BAB 47

484 34 1
                                        

Selamata membaca semuanya jangan lupa komen, vote dan komennya...
.
.
.
Siapa yang mau double up..

Musuh yang mengepung Fiorenzo dan Ferrel makin mendekat, senjata sudah terangkat. Tapi sebelum hantaman berikutnya hampir mengenai kepala Ferrel, tapi tiba-tiba terdengar suara deru motor dari kejauhan.

Ferrel yang sudah tersandar di tembok, memandang dengan mata hampir kabur. "Bang... kayanya ada yang... bantu kita..." suaranya serak.

Fiorenzo yang nyaris roboh, tersenyum lemah melihat sosok itu makin jelas. "Syukurlah... kita nggak sendirian."

*Braaakkk!* Beberapa motor berhenti mendadak, lampu sorotnya menyorot tajam ke arah kerumunan.

Seketika suasana jadi kacau. Dari kegelapan, terdengar derap langkah cepat, lalu beberapa sosok muncul dengan berani. Mereka langsung menyerbu ke arah lingkaran musuh.

"Jangan sentuh mereka lagi!" suara keras menggema, disertai ayunan kayu dan pukulan yang membuat dua orang musuh langsung terlempar mundur.

"Siapa itu?!" teriak salah satu musuh .

Dari motor-motor itu turun beberapa orang dengan wajah keras, mengenakan jaket khas geng mereka. Fiorenzo dan Ferrel mengenali mereka seketika-itu adalah geng yang dulu sempat bentrok dengan Ferrel, tapi juga pernah ia tolong saat terjebak masalah besar.

Musuh yang tadi begitu percaya diri, kini mulai kocar-kacir menghadapi serangan mendadak.

Sosok yang membantu itu menoleh sebentar ke arah Fiorenzo dan Ferrel sambil berkata singkat, "Tenang, giliran gw sekarang yang bantuin dan lagi pula dia emang musuh kita."

Pemimpinnya melangkah maju, menatap dingin ke arah para penyerang.

"bajingan masih aja lu main keroyokan? Nggak malu, hah?"

Ferrel terbelalak, matanya melebar. "Bang... itu kayanya teman gw..."

Fiorenzo hampir tak percaya. "Kok mereka bisa ada di sini...?"

Salah satu anggota geng itu menoleh sekilas ke Ferrel, lalu mengangkat dagunya.
"gw sama geng gw ngak sengaja lewat sini dan liat lu di kroyok sama gajian ini,jadi gw sama anak buah gw datang mau nolongin lu. Gw mau balas budi sama lu karena lu mau nolongin gw kemarin"

Tanpa basa-basi, mereka langsung menerjang musuh yang mengepung. Suara pukulan, kayu beradu, dan teriakan pecah di udara. Lingkaran musuh buyar, kini fokus beralih menghadapi pendatang baru.

Ferrel, meski tubuhnya hampir roboh, tersenyum tipis. "Heh... siapa sangka, manusia kaya lu tau utang budi juga zee..."

"Udah ngak usah banyak bacot lu, gw mau nyerang pada bajingan ini dulu lebih baik lu istirahat aja sama teman lu" zean

"Thanks... Tapi gw tetap bakalan ikut nyerang mereka semua gw gak mau cuman tinggal diam aja" Ucap ferrel dengan semangat walaupun tubuhnya tidak memungkinkan melanjutkan pertarungan.

Ferrel mencoba bangkit meski tubuhnya gemetar. Fiorenzo cepat menahan lengannya.
"Rel, lu udah nggak kuat. Jangan ikut lagi."

"Benar kata temen lu. Lebih baik lu istirahat, biar gue yang ngehajar mereka semua," ucap Zean dengan nada santai, meski matanya tetap awas menatap lawan.

Tapi Ferrel menggeleng keras. Tatapannya membara.
"Bang, Zean... kita udah kepojok. Kalau kita nggak berdiri bareng, semua ini bakalan sia-sia."

Dengan sisa tenaga, Ferrel menyeret langkahnya ke depan. Begitu melihat salah satu musuh lengah, ia langsung menubruknya, membuat tubuh lawan itu jatuh tersungkur. Fiorenzo, yang tadinya masih menahan sakit, akhirnya tak sanggup tinggal diam. Ia ikut bangkit, meski wajahnya penuh luka.

Kini, meski babak belur, mereka kembali masuk ke pusaran pertempuran.

Zean, Ferrel, Fiorenzo, dan anggota geng Zean maju serentak, menghadang dua musuh sekaligus.
"Jangan kasih mereka injak-injak kita lagi!" teriak Zean sambil mengayunkan pukulan telak ke rahang lawan.

Namun, serangan balasan datang cepat. Dua musuh lain langsung menyeruduk, memaksa Zean mundur beberapa langkah.

Pertarungan berubah jadi sengit. Seimbang. Penuh amarah. Asap tipis dari knalpot motor bercampur dengan bau keringat, darah, dan teriakan yang saling bersahutan.

Fiorenzo sempat tersandar di tembok, berusaha menahan matanya agar tidak terpejam. Ia melihat kilatan rantai, hantaman kayu, dan teriakan kesakitan bercampur jadi satu.
"Rel... ini gila banget... beneran kayak perang jalanan."

Ferrel terbatuk, darah merembes di sudut bibirnya. Namun matanya tetap tajam menatap ke arah keributan.
"Bang... mereka nggak gampang. Musuh juga keras kepala. Kalau kelamaan... kita bisa kehabisan tenaga."

Benar saja-meski ada tambahan tenaga, musuh tidak goyah. Jumlah mereka tetap banyak, dan kali ini lebih buas. Kayu menghantam aspal, rantai menghajar motor, bahkan botol pecah beterbangan dijadikan senjata. Suasana makin liar, seakan jalanan itu berubah jadi medan perang tanpa aturan.

Suara dentuman dan jeritan terus bergema. Asap tipis dari knalpot motor yang masih menyala bercampur dengan bau darah yang menusuk. Satu per satu musuh mulai roboh, tubuh mereka berjatuhan di aspal.

Fiorenzo yang tadinya hampir tak sanggup berdiri, kini justru berbalik menghajar lawan dengan brutal. Setiap pukulan yang ia lepaskan seakan menjadi pelampiasan sakit yang sudah ditahan sejak awal. Ferrel, meski gemetar, tetap berusaha maju. Tubuhnya penuh luka, tapi sorot matanya tak pernah redup.

"Bang, Zee dan yang lain... jangan kasih mereka napas!" serunya terengah.

Zean mengangguk, lalu menghantam lawan dengan tendangan keras ke arah wajah. Musuh itu langsung jatuh tersungkur, tak bergerak lagi. Anggota gengnya ikut membantu menekan sisi lain, membuat beberapa musuh tak punya celah untuk melawan.

Hingga akhirnya, situasi berubah total. Musuh yang tadinya begitu buas kini hanya bisa bertahan. Sebagian sudah tumbang, sebagian lain mulai panik.

"Anjing... kita Sekarang udah kalah jumlah!" teriak salah satu dari mereka sambil mundur terhuyung.

Ketakutan mulai menyebar. Yang tersisa pun memilih kabur, menyeret teman mereka yang masih bisa bangun. Suara derap langkah bercampur dengan teriakan panik. Botol pecah, kayu, dan rantai tergeletak tak berguna di tanah.

Hening pun menyelimuti jalanan itu.

Ferrel terduduk, tubuhnya jatuh lemas ke aspal. Darah menetes dari sudut bibirnya, tapi senyum kecil muncul di wajahnya. "Akhirnya... mereka kabur juga..."

Fiorenzo menahan pundaknya, masih terengah. "Rel... gila, kita beneran bisa ngelawan mereka semua."

Zean tertawa kecil meski suaranya serak. "Hahaha... mereka kira bisa ngalahin kita? Salah besar."

Anggota geng Zean bersorak kecil, meski semuanya babak belur. Malam itu, di jalanan yang dipenuhi sisa-sisa pertempuran, kemenangan akhirnya jatuh ke tangan mereka.

Suasana jalanan sempat hening setelah musuh berlarian kabur. Fiorenzo dan Zean masih berdiri terengah, tubuh mereka penuh luka. Beberapa anggota geng Zean bahkan duduk di aspal, mencoba mengatur napas.

Ferrel ikut menjatuhkan diri ke tanah, mencoba menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya. Ia menatap langit malam yang dipenuhi asap dan lampu jalan redup. "Kita... menang, kan?" gumamnya pelan.

Namun tiba-tiba, dari balik gelap, terdengar langkah tergesa. Salah satu musuh yang masih tersisa ternyata belum kabur. Dengan wajah penuh amarah, ia menggenggam besi panjang dan berlari ke arah .....



Udah segitu dulu terimakasih udah membaca semuanya...

Perjodohan  [ fresha] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang