21. Liburan Ke Puncak

2.3K 261 27
                                        

Perjalanan ke Puncak di hari Sabtu ini dibagi menjadi dua mobil. Di Mobil Shaga ada Yejia, Nova dan Salisa. Mobil satunya lagi ada Felix, Nayla, Ryu dan Ronald. Setelah menjemput masing-masing penumpang, kedua mobil itu berjanji untuk ketemu di pintu masuk tol yang akan mereka lewatin menuju Puncak. Sesuai jadwal yang sudah mereka semua sepakati, tepat pukul 9 pagi kedua mobil sudah memasuki jalan tol. Mereka sengaja pergi pagi agar terhindar macet apalagi ini adalah hari pekan. Lagipula mereka ingin cepat tiba di sana agar waktu liburan mereka yang cuma sehari itu bisa terasa sedikit lebih lama.

Kurang lebih satu setengah jam menempuh perjalanan, syukurnya lancar tanpa drama macet, akhirnya mereka semua tiba di villa yang biasa disewa oleh keluarga Felix dan Nayla.

Aroma basah dan wangi pohon pinus langsung menyenggol penciuman Salisa begitu ia keluar dari mobil. Suara air sungai yang mengalir deras mengalun indah menenangkan jiwanya. Udara puncak yang dingin memberikan sensasi kesejukan di tubuh Salisa. Sudah lama sekali rasanya ia tidak merasakan suasana alam seperti ini.

Salisa sedikit meregangkan tubuhnya, baru ia sadari sudah lama ia tidak menempuh perjalanan ke luar Jakarta jalur darat dan lumayan bikin pegal juga duduk selama hampir dua jam di mobil padahal ia tidak menyetir.

Saking asiknya melihat pemandangan sekitar villa yang menyegarkan mata Salisa tidak menyadari kalau yang lain sudah pada menurunkan barang bawaan mereka bahkan sudah masuk ke dalam villa. Salisa pun bergegas menuju mobil Shaga dimana sang empu masih mengeluarkan barang bawaan dari bagasi mobilnya.

"Loh, tas gue mana, Ga?" Tanya Salisa, heran melihat tas berisi pakaiannya tidak ada di bagasi.

"Udah dibawa sama Ronald tadi." Jawabnya santai. "Lo keasyikan melamun sih."

"Siapa juga yang melamun? Gue ngelihatin pemandangan dari tadi." Protes Salisa.

"Bawel!" Seru Shaga dengan tampang songongnya yang rasanya ingin sekali Salisa tonjok.

"Nih, bawain ini!" Shaga meletakkan satu tas berisi makanan dan minuman ringan yang sudah mereka persiapkan dari semalam ke tangan Salisa begitu saja. Untung cepat ia tangkap dengan kedua tangannya, kalau tidak alamat jatuh ke tanah.

"Resek banget lo, Ga! Tolong ya gue mau healing, jadi jangan ganggu kedamaian gue hari ini." Ujar Salisa sambil melengos pergi meninggalkan Shaga yang masih sibuk entah mengurusi apa di mobilnya.

Salisa berjalan menaiki tangga menuju pintu masuk villa. Ketika hampir sampai di pintu Salisa berpapasan dengan Ronald. Laki-laki itu tanpa diminta langsung mengambil tas yang dibawa oleh Salisa.

"Biar aku aja Mbak yang bawain." Belum sempat Salisa protes Ronald sudah masuk kembali ke dalam villa.

Villa yang mereka tempati ukurannya besar dan luas. Ada dua lantai dan lima kamar tidur, dua di lantai satu dan tiga lagi di lantai atas. Di lantai satu ada living room yang sangat luas lengkap dengan TV dan peralatan untuk berkaraoke serta dapur dan ruang makan yang langsung menghadap teras samping dan kolam renang.

Begitu Shaga sudah bergabung dengan mereka, Felix mengajak semua berkumpul di ruang tamu untuk pembagian kamar.

"Karena di bawah kamarnya cuman dua, jadi kita yang cowok-cowok di sini aja. Yang cewek-cewek di atas ya karena kamarnya ada tiga. Pembagian kamarnya terserah aja, senyamannya kalian."

Semua mengangguk setuju.

"Kita sekamar ya, Ye!" Kata Ryu yang dibalas anggukan oleh Yejia.

"Aku sama kau lah, Sal." Kata Nova.

"Jadi Nayla sendiri?" Tanya Salisa kepada Nayla.

"Oh iya!" Nova menepuk jidatnya.

"Nggak apa-apa Bu Sal, Bu Nov. Saya sendirian juga nggak masalah." Kata Nayla dengan senyumnya yang menenangkan itu.

(IM)POSSIBLECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang