewon yang menjadi orang serba tau di sini. Menyadari isi kepala Yiren yang penuh keinginan balas dendam terhadap Y/n, semenjak dokumen Y/n datang ke mejanya untuk dilakukan test kejiwaan demi kebutuhan hukum.
Semua ini tidak jauh dari Jeno yang mati secara tragis, atas campur tangan Y/n meski Gyuvin yang mengeksekusinya.
Dia mencondongkan wajahnya, membeli lemparan yang Haewon katakan. "Kau yakin ingin aku yang menangani Y/n?" Yiren tersenyum lebar, "dia ikut campur dalam pembunuhan Jeno. Dan kau tau seberapa gilanya aku menyukai Jeno. Tidak takut temanmu itu mati di tanganku?"
"Kau sudah bisa menjawab sendiri 'kan pertanyaan yang kau berikan padaku tadi?" Haewon tersenyum miring. "Psikolog tidak dianjurkan mendiagnosis atau menangani orang yang memiliki relasi personal dengan psikolog yang bersangkutan. Bagaimana kau mau menangani pasienmu kalau kau sendiri sangat membencinya?"
Yiren sama sekali tidak tergertak. "Aku tidak bilang jika aku ingin menangani Y/n."
Haewon mulai sadar tujuannya bukan untuk mengambil Y/n menjadi pasiennya dan mendiagnosis Y/n tidak terkena gangguan kejiwaan agar diadili hukum
"Terus saja menjadi tameng temanmu yang licik itu. Kau ingin menanganinya karena permintaannya 'kan?"
Tangan Haewon terkepal kuat di atas meja. Emosinya terpancing, tengah menahan diri agar tidak memberikan pukulan pada Yiren.
"Kalau aku tau dia membuat keputusan seperti ini. Aku memilih untuk memasukan dia langsung ke rumah sakit jiwa."
Bukti yang Y/n berikan padanya saat itu, adalah penutup pertemuannya dengan Y/n.
Temannya itu membuat tembok antara mereka yang tidak bisa Haewon rubuhkan dengan apa pun.
Terdengar kabar Gyuvin menikahi Y/n setelah kematian Jeno. Dan Haewon sebagai teman dekat Y/n, sama sekali tidak mendapatkan undangan.
Tanda tanya mulai bertebaran di kepala Haewon. dengan susunan puzzle yang perlahan lengkap.
Mengenai Y/n yang pernah berkata Haewon adalah orang yang paling sibuk setelah pernikahan Y/n. Kemudian singgungan Y/n yang bilang akan menikah dengan Gyuvin yang Haewon tanggapi sebagai candaan. Dan terakhir temannya itu memberitahu Gyuvin pelaku dibalik pembunuhan orangtua Y/n dan Hanbin.
Tapi otak Haewon terlalu dangkal untuk tau tindakan yang akan Y/n lakukan.
"Ekhm! Haewon nuna!"
Deheman yang diikuti panggil namanya. Mengintrupsi pembicaraan mereka.
Yushi yang tengah membawa dokumen dalam dekapannya melangkah ragu mendekati Haewon. "Nuna. Polisi sudah mengantar pasien baru ke sini, Kim Y/n sedang menunggu di ruangan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Bondage » Dark Side Series
FanfictionDark Side Series WARNING! Rating 24+ Rape, Mature, Angst 🚫Not Children *** 10 tahun sudah berlalu sejak hari di mana dirinya menjadi korban pemerkosaan oleh tiga lelaki yang bahkan tidak begitu dikenalnya. Karena strata sosial yang tinggi. Ketigany...
