BAB 63

835 37 0
                                        


Selamat membaca semuanyaaaa.... Akhirnya..

Di ruang rawat inap ferrel itu sunyi sekali.

Meski ada suara mesin monitor detak jantung, bagi Marsha semuanya terdengar seperti gema jauh yang tidak benar-benar ia dengar.
Yang ia lihat hanya Ferrel.
Wajahnya pucat, ada perban melintang di pelipisnya, dan selang infus terpasang di tangan.

Marsha duduk di kursi paling dekat, tidak pernah bergeser sejak Ferrel dipindahkan dari ruang operasi.
Ia menggenggam tangan Ferrel dengan kedua tangannya, menempelkan keningnya ke punggung tangan itu.

Air matanya sudah kering, tapi mata itu tetap berkaca-kaca.

“Rel… bangun ya… aku di sini.
aTolong… jangan tinggalin aku…”

Bunda Chika berdiri di belakang Marsha, menatap putranya dengan mata yang memerah.
Ayah Aran berdiri di sisi lain, tangannya memegang bahu istrinya agar tetap kuat.

Ollan duduk dengan kedua siku di lututnya, kepala menunduk.
Ashel, Aldo, dan Chris berdiri di sudut ruangan, semuanya diam — tidak ada yang mau mengganggu momen Marsha dengan Ferrel.

Suasana begitu sunyi…

Sampai jari Ferrel bergerak sedikit. Marsha langsung menegang.

“…Rel?”
Ia berdiri, mendekatkan wajahnya.

Jari itu bergerak lagi.

Detak jantung di monitor tetap stabil, tetapi perlahan-lahan kelopak mata Ferrel bergetar.

“Bun… yah...bang..ferrel bangun!” teriak Marsha, suaranya bergetar namun dipenuhi harapan.

Semua orang langsung mendekat.

Kelopak mata itu akhirnya terbuka sedikit.

Napas Marsha tercekat.

“F-Ferrel…?”

Ferrel mengerjap, pupilnya bergerak mencari fokus.

Suara serak keluar dari bibirnya.

“…cha…?”

Hanya itu.
Hanya satu kata.
Tapi cukup membuat Marsha langsung menutup mulutnya, lalu menangis keras—bukan karena sedih, tapi karena lega yang tidak bisa ditahan.

Ia menempelkan wajahnya ke dada Ferrel, hati-hati agar tidak menyentuh luka.

“Iya rel… aku di sini… aku di sini…”

Ferrel berkedip pelan, matanya masih berat.
Ia mencoba menggerakkan tangan yang lain, ingin memegang kepala Marsha, tapi tidak kuat.

Bunda Chika langsung menutup mulutnya, air matanya tumpah.

“Terima kasih Tuhan… akhirnya anak hanbay mama bangun…”

Ayah Aran memeluk istrinya, matanya juga ikut memerah.

Fiorenzo tersenyum kecil melihat adeknya yang kini sadar sambil menyeka air mata yang tidak sengaja jatuh.

“Bangun lu juga akhirnya, Rel… gue kira bakal kehilangan lu lagi, tolol…”ucap ollan yang sepontan.

Ferrel hanya tersenyum tipis.

Namun tatapannya kembali ke Marsha, seolah memastikan ia benar-benar ada di situ.

“…kamu… nggak apa-apakan cha?”
suara Ferrel lirih.

“…kamu… nggak apa-apakan cha?”
suara Ferrel lirih.

Marsha menggeleng sambil sedikit terkejut karena ferrel menyebutkan namanya dengan sebutan chacha.

"Apa tadi kamu panggil aku apa" Tanya Marsha lagi.

Perjodohan  [ fresha] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang