38.

649 22 0
                                        

Prilly mengerjapkan matanya perlahan. Cahaya lampu ruangan yang remang-remang menusuk retinanya, membuatnya kembali memejamkan mata sejenak. Aroma antiseptik yang kuat menusuk hidungnya, bau khas rumah sakit yang selalu membuatnya tidak nyaman.

Ada rasa nyeri yang berdenyut di pergelangan tangannya, samar namun terasa nyata. Perlahan, keberadaan dirinya mulai kembali dia sadari. Dia terbaring di ranjang rumah sakit.

Kemudian, dia memberanikan diri membuka matanya sekali lagi, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya. Sosok pertama yang tertangkap oleh pandangannya adalah seorang pria yang duduk di sisi ranjang, menundukkan kepala dengan kedua tangan menggenggam erat.

Arhan, suaminya. Di belakang Arhan, berdiri seorang pemuda dengan raut wajah cemas yang kentara. Daniel, putra semata wayangnya, yang kini telah tumbuh menjadi pria dewasa.

Tampak beberapa sosok lain duduk dengan tenang namun tegang. Mereka adalah keluarga Arhan.  Semua mata tertuju padanya, menanti dengan berbagai ekspresi yang bercampur aduk antara khawatir dan dingin. Suasana ruangan terasa begitu berat dan mencekam.
Setetes air mata lolos dari sudut mata Prilly. Melihat Arhan dan Daniel, rasa sakit yang selama ini berusaha dia kubur dalam-dalam kembali menyeruak. Kilasan malam kelam itu kembali berputar di benaknya. Malam di mana semua kebohongan terkuak, malam di mana luka lama yang dia pendam bertahun-tahun kembali menganga lebar.

Dia ingat dengan jelas bagaimana Arhan dan Daniel menatapnya dengan penuh amarah dan tuduhan. Mereka menyalahkannya atas sesuatu yang bahkan tidak pernah dia pahami sepenuhnya.

Mereka menghakiminya tanpa memberinya kesempatan untuk menjelaskan, tanpa mau mendengarkan sisi ceritanya. Kata-kata pedas yang terlontar malam itu masih terngiang jelas di telinganya, menghancurkan hatinya berkeping-keping.

Ingatan itu begitu menyakitkan hingga Prilly kembali terisak tanpa suara. Arhan yang menyadari pergerakannya, segera mengangkat kepalanya. Matanya yang sembap bertemu dengan mata Prilly yang berkaca-kaca. Daniel pun mendekat, raut wajahnya menunjukkan kebingungan dan sedikit rasa bersalah.

"Prilly? Kamu sudah sadar?" tanya Arhan dengan suara parau, mencoba meraih tangannya yang terbalut perban.

Daniel berdiri di samping ayahnya, menatap Prilly dengan tatapan yang sulit diartikan. "Ibu... bagaimana keadaan Ibu?"
Prilly hanya menatap mereka berdua dengan mata kosong. Tidak ada emosi yang terpancar dari tatapannya, hanya kehampaan yang mendalam. Luka hatinya masih terlalu menganga, membuatnya tidak mampu merespons pertanyaan mereka. Dia merasa seperti jiwanya telah pergi, meninggalkan raga yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit ini.

Arhan mencoba menggenggam tangannya lebih erat, namun Prilly tidak memberikan respons apa pun. Matanya tetap terpaku pada satu titik, namun pikirannya melayang jauh ke masa lalu, ke masa-masa bahagia yang kini terasa begitu jauh dan mustahil untuk diraih kembali.

"Prilly, jawab aku," desak Arhan dengan nada khawatir. "Apa yang kamu rasakan? Apakah ada yang sakit?"

Prilly mengalihkan pandangannya perlahan ke arah Arhan, lalu ke Daniel. Tatapannya masih kosong, namun ada secercah tekad yang mulai muncul di balik matanya yang sayu. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya.

Dengan suara lirih namun sarat akan makna, Prilly akhirnya berucap, memecah keheningan yang mencekam di ruangan itu. "Pertempuran sesungguhnya akan dimulai."

Kata-kata itu bagai petir yang menyambar di siang bolong. Arhan dan Daniel terdiam membeku, saling bertukar pandang dengan raut wajah penuh kebingungan dan ketidakmengertian. Keluarga Arhan di sudut ruangan pun tampak terkejut.

Mereka semua merasakan ada sesuatu yang berubah dalam diri Prilly. Tatapan kosongnya kini digantikan oleh sorot mata yang dingin dan penuh tekad. Kata-kata yang baru saja dia ucapkan terdengar seperti sebuah deklarasi perang, sebuah janji bahwa badai yang selama ini mereda akan kembali menerjang dengan kekuatan yang lebih dahsyat.

Transmigrasi papa Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang