Sebenarnya Tuan Shim sudah merasa aneh saat Jaeyun tiba-tiba berubah menjadi lebih hangat pagi tadi. Itu sangat tidak biasa—bahkan dalam keadaan normal sekalipun.
Seharusnya dia sadar.
Bahwa perubahan itu mungkin tanda bahaya yang jauh lebih besar dari yang ia bayangkan.
“Kalian semua ke mana saja?! Jaga satu anak saja tidak becus. Cepat cari!”
Tuan Shim murka. Dua pengawal langsung berpencar. Para perawat ikut kalang kabut, tak luput dari amarahnya.
Tetesan darah di lantai. Ruangan kosong. Dan Jaeyun yang menghilang tanpa jejak.
Kepala Tuan Shim terasa ingin pecah.
"Kami harap Bapak bisa mempertimbangkan ini baik-baik. Luka fisik bisa ditangani dan terlihat jelas. Tapi trauma… pasien membutuhkan penanganan cepat."
Seharusnya Tuan Shim mendengarkan itu lebih awal. Seharusnya dia memberi Jaeyun kesempatan mencoba.
Penyesalan menekan dadanya. Kekhawatiran merayap pelan. Dia hanya ingin Jaeyunnya kembali.
Apa pun itu…
Tuan Shim berharap tidak ada hal buruk terjadi pada putranya. Dia berharap Jaeyun tidak memilih sesuatu yang menghancurkan dirinya sendiri.
Di tengah riuhnya kota, disisi lain dari gemalut dunia. Ada hembusan angin tenang yang perlahan meniup api. Dia menggoda, belayannya mencoba melenyapkan nyala yang hanya tinggal setitik.
Sedikit..
Terang yang hampir mati.
Jaeyun berdiri termenung menatap jalanan yang padat. Orang-orang berlalu lalang tanpa memperhatikannya.
Masih mengenakan baju rumah sakit, wajahnya pucat dengan lebam samar dan plester menempel di sana-sini. Bercak darah masih tersisa di hidungnya. Jaeyun mengusapnya pelan.
Di seberang jalan, sebuah bus baru saja berhenti.
Jaeyun ingin ke sana.
Kakinya melangkah begitu saja—tanpa memikirkan kendaraan yang melintas di sekitarnya. Pikirannya terasa memudar dalam kesunyian yang membutakan. Dia sendiri tak tahu apa yang dia tuju.
Bukan untuk pergi.
Bukan untuk mengejar bus itu.
Dia hanya ingin… berada di sana. Mencari rasa nyaman dari keberadaan yang ia rindukan.
“Oy! Shim Jaeyun.”
Suara itu terdengar jelas. Terlalu nyata. Disusul tawa renyah yang begitu ia kenal.
Jaeyun tersenyum.
Seperti hari-hari lalu—saat halte bus sekolah dipenuhi murid-murid, dan Heeseung berdiri di sana, tersenyum menunggunya datang.
Namun suara klakson memecah segalanya. Sebuah mobil melaju cepat ke arahnya.
Beruntung Jaeyun mundur tepat sebelum mobil itu hampir menghantamnya.
Dia berdiri mematung di tengah jalan. Orang-orang mulai berkerumun, menatapnya dengan campuran panik dan kesal.
Umpatan. Klakson berulang. Bisikan menghina.
Jaeyun menatap sekeliling. Dan akhirnya sadar—yang barusan ia lihat hanyalah kehampaan.
Tidak ada Heeseung di sana.
Dan saat ia menoleh ke belakang, di antara kerumunan itu. Jaeyun melihat Ayahnya berdiri. Menatapnya dengan wajah yang dipenuhi kesedihan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Return (Antagonis) || HEEJAKE
FanfictionHeeseung muak dengan peran protagonis yang dia jalani. Ketika kematiannya membawanya kembali ke masa lalu, Heeseung memutuskan untuk mengambil peran antagonis dan bersiap untuk membalaskan dendamnya pada Shim Jaeyun, pelaku utama dari kekerasan yang...
