Hi!
Kebetulan nih, hari ini tepat satu tahun sejak cerita ini diupload di wp loh.
Wah, ga terasa setahun berlalu gitu aja.
Kalian apa kabar? Moga baik² aja semuanya ya!
Jadi, bab spesial ini sengaja aku tulis sebagai hadiah kecil buat kalian yang udah pernah baca, komen, vote, bahkan beli novelnya. Pokoknya buat yang selalu suport lah! 😁
Sebelum baca bab ini, kalian boleh baca ulang bab 11, karena ini adalah kelanjutan dari bab itu yang dulu banget sengaja aku potong karena menurutku kepanjangan. Wkwk.. baru beberapa hari kemarin aja aku ngide untuk ngelanjutin draftnya.
Ya... semoga kalian suka ya! Lumayan kan ngobatin kangen ke Salisa-Ronald. Hihi..
Happy reading! 💙
***
Sesampainya di area outdoor, Salisa bisa sedikit bernapas dengan lega. Hamparan rumput hijau dan langit yang sedikit mendung mampu meneduhkan penglihatan juga perasaan di hatinya yang sempat kesal akibat kelakuan iseng sang adik.
Tapi tak dipungkiri, dalam hati Salisa juga bersyukur Shaga si iseng itu memilih venue yang bagus untuk acara pertunangannya. Area outdoor yang memiliki playground ini cocok sekali untuk acara keluarga besar, terutama yang mempunyai banyak anak kecil. Tentu saja ini juga keuntungan bagi Salisa yang bisa melarikan diri kemari, menjauh dari keramaian yang terkadang sangat menyesakkan.
Ck!
Salisa berdecak pelan. Siapa sangka si bungsu di keluarganya yang masih sangat kekanak-kanakan itu, hari ini resmi bertunangan dengan sang pujaan hati. Siapa sangka juga tunangannya Shaga, Yejia, ternyata berteman dengan Ronald. Laki-laki yang belakangan ini, secara kebetulan, sering bersinggungan dengannya.
Mulai dari pertemuan mereka di depan butik Salena, bertemu lagi di acara arisan nyentriknya Nova, kemarin di mal, hingga hari ini.
Wow, dunia sangat sempit, ternyata.
"Adela, jangan lari-lari, Nak!" seru Salisa memperingati anak gadis berusia sepuluh tahun. Matanya bergerak khawatir melihat gadis itu berlari sangat kencang ke arahnya.
"Onty, Mas Saka ngejar-ngejar Dela terus!" adunya lalu bersembunyi di balik tubuh tinggi Salisa begitu melihat Sakala sudah berada di dekat mereka.
"Mas Sakala, udah dong. Kasihan Adelanya udah cantik-cantik jadi keringetan begini." Salisa mengelap tetesan keringat yang membasahi wajah anak pertama dari Salena itu dengan tisu yang ia ambil dari pouchnya.
"Dela tadi gangguin Mas Saka, jadi ya Mas Saka kejar, Onty," protes Sakala, anak pertama dari Satya yang lebih tua setahun dari Adela. Tak kalah dari Adela, wajah Sakala juga dibanjiri oleh keringat. Jas krem anak berumur sebelas tahun itu sudah lepas, meninggalkan kemeja putih berlengan panjang yang kedua lengannya sudah tergulung separuh.
Salisa melakukan hal sama pada anak pertama dari Satya itu, mengelap keringat dengan tisu persediaannya.
"Ayo yang akur dong anak-anak kesayangannya Onty. Jangan iseng, jangan lari-larian. Kalau jatuh gimana?" Salisa mencoba menasihati keduanya yang terkadang memang suka saling menjahili.
"Iya, Onty," jawab mereka berdua serempak, gemas sekali. Kedua anak itu kini saling bersalaman dan sudah akur kembali. Sakala bahkan membantu merapikan poni Adela yang berantakan.
Salisa tersenyum melihat pemandangan menggemaskan itu. Sungguh, anak-anak dari kedua saudaranya itu sering memberi senyuman di wajahnya, serta kebahagiaan di hatinya. Mereka adalah pelipur lara dalam kehidupan monoton menyedihkan yang selama ini ia jalani. Salisa sudah menganggap mereka seperti anak sendiri.
Lalu, "Om Ronald!" Abbas, anak kedua Salena, tiba-tiba saja muncul entah dari mana dan memanggil nama Ronald dari arah belakang Salisa.
"Babas, kok om! Teacher Ronald, nggak sopan kamu, Dek," tegur Adela kepada adiknya yang masih berusia lima tahun. Lihat lah ekspresi judesnya itu. Galak sekali.
KAMU SEDANG MEMBACA
(IM)POSSIBLE
FanfictionSalisa Amira wanita mandiri berusia 32 tahun, direktur dari sebuah perusahaan manajemen artis dan pengelola bakat bernama SA Agency. Ekspresi datar, dingin, dan tegas adalah image yang Salisa bangun sejak dirinya bercerai dari mantan suaminya lima t...
