27.

380 53 3
                                        

                Es krim dengan rasa vanilla meleleh dalam mulutnya, Y/n menggumamkan kata enak pada es krim pesanan Renjun itu.

"Mau tukar?" tawar Renjun, "kau 'kan paling suka rasa vanilla."

Y/n menggeleng kecil. "Aku sedang mau rasa coklat. Tapi mungkin waffle vanilla enak juga." Wanita itu menunjuk sebuah toko kue yang tercium harum makanan manis sampai keluar.

"Akan aku belikan yang banyak untukmu."

Renjun menggandeng tangan Y/n masuk ke toko kue tersebut. Y/n berada di belakangnya dan Renjun tetap menggenggam tangan Y/n.

Pria itu memesankan beberapa makanan manis dengan rasa yang tadi Y/n sebutkan. Sebelum akhirnya mereka duduk di salah satu meja yang masih kosong di sini.

"Bukankah harusnya kau sekarang bersama Jaemin?"

Y/n menaikan sebelah alisnya, menggoda Renjun. "Kau menyuruhku untuk lebih banyak waktu bersama kekasih sungguhanku, dari pada bersamamu?"

"Tentu saja tidak!" sahut Renjun, pria itu menghembuskan napasnya pelan, dalam beberapa saat mengalihkan pandangan ke jendela besar di sampingnya, "tapi 'kan biasanya kau lebih mengutamakan Jaemin dari pada aku. Padahal aku kekasihmu juga."

Berharap mendapatkan jawaban manis dari wanita di hadapannya, meski mungkin yang diucapkan adalah sebuah bualan.

Yang di dapati Renjun, malah sesuatu yang tidak ingin dia dengar.

"Memang seharusnya aku bersama Jaemin. Tapi tadi pihak RSJ tempat ibunya di rawat menelepon, kondisi ibunya sangat memburuk."

Omongan itu, ibarat semuah tamparan berbentuk gambaran nyata jika dirinya benar-benar berada pada opsi kesekian.

Tidak ada yang bisa Renjun katakan selain bentuk anggukan.

Toh dirinya sedang bersama Y/n. Dia tidak ingin ada nama lain yang masuk di tengah-tengah mereka.

Apa lagi nama kekasih Y/n itu.

"Eh? Jaemin?"

Renjun mendongak, penasaran saat melihat Y/n mengangkat panggilan telepon yang dia yakini adalah Jaemin.

Y/n tidak menspeaker panggilan tersebut, sehingga Renjun hanya mendengar apa yang Y/n ucapkan saja.

"Baiklah. Aku akan segera ke sana."

Setelahnya telepon di tutup, dan tanpa mempedulikan keberadaan Renjun, Y/n beranjak dari kursi yang dia duduki.

Renjun segera menahan tangan Y/n agar tidak menginggalkan tempat ini. "Aku masih ada di sini Y/n. Setidaknya kau menghargai keberadaanku di sini. Kenapa kau tiba-tiba mau pergi?"

"Ibu Jaemin meninggal. Aku harus ke sana."

"Kau ingin pergi begitu saja?"

Renjun tidak terima, sisi egoisnya mendominasi. Tidak sadar diri. Tidak sadar situasi genting juga.

"Lalu apa lagi memangnya? Aku harus menemui Jaemin, dia itu kekasihku."

Renjun menaikan oktaf suaranya. "Aku juga kekasihmu di sini. Berapa kali aku harus bilang itu?"

Y/n berdecak. "Aku harus pergi."

Renjun berdiri dari kursinya. "Kalau begitu aku juga ikut."

"Jaemin akan tau hubungan kita kalau aku datang bersama mu."

"Aku tetap mau ikut."

Y/n menggigit bibir bawahnya, dia menyisir helaian rambut panjangnya. "Ayo kita pergi sekarang."

Bondage » Dark Side SeriesCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang