BAB 50

580 41 6
                                        

Jangan lupa vote , follow dan komen,,, author lebih suka kalau kalian komen dari pada....
.
.
.
.

Sementara itu, di tempat lain, Marsha tampak gelisah. Sejak tadi sore hingga malam, Ferrel tidak memberi kabar sama sekali. Nomor ponselnya aktif, tapi tak juga diangkat. Hal itu membuat Marsha semakin cemas.

“Ya Tuhan, kenapa Ferrel belum juga kasih kabar? Nomornya aktif, tapi nggak diangkat-angkat. Ferrel nggak biasanya kayak gini…” gumam Marsha dengan wajah tegang. Ia berjalan mondar-mandir di kamarnya, memandangi ponsel yang terus ia genggam erat.

“Aku takut kalau Ferrel kenapa-kenapa. Mau nanya ke Ayah sama Bunda, tapi aku nggak punya nomor mereka. Papi sama Mami juga lagi nggak di rumah…” ucapnya pelan, suaranya bergetar menahan cemas.

Ia mencoba berpikir positif, tapi rasa khawatir terus menekan dadanya. “Tapi ini udah lama banget. Biasanya kalau pun Ferrel pergi ke mana-mana, dia pasti ngabarin aku dulu…”

Marsha menatap ke luar jendela, lalu menarik napas panjang. “Kayaknya aku harus nyusul Ferrel ke rumahnya aja,” katanya akhirnya, sambil buru-buru bersiap dan mengambil jaketnya.

.......................

Marsha berlari kecil menuju gerbang rumah Ferrel. Malam mulai turun, langit sudah gelap, dan hanya suara serangga yang terdengar di sekitar. Begitu sampai di depan rumah, ia mendapati suasana sepi. Lampu teras menyala redup, tapi tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalam.

“syalom, bunda, ferrel?” panggil Marsha pelan dari balik balik pintu. Tak ada jawaban. Ia mencoba lagi, sedikit lebih keras, “bunda!ferrel! Dedek! Permisi?”panggil marsha sambil mengetuk pintu rumah ferrel.

Masih hening. Hanya suara angin malam yang menjawab. Marsha menggigit bibirnya, jantungnya mulai berdegup cepat. Ia mengeluarkan ponsel dan mencoba menelepon Ferrel sekali lagi — tetap tidak diangkat.

“Ya Tuhan… ini aneh banget,” gumamnya. Ia kemudian menekan bel rumah, tapi tetap tidak ada yang keluar. Perasaannya makin tidak enak.

Beberapa detik kemudian, seorang tetangga lewat dan berhenti sejenak. “Non Marsha, pasti lagi nyari den Ferrel ya?” tanya bi sumini.

“Iya, Bi… soalnya dari tadi marsha hubungi dia nggak kabar, marsha khawatir. Makannya marsha datang kesini”jelas marsha ke bi sumini.

"Oh gitu yah non" Bi sumini

"Bi,rumah kok sepi yah mereka semua kemana yah? " Tanya marsha

"Tuan aran, nyonya chika sama non yori pergi kerumah sakit non" Bu sumini

"Lh, ngapain mereka kesana, terus ferrel kemana bi" Marsha.

Wajah bi sumini mendadak berubah"Lho, non belum tau yah magrib tadi den ferrel masuk ke rumah sakit"bi sumini berhenti, ragu untuk melanjutkan nya.

Marsha langsung membelalak. “Dibawa ke rumah sakit? Kenapa, Bi? Di rumah sakit mana?” suaranya nyaris panik.

“bibi kurang tahu pasti, Non. Tapi tadi saya dengar kakaknya, den Fiorenzo, yang bawa den ferrel.”

Tanpa berpikir panjang, Marsha langsung berbalik dan berlari menuju mobilnya.
Begitu masuk ke dalam mobil, Marsha menarik napas panjang. Tangannya sedikit gemetar saat menyalakan mesin. Suara deru mobil memecah keheningan malam yang sejak tadi menekan batinnya.

Jalanan di sekitar kompleks tampak lengang. Lampu jalan berkelip samar, sementara bayangan pepohonan menari di aspal yang basah oleh embun.

“sayang… kamu kok bisa kaya gini sih?” bisiknya lirih. Suaranya nyaris tenggelam di antara bunyi mesin.

Perjodohan  [ fresha] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang