CHAPTER 27

18 2 0
                                        

Sekian lama tidak menyapa cerita ini, akhirnya bisa kembali🥱
MAAF YA WKWWK
Selamat membaca ><

**
Saat tadi dirinya balik dari restoran, Khanza lebih memilih untuk diam tanpa bersuara karena mengingat ucapan pedagang tadi. Sebenarnya tidak masalah dengan hal itu, namun hanya saja rasa sakit hati yang ada di dalam benaknya membuat teringat kembali. Khanza memang sudah memaafkan suaminya, namun bila ia mendengar cerita dari orang lain membuat merasa dirinya tidak berguna sebagai seorang istri yang tidak tahu bagaimana suaminya selama di luaran sana.

Salah dirinya memang yang tiba-tiba datang di kehidupan seseorang yang belum selesai dengan masa lalunya. Dirinya hanyalah orang asing, sedangkan jika perempuan tersebut adalah orang lama yang sudah membuat pria itu jatuh cinta kepada-Nya. Meskipun rasa maaf dan menyesal sudah diucapkan oleh Davin, hanya saja sifat cemburu yang ada di dalam diri Khanza belum terlalu ikhlas.
Memaafkan memang mudah, hanya saja melupakan belum mudah. Memaafkan seseorang yang membuat diri sendiri luka adalah hal yang Khanza terima, tapi jikalau melupakan kesalahan orang yang membuat diri sendiri luka terlalu sulit menerima meskipun sebenarnya harus dipaksakan agar tidak merasa bersalah dan menyesal di kemudian hari. Tapi, salah kah jika dirinya cemburu?

Davin merasa aneh dengan istrinya yang begitu diam dari tadi. Dari awal mereka datang ke tempat pedagang memang Davin sudah menyiapkan diri jikalau nanti Khanza menanyakan hal ini. Tapi, Davin tidak ingin dirinya di diami Khanza yang notabene nya adalah istrinya sendiri. Meskipun dulu, Davin selalu cuek pada istrinya, belum bisa menerima sang istri, namun sekarang menerimanya dengan baik adalah hal yang harus ia biasakan sebagai kepala keluarga.

Perjanjian saat ijab qobul menandakan bahwa Davin berjanji kepada sang Maha Pencipta, dan kedua orang tuanya dan kedua orang tua istrinya, juga kepada orang-orang yang menjadi saksi. Perjanjian itu bukan menjadi suatu permainan, perjanjian yang menjadi rasa tanggung jawab kepada sang kepala keluarga.

Masih tidak percaya jikalau dirinya secepat itu menjadi seorang suami, dan memiliki istri yang sangat cantik dan lemah lembut dari pada mantan-mantannya yang selalu tebar pesona. Perasaan Davin saat memulai menerima Khanza ialah rasa peduli Khanza sebagai istri, mata yang selalu menatapnya dikala tidur, hidung mancung yang menjadi permainan baru bagi Davin dan tutur kata lemah lembut yang menjadi favorit Davin. Dibalik sifat nya, Davin baru menyadari bahwa jikalau Khanza ialah perempuan yang memiliki sifat emosian, perengat-perengut, dan lain-lain. Apakah itu sifat khas perempuan?

Setiba sampai nya di rumah, Davin melihat Khanza yang begitu sudah memasuki halaman rumahnya tanpa mengatakan hal satu kata membuat Davin menghela nafasnya. “Siap nggak siap, udah pasti dia marah.” Kata nya.

Setelah melepaskan helm, Davin pun langsung memasuki halaman rumahnya. Ia melihat Khanza yang sudah duduk di sofa dengan remot tangan yang ia genggam. Davin pun mendekat dan Khanza mulai menggeser posisi duduknya dikala sadar bahwa suaminya mendekatinya. Tak ada suara, hanya suara pemeran yang ada dalam televisi.

Davin menurunkan rasa gengsi nya demi sang istri yang sedari tadi diam tanpa bersuara pada nya setelah beli sesuatu di pedagang yang menjadi langganannya. Memang dirinya salah, tetapi yang lebih salah itu sang pedagang yang tiba-tiba membuat istri nya cemberut dari tadi. Perkara masa lalu sudah pasti akan dibahas terus, pikir Davin.

Davin mendekat dan memegang tangan Khanza yang sebenarnya Khanza berusaha melepaskan nya, namun tenaga Davin dengan tenaga Khanza berbeda jauh, ya lebih besar dengan tenaga Davin dari pada tenaga Khanza!

Davin memegang dan berlutut membuat Khanza tersentak kaget, “Kenapa kakak harus melakukan hal ini?” tanya Khanza menatap sang suami.

Davin tersenyum, jika perempuan itu bersuara berarti perempuan itu tidak marah padanya. “Maafin aku, ya?” ucapnya penuh dengan mohon. Tutur bahasa yang sebelumnya gue-lo menjadi aku-kamu dan itu berkat sang istri yang sudah memulai membuat Davin belajar dari kesalahannya.

Khanza tetap masih bingung, ia pun bersuara. “Kak, kenapa minta maaf? Jangan lakukan hal kek gini, Khanza tidak pantas!”

“Za, kamu pasti kesal kan, sama aku? Aku tahu, aku salah. Tapi abang-abang pedagang tadi yang salah. Harusnya nggak usah bahas masa lalu depan istri aku,” kata Davin dengan menggunakan bahasa lembutnya. Ternyata pria itu kalau lagi merajuk dan lagi mode bayi lebih lucu.

Ah, seperti nya pria itu melakukan hal seperti ini sudah sering dan akan melakukan kesalahan nya kembali. Kata-kata yang biasa dikeluarkan menjadi rasa takut sebenarnya bagi Khanza.

Khanza tetap bingung. “Kenapa kakak nyalahin abang-abang nya? Bukannya kakak yang udah langganan sama pedagang itu? Dan — sama kekasih kakak pula,” pertanyaan itu membuat Davin terdiam. Toh, salah dirinya yang dulu terlalu jauh dari sang istri yang selalu mendiami sang istri.

“Za, iya aku salah! Tapi, aku minta maaf. Aku di ajak ke tempat itu, karena Nanda yang mengenali tempat itu.”

“Oh, jadi, kakak balik ke tempat itu, karena ingat Kak Nanda? Hebat banget, harusnya sih kenalin ke tempat baru yang belum kakak coba sama masa lalu kakak.” Ujar Khanza.

Davin hanya diam, iya dirinya memang salah. Alasannya balik ke tempat itu bukan mengulang masa lalunya, ia ingin mengenali tempat itu bahwa tempat itu cocok untuk mereka berdua meskipun dulu ia pernah ke tempat itu bersama masa lalunya. Sang mantan yang sekarang menjadi musuh dendam bagi Davin.
Karena wanita itu membuat rumah tangga nya hancur seketika. Yang seharusnya tubuhnya hanya di pegang oleh sang istri malah di pegang oleh orang lain. Untungnya, Davin langsung sadar dan mencari istrinya untuk mengobati obat racun yang diberikan oleh mantan kekasihnya itu.

Mereka berdua masih tetap dengan pendiriannya. Khanza yang sedari tadi melihat televisi menjadi terganggu oleh kehadiran sang suami yang tiba-tiba datang langsung berlutut. Sifat kesalnya menjadi berubah tidak enak hati kepada sang suami. Tapi tetap aja itu salah suaminya sendiri yang sedari dulu banyak sekali kesalahan yang membuat Khanza selalu beristighfar. Impian yang dulu ingin memiliki suami Sholeh, tampan, dan tentu dari pesantren, tetapi impian itu hanya rencana yang ada di otaknya. Siapa sangka, kriteria jodohnya tidak ada yang ada di dalam diri Davin. Ada sih, dan itu tampan. Khanza akui memang suaminya sangat tampan tetapi dibalik tampan nya selalu narsis, manja, dan tidak romantis!

“Kamu masih marah ya?” tanya Davin pelan.

Khanza langsung menggeleng, namun tiba-tiba Davin langsung menyerobotnya. “Tapi wajahnya di tekuk, cemberut gitu, terus aku di cuekin.” Dumel Davin membuat Khanza menahan ketawanya.
“Salah kalau aku cuek? Dulu, kamu juga cuek kan sama aku?”

Pertanyaan itu membuat Davin merasa bersalah lagi.

“Kenapa harus bahas sih?!” Davin langsung menghadap ke arah lain dan mulai duduk di posisi sofa yang hanya di khususkan satu orang itu.

Khanza tersadar dengan suaminya yang sudah menjauh. Jadi, disini siapa yang marah?

Khanza langsung menaruh remote tv dan langsung mendekatkan diri nya dengan Davin. Ia langsung memeluk dari belakang dan berbisik di telinga kanan Davin. “Aku udah nggak marah, selagi kamu nggak mengulang kesalahan lagi. Kalau memang kamu mau bawa aku ke tempat yang sudah kamu kunjungi dengan mantan kamu, tolong jangan bahas lagi. Harusnya tadi kamu bela aku depan pedagang aku. Bukan diam aja! Tapi nggak apa-apa, aku nggak marah. Aku kan kuat!”

Davin tetap diam mode mendengar dari belakang.

Namun Khanza lagi-lagi menggodanya dengan memeluk pinggang milik Davin. “Udah, ya, sayang, jangan marah. Aku udah maafin kamu, sekarang kamu boleh peluk aku selagi kamu butuh. Kita buka lembaran baru, dan jangan pernah mengulang kesalahan lagi. Oke sayang?”

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 09, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

HIJRAH, CINTA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang