Ronald bingung melihat perubahan mood yang terjadi pada Salisa ketika mereka membahas soal beasiswa Ronald di gazebo tadi siang. Padahal tadinya perempuan itu masih sangat antusias mau mendengarkan ia bernyanyi. Sampai Ronald bertanya-tanya pada dirinya sendiri mungkin kah ia ada salah bicara, tapi apa?
Ronald yang tadinya juga ingin beristirahat sebentar alias tidur siang malah uring-uringan tidak jelas di sofa ruang tamu sendirian ketika yang lain pada di kamar masing-masing. Ia masih terus memikirkan kenapa tiba-tiba Salisa terlihat sangat kesal tadi.
Hingga sore pun Ronald masih belum bisa memejamkan matanya. Menghidupkan TV malah dianggurin. Memainkan gitarnya juga malas-malasan. Main games diponselnya juga kalah terus, semakin membuat mood-nya berantakkan. Terakhir yang Ronald lakukan adalah mencuci piring dan gelas kotor bekas tadi mereka makan siang. Sebenarnya tidak perlu dicuci karena nanti juga akan ada petugas dari villa yang menjemput semuanya. Tapi karena hatinya sedang tidak enak Ronald melakukan itu sebagai bentuk pengalihan dari kekalutannya.
Ronald baru selesai membilas gelas terakhir dan menelungkupinya di rak lalu membersihkan dan mengelap wastafel tempat cuci piring agar tidak terlalu basah karena piring kotor yang ia cuci ternyata cukup banyak. Ronald begitu serius dengan pekerjaannya sampai ia tidak sadar ketika membalikkan tubuhnya sudah ada Salisa yang berdiri di dekat meja makan, memandanginya dengan tatapan yang sulit dibaca. Aura Salisa kembali seperti awal-awal mereka baru bertemu, dingin.
Ronald membuang nafasnya pelan. Sudah pasti alasan Salisa kesal adalah dirinya. Dan Ronald tidak bisa kalau seperti ini. Ia harus bertanya apa yang menjadi masalah dan ingin segera menyelesaikannya.
"Ngobrol di luar aja yuk, Mbak." Ajak Ronald.
Meskipun masih menatap lekat Ronald dan tidak menjawab apapun, Salisa menurut dan berjalan ke luar menuju teras samping. Ronald menyusul di belakangnya lalu ikut duduk di kursi teras. Sekarang posisi keduanya duduk menghadap kolam renang hanya dipisahkan oleh meja bulat kecil yang berada di tengah-tengah mereka.
"Mbak marah sama aku?" Tanya Ronald langsung tanpa basa-basi. "Aku ada salah apa?"
Dilihatnya Salisa masih duduk diam, menatap ke arah kolam renang. Ekspresi Salisa tampak berubah-ubah, seperti sedang menghadapi pikiran yang berkecamuk. Pada akhirnya perempuan itu menghela nafasnya panjang dan menoleh ke arah Ronald.
"Sebenarnya aku nggak ada hak untuk marah, sih. Nggak tahu kenapa aku kesal aja tadi waktu Felix bahas soal beasiswa kamu, tapi aku nggak tahu soal itu. Ya, nggak penting juga sih aku harus tahu. Emangnya aku siapa? Tapi bukannya kita udah berteman ya? Katanya kemarin apapun itu harus saling cerita. Ah, mungkin aku bukan tipe teman yang terlalu penting untuk mengetahui soal beasiswa itu. Ya, oke sih, nggak masalah." Jelasnya panjang lebar dengan sedikit terengah. Sikapnya masih dingin mengalahi udara Puncak.
Ronald mengusap wajahnya pelan. Ternyata itu yang menjadi penyebab kekesalan Salisa. Haruskah ia menyalahi Felix soal ini? Sahabatnya itu yang tadi memulai pembahasan soal beasiswa, kan? Ronald sendiri bahkan hampir lupa soal itu karena ia sedang dalam mode menenangkan diri setelah sidang sempro-nya beberapa hari yang lalu.
"Maaf ya, Mbak. Aku sendiri jujur hampir lupa soal itu. Karena baru aja selesai sempro kemarin, memang sengaja mau menenangkan diri minggu ini, kan kita juga udah planning mau liburan kemari, jadi ya aku mikirnya mau healing aja dulu. Belum mau mikirin yang bikin mumet pikiran. Yang baru tahu soal beasiswa itu juga Felix, Ryu dan Yejia karena mereka berada di tempat waktu itu." Jawab Ronald dengan jujur.
"Kalau sekiranya Mbak merasa nggak adil, aku pun belum ada bahas masalah beasiswa ini dengan keluargaku. Dan mereka orang-orang penting dalam hidupku, kan?" Kata Ronald lagi, mencoba memberi pengertian pada Salisa agar dia tidak menganggap bahwa dirinya tidak penting bagi Ronald.
KAMU SEDANG MEMBACA
(IM)POSSIBLE
FanfictionSalisa Amira wanita mandiri berusia 32 tahun, direktur dari sebuah perusahaan manajemen artis dan pengelola bakat bernama SA Agency. Ekspresi datar, dingin, dan tegas adalah image yang Salisa bangun sejak dirinya bercerai dari mantan suaminya lima t...
