BAB 59

310 25 0
                                        

Selamat memabaca....

### Keesokan paginya...

Matahari baru saja naik, menyinari halaman sekolah yang mulai ramai.
Suasana tampak biasa — tawa teman-teman, langkah sepatu, dan suara bel pagi — tapi bagi tiga orang, hari ini akan menentukan segalanya.

**Ferrel** duduk di bangku belakang taman sekolah, tempat favoritnya sejak dulu. Di tangannya ada **flashdisk kecil** berwarna hitam yang baru saja diberikan **Flora**.

> “Aku nemu ini di tas marsha tadi,”
> kata Flora lembut, suaranya dibuat seolah tanpa beban.
> “Aku nggak tahu isinya apa, tapi nama foldernya... *Marsha_Lama*.”

Ferrel menatap benda kecil itu dengan rasa penasaran bercampur ragu.
“Kenapa kamu kasih ini ke aku?”

Flora tersenyum samar. “Karena kamu berhak tahu semuanya, Rel. Aku cuma nggak mau kamu dibohongi lagi.”

Ferrel diam. Pikirannya berputar cepat. Semalam, ia sempat bermimpi — wajah Marsha muncul sambil menangis, memohon sesuatu yang tak ia pahami.
Sekarang, kenyataan malah menuntunnya ke sesuatu yang mungkin bisa menjelaskan semuanya.

---

### Di kejauhan...

Dari belakang gedung laboratorium, **Marsha** memperhatikan mereka lewat layar kecil di ponselnya — ia berhasil menyadap kamera sekolah semalam lewat jaringan Wi-Fi yang sama dengan komputer guru.

Ia menggigit bibir bawahnya. “Flashdisk itu... mereka beneran mau pakai.”

Tangannya gemetar di atas tombol *record*, merekam semua gerak-gerik Flora.
Namun tiba-tiba, dari earphone kecil yang ia pakai, terdengar suara serak seorang pria.

> “Lo pikir bisa menang cuma dengan ngintip dari jauh, Sha?”

Marsha tertegun. Ia langsung mematikan sambungan, tapi suara itu sudah cukup untuk membuatnya sadar — **Gilang tahu dia sedang memantau.**

“Dia... nyadarin gue,” gumamnya dengan nada tegang.

---

### Kembali ke taman...

Ferrel akhirnya menancapkan flashdisk itu ke laptop sekolah yang ia pinjam dari ruang multimedia.
Flora berpura-pura sibuk membuka buku, tapi matanya memperhatikan layar itu tanpa berkedip.

File pertama bernama **“Rekaman_Marsha_2019.mp4”**.
Ferrel membuka.

Di layar, muncul video lama: **Marsha** sedang marah dan berteriak di depan seseorang (yang wajahnya tak terlihat).

> “Kamu pikir aku butuh kamu?! Aku cuma manfaatin kamu, Ferrel!”

Ferrel membeku.
Kata-kata itu menghantam keras ke kepalanya. Ia mundur sedikit dari layar, menatap Flora dengan tatapan yang penuh luka.
“Itu... itu aku?”

Flora menunduk pelan. “Aku juga kaget waktu liat. Tapi... mungkin ini bukti kenapa kamu dulu ninggalin dia.”

---

### Di saat yang sama...

Marsha menatap layar ponselnya dengan mata melebar.
Video itu—ia tahu video itu palsu.
Itu memang wajah dan suaranya, tapi kata-kata dan ekspresi diubah secara digital.

“Deepfake…” bisiknya, napasnya mulai memburu. “Gilang… lo beneran udah sejauh ini.”

Ia cepat-cepat mengetik pesan ke Ferrel.

📩 *Marsha:* “Ferrel, jangan percaya video itu! Tolong jangan buka file lainnya! Itu jebakan!”

Namun sebelum pesan terkirim—
📴 *Sinyal terputus.*
Seseorang sudah memutus koneksi jaringan sekolah dari sistem pusat.

Perjodohan  [ fresha] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang