SELAMAT MEMBACA SEMUANYA SEMOGA SUKA YAH... JANGAN LUPA KOMENNYA...
___________________
"Berhubung kita semua udah selesai makannya, kalau begitu lebih baik sekarang kita akan bahas perjodohan kalian," ucap Ayah Aran tiba-tiba, yang membuat jantung Marsha berdetak semakin cepat.
Marsha merasa terkejut dan sedikit panik mendengar pernyataan Ayah Aran. Ia memandang Fiorenzo yang duduk di sebelahnya, dan melihat bahwa Fiorenzo juga terlihat sedikit terkejut.
"Perjodohan?" tanya Marsha dengan suara yang sedikit bergetar.
Ayah Aran mengangguk. "Ya, kita sudah membicarakan ini sebelumnya bukan, om dan papi kamu udah sepakat bahwa kalian berdua akan di jodoh kan lagi pula kalian itu pasangan yang cocok," katanya dengan nada yang serius.
Marsha merasa semakin panik dan tidak percaya. Ia belum siap untuk membahas perjodohan, apalagi dengan seseorang yang baru saja dikenalnya. Ia memandang Fiorenzo lagi, berharap ada tanda-tanda bahwa Fiorenzo juga tidak setuju dengan rencana ini. Namun, Fiorenzo hanya diam dan menunduk, tidak memberikan reaksi apa pun. Fiorenzo malah sibuk dengan HP yang di gengam sedari tadi.
Marsha merasa semakin frustrasi melihat Fiorenzo yang tidak memberikan reaksi apa pun. Ia berharap Fiorenzo bisa menjadi sekutu untuk menolak rencana perjodohan ini, tapi Fiorenzo sepertinya tidak peduli. Ferrel yang diam saja juga membuat Marsha merasa kesal, karena ia berharap Ferrel bisa memberikan dukungan moral.
"Pi,mih,om,tan,sebelumnya aku minta maaf,karena aku ngak tahu apakah aku sudah siap untuk perjodohan ini," kata Marsha dengan suara yang sedikit bergetar. "Aku dan Fiorenzo juga baru saja bertemu, dan aku tidak tahu apakah kita cocok untuk dijodohkan."
Ayah Aran, bunda chika, papi gracio, mami shani, fiorenzo dan ferrel yang mendengarkan ucapan marsha seketika mereka semua memandang dengan wajah yang heran dan sedikit terkejut.
Karena bagaimana marsha bisa berpikir bahwa lelaki yang akan di jodoh kan dengannya adalah fiorenzo. Sedangkan yang berhubungan selama ini dengannya adalah ferrel.
Suasana ruang tamu langsung hening. Tatapan semua orang tertuju pada Marsha, membuat dadanya semakin sesak. Fiorenzo hanya mengangkat alisnya, ekspresi wajahnya datar seolah tidak merasa keberatan ataupun tersinggung.
“Marsha sayang…” suara Papi Gracio terdengar berat, “kamu pikir yang dijodohkan denganmu itu Fiorenzo?”
Marsha menunduk, jari-jarinya menggenggam ujung roknya erat-erat. Ia tidak berani menatap ke arah siapa pun saat ini.
Bunda Chika saling pandang dengan Mami Shani, keduanya terlihat bingung sekaligus khawatir. Ayah Aran menghela napas pelan, mencoba memecah ketegangan.
“marsha… mungkin kamu salah paham di sini.”
Marsha mendongak cepat, matanya berkaca-kaca. “Salah paham? Tapi… bukankah yang dimaksud Papi dan yang lain itu adalah Fiorenzo?”
Fiorenzo langsung tersenyum miring, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan santai. “Lucu juga,yah calon tunggangan lu rel, ternyata gw dianggap sebagai calon tunangannya . Padahal gw cuman mau nemani saudara gw doang untuk membahas pertunangannya.”
Deg. Hati Marsha seperti diremas. Pandangannya beralih ke Ferrel yang sejak tadi diam membisu.
“F-ferrel…” suara Marsha bergetar, penuh campuran kecewa dan cemas. “Jadi… kamu?”
Ferrel akhirnya menatap Marsha. Namun tatapan itu bukan tatapan bahagia, melainkan serius dan penuh beban. Ia menghela napas panjang sebelum menjawab, “Iya, cha. Akulah orang yang sebenarnya dimaksud. Dari awal… akulah yang Papi Gracio dan yang lain bicarakan.”
Marsha terbelalak, tubuhnya menegang. Ia merasa seluruh dunia berputar. Sementara semua orang masih terdiam, menunggu reaksi Marsha.
Degupan jantung Marsha semakin kencang. Kata-kata Ferrel tadi seperti pisau yang menusuk langsung ke dadanya. Ia menatap Ferrel dengan mata berkaca-kaca, bibirnya bergetar menahan gejolak yang campur aduk.
“Jadi… selama ini… kamu udah tahu rel?” suara Marsha lirih, namun cukup untuk membuat semua orang terdiam lagi.
Ferrel menunduk, tidak sanggup menatap mata Marsha. “iya cha aku udah tahu beberapa waktu lalu… dan aku…” ia terhenti, seolah kehilangan kata-kata.
Marsha tertawa hambar, penuh getir. “Kamu diam aja? Kamu biarin aku salah paham, mikir kalau yang dijodohin itu Fiorenzo? Kamu biarin aku terus berharap kalau kamu bakal bela aku di depan semua orang? Dan tadi sore itu juga kamu udah buat aku sakit hati tau ngak dengan ucapan mu yang tiba-tiba dan sekarang...”
Air mata mulai jatuh di pipinya. Tangannya gemetar, ia berusaha menghapusnya cepat-cepat tapi justru semakin deras.
“Marsha sayang…” Papi Gracio mencoba menenangkan, tapi Marsha mengangkat tangan, menolak.
“Enggak, Pi! Aku cuma mau tahu satu hal… Ferrel, kenapa kamu nggak bilang dari awal? Kenapa kamu biarin aku merasa sendirian? Dan kenapa kamu sampai lakuin hal tadi sore itu!” suaranya pecah di akhir kalimat.
Ferrel terdiam. Hatinya jelas tersiksa melihat Marsha menangis, tapi lidahnya kelu.
Fiorenzo menoleh dengan ekspresi datar, tapi di balik matanya ada sedikit rasa kasihan. Ayah Aran dan Bunda Chika saling bertukar pandang, bingung harus turun tangan atau membiarkan mereka menyelesaikannya.
Marsha memeluk dirinya sendiri, seakan mencoba bertahan dari hantaman kenyataan. “Aku nggak tahu lagi harus percaya sama siapa…” bisiknya lirih, nyaris tak terdengar.
Ferrel mengepalkan tangannya erat-erat di atas lutut. Hatinya bergejolak, wajahnya penuh penyesalan saat melihat Marsha yang menangis di hadapannya.
“cha…” akhirnya Ferrel bersuara, pelan namun tegas. “Aku diam… bukan karena aku nggak peduli. Tapi karena aku pengen kasih kejutan ke kamu.”
Marsha menoleh cepat, matanya merah karena tangisan. “Kejutan? Kamu pikir aku bisa terima semua ini sebagai kejutan, Rel? Udah aku bilang yang tadi aku gak suka kalau kamu kaya gini sama aku. ”
Ferrel menelan ludah, lalu melanjutkan. “Aku tahu ini mungkin cara yang salah… tapi aku cuma pengen kamu tahu kalau keseriusanku itu nyata. Aku nggak mau kita cuma sekadar pacaran yang nggak jelas arahnya. Aku mau bawa hubungan kita ke langkah yang lebih serius, cha.”
Marsha terdiam, tubuhnya gemetar menahan emosi. Air matanya terus mengalir, sementara hatinya berkecamuk antara sakit hati dan terharu.
“Aku ngerti kalau kamu ngerasa dikhianati sama diamku, dan kelakuan satu harian ini” lanjut Ferrel dengan suara bergetar. “Tapi percayalah, setiap keputusan yang aku ambil… selalu ada kamu di dalamnya. Aku cuma pengen bikin semuanya resmi, biar semua orang tahu kalau aku nggak main-main sama kamu.”
Suasana ruangan benar-benar sunyi. Semua orang menahan napas, tidak ada yang berani menyela.
Marsha akhirnya menggeleng pelan. “Tapi kenapa, Rel… kenapa caranya harus kayak gini? Kenapa harus bikin aku salah paham, bikin aku ngerasa nggak ada yang di pihakku?” suaranya pecah, antara marah dan sedih.
Ferrel menatapnya dalam-dalam, penuh rasa bersalah. “Karena aku takut, cha… takut kalau aku bilang lebih awal, kamu bakal menolak mentah-mentah sebelum sempat ngerti maksudku.”
"Mana mungkin cha cha nolak kalau lu bilang langsung ferrel" Author.
"Yah mana gw tau Thor" Ferrel
"Eh, ferul masalahnya si Marsha itu juga udah cinta mati sama lu ngak mungkin dia nolak lu" Author
"Yaudah sih Thor, udah terlanjur, lebih baik lu lanjut aja ceritanya ngak usah banyak bacot, dan satu lagi Thor lu jangan lama-lama up, ngak kasihan apa sama pembaca setia lu nungguin lama lu up" Ferrel
"Aduh dia ngomong apa yah author ngk dengar... Lebih baik kabur🏃🏃♀️🏃" Author
Skip lanjut di BAB SELANJUTNYA....
#TBC...
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA....
KAMU SEDANG MEMBACA
Perjodohan [ fresha]
Não Ficção*seorang yang di jodohkan orang tuanya akan tetapi dia menolak perjodohan itu karena dia takut tidak dapat melanjutkan cintanya kepada seseorang. * * * * * " gue ada pantun nih temen - temen baca ya" * pergi ke pasar membeli merica ...
![Perjodohan [ fresha]](https://img.wattpad.com/cover/380104769-64-k129857.jpg)