BAB 43

521 40 1
                                        

Semata membaca jangan lupa vote dan komennya kalau ada salah komen aja...


.
.
.

Marsha terdiam cukup lama, dadanya masih naik turun menahan tangis. Kata-kata Ferrel terus terngiang di kepalanya. Ia menunduk, menatap jemarinya yang masih bergetar.

“Rel…” suaranya lirih, hampir seperti bisikan. “Aku benci banget sama cara kamu. Aku pokoknya benci banget sama sifat kamu satu hari ini. Aku benci karena kamu bikin aku salah paham, bikin aku ngerasa sendirian…”

Ferrel menelan ludah, siap menerima penolakan.

Tapi kemudian Marsha melanjutkan dengan suara bergetar, “Tapi… aku juga sadar aku nggak bisa bohong kalau aku lega ternyata orang itu… kamu.”

Ferrel langsung mendongak, matanya berkaca-kaca. “cha…”

Marsha menatapnya, air mata masih menetes, namun bibirnya membentuk senyum tipis yang getir. “Aku marah banget, kesal banget sama kamu, tapi… aku juga tahu, kalau bukan kamu, aku nggak akan sanggup.”

Ferrel langsung bangkit dari duduknya, mendekati Marsha dengan langkah ragu. Ia ingin menyentuh bahunya, tapi menahan diri. “Aku janji, cha… aku nggak akan pernah bikin kamu merasa sendirian lagi. Aku salah besar, aku akui itu. Tapi tolong… jangan ragukan kalau aku serius sama kamu.”

Marsha mengusap air matanya cepat-cepat, mencoba menenangkan diri. Hatinya masih sakit, tapi ada kehangatan yang perlahan menyusup.

Semua orang di ruangan itu ikut larut dalam suasana haru. Papi Gracio dan Mami Shani saling pandang, senyum tipis muncul di wajah mereka. Bunda Chika memeluk lengan Ayah Aran, seolah lega bahwa kesalahpahaman sudah mulai terurai.

Marsha menghela napas panjang, lalu mengangguk pelan. “Baiklah, Rel… aku coba percaya lagi sama kamu. Tapi jangan pernah lagi bikin aku merasa seperti tadi.”

Ferrel akhirnya berani menggenggam tangannya, lembut namun penuh keyakinan. “Aku janji, cha. Mulai sekarang… aku akan selalu di samping kamu chacha.”

Begitu tangan Ferrel menggenggam tangan Marsha, suasana yang tadinya menegangkan perlahan mencair. Marsha masih menunduk, enggan terlalu cepat menunjukkan kalau hatinya mulai luluh. Tapi genggaman Ferrel terasa hangat, menenangkan, seperti jaminan yang selama ini ia butuhkan.

Papi Gracio berdehem pelan, lalu berkata dengan suara mantap namun penuh kehangatan,
“Kalau begitu, aku rasa kita semua sudah dengar jelas. Nggak ada lagi yang perlu diributkan. Yang penting kalian berdua jujur sama perasaan masing-masing.”

Mami Shani menambahkan, "Iya, Sha... Rel... walaupun kalian masih bertunangan, tapi Mami, Papi, Ayah, dan Bunda kamu ingin kalian berdua tidak main-main dengan perasaan. Pernikahan bukan hanya tentang keluarga, tapi tentang kebahagiaan kalian berdua. Jika kalian sudah sama-sama yakin dan memiliki komitmen yang kuat, orang tua hanya perlu merestui dan mendukung keputusan kalian."

Dengan nada yang lembut namun tegas, Mami Shani melanjutkan, "Kalian berdua sudah cukup dewasa untuk memahami apa yang kalian inginkan dan apa yang terbaik untuk masa depan kalian. Oleh karena itu, Mami berharap kalian bisa serius dalam menjalani hubungan ini dan tidak ragu-ragu dalam membuat keputusan yang penting."

Ferrel mengangguk penuh hormat. “ferrel janji,…pi, yah, bun,mi, ferrel akan jaga Marsha. Ferrel akan buktikan kalau ferrel memang layak untuk Marsha lenathea harlan.”

Marsha mengangkat wajahnya, matanya masih merah tapi senyumnya lebih tulus. Ia melirik Ferrel sekilas lalu menatap orang tuanya. “Aku juga… aku akan berusaha lebih terbuka, Mi, Pi. Aku nggak mau lagi salah paham sama orang yang aku sayang.”

Perjodohan  [ fresha] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang