Tunggu selanjutnya yah...
.
.
.
.
. Skip
Marsha melangkah mundur pelan dari balik pintu kamar Ferrel. Matanya memerah, tapi tatapannya tak lagi penuh kesedihan seperti sebelumnya - kini ada **api kecil** yang mulai menyala di dalamnya. Ia mengepalkan tangan kuat-kuat, berbisik lirih,
*"Kalau ini perang yang lo mulai, Flo... gue nggak akan kalah."*
---
Skip...
Setelah beberapa hari dirumah sakit akhirnya ferrel di perbolehkan untuk pulang dan yah marsha masih sering menemui
### Keesokan harinya...
Suasana taman terasa lebih tenang malam itu. Ferrel sedang berjalan perlahan di taman dekat rumah ferrel, dibantu oleh bibi. Flora berjalan di sampingnya, seperti bayangan yang selalu menempel.
Setiap kali Ferrel tersenyum, Flora tersenyum lebih lebar. Tapi setiap kali Ferrel menatap sekeliling - seolah mencari sesuatu - Flora cepat-cepat mengalihkan perhatiannya.
Namun saat mereka sedang berjalan melihat orang-orang Ferrel tiba-tiba berhenti.
Matanya terpaku pada seseorang yang sedang duduk di bangku taman - **Marsha**, dengan buku catatan di tangannya.
Angin berembus lembut, meniup helai rambut Marsha. Gadis itu menatap ke arah mereka, lalu tersenyum - senyum yang lembut, tapi cukup untuk membuat hati Ferrel bergetar tanpa alasan.
"Rel?" panggil Flora pelan, melihat Ferrel yang tiba-tiba diam.
"Eh, iya, aku cuma... ngerasa pernah lihat tempat ini sebelumnya," jawab Ferrel jujur, matanya masih tertuju pada Marsha.
Flora menahan napas, lalu menggenggam tangan Ferrel cepat-cepat. "Ayo, kita jalan lagi. Udara pagi gini nggak bagus kalau terlalu lama di luar."
Tapi sebelum mereka sempat melangkah, Marsha berdiri dan melangkah mendekat.
"Pagi, Rel," sapanya lembut. "Gimana, udah mendingan?"
Ferrel menatapnya, matanya seperti berusaha mencari-cari sesuatu di wajah gadis itu. "Kamu... Marsha, ya?"
"Iya rel aku marsha" Ucap marsha sambil tersenyum ke arah ferrel yang membuat flora tidak suka
---
### Di taman, beberapa menit kemudian...
Ferrel duduk di bangku, sementara Marsha duduk di sampingnya, menjaga jarak sopan.
Suasana canggung, hanya suara daun yang bergerak pelan diterpa angin.
"Rel..." suara Marsha lirih. "Kamu inget cicin ini?"
Ia membuka telapak tangannya, memperlihatkan **cicin yang indah** yang dulu selalu dipakai Ferrel dan marsha.
Ferrel menatap cicin itu lama, dahinya berkerut. "Cicin itu... kayaknya aku pernah punya. Tapi sekarang aku nggak tahu di mana."
"Cicin ini punya kamu," kata Marsha pelan. "Dulu kamu janji nggak bakal lepasin, karena katanya... ini simbol hubungan kita."
Ferrel menatapnya dengan mata yang samar berkaca-kaca. Ia ingin berkata sesuatu, tapi kepalanya tiba-tiba terasa nyeri.
"Ah..." desahnya, memegangi pelipis.
Marsha panik. "Rel! Kamu nggak apa-apa?"
Flora yang diam-diam memperhatikan dari jauh langsung berlari menghampiri. "Marsha! Gue udah bilang jangan maksa dia inget apa pun!" teriaknya, menepis tangan Marsha dari bahu Ferrel.
"Flo, aku nggak apa-apa..." kata Ferrel pelan, menatap mereka berdua dengan bingung. "Cuma... aneh aja. Tiap kali ngeliat Marsha, aku ngerasa kayak-"
"Cukup, Rel." Flora cepat memotong. "Mungkin itu cuma ilusi otak kamu aja."
Marsha menggenggam cicin itu erat, lalu menatap Flora dengan dingin.
"Ilusi kadang justru datang dari hati yang pernah ngerasain, Flo."
Flora menatap balik dengan tatapan tajam. "Atau dari orang yang belum bisa nerima kenyataan."
Mereka berdua saling menatap - senyum di bibir, tapi mata mereka saling menantang tajam.
Sementara itu, Ferrel hanya terdiam di tengah-tengah mereka, wajahnya semakin bingung dan gelisah.
---
### Malam hari...
Flora duduk di kamarnya, menatap cermin. Wajahnya terlihat manis, tapi sorot matanya gelap. Ia menggenggam ponsel dan menulis pesan baru.
📩 *Flora:* "Semua berjalan sesuai rencana. Tapi gue butuh lo cepet lakuin yang gue minta. Biar Ferrel yakin kalau Marsha bukan orang baik."
📩 *X :* "Santai. Besok semua bakal mulai. Lo siap aja lihat gimana Marsha jatuh pelan-pelan."
Flora tersenyum licik, lalu menatap pantulan dirinya sendiri.
"Permainan baru dimulai, Sha... dan kali ini, gue yang pegang kendali."
---
### Sementara itu...
Marsha duduk di balkon kamarnya, sambil memegang cicin yang kini melingkar di pergelangan jarinya.
Ia menatap bintang malam di langit, berbisik pelan,
*"Ferrel... Kamu boleh lupa sama semuanya. Tapi aku bakal bikin kamu jatuh cinta lagi - bukan karena masa lalu, tapi karena perasaan yang baru."*
Angin malam berhembus pelan.
Namun jauh di sudut kota, seseorang - **X** - menatap foto Marsha di ponselnya sambil tersenyum samar.
*"Maaf, Sha. Tapi kali ini... gue di pihak Flora. Karena janji yang harus gw tepati gw gk mau jadi cowok yang pengecut yang Nginkarin janji"*
Udah segitu dulu....
KAMU SEDANG MEMBACA
Perjodohan [ fresha]
Romansa*seorang yang di jodohkan orang tuanya akan tetapi dia menolak perjodohan itu karena dia takut tidak dapat melanjutkan cintanya kepada seseorang. * * * * * " gue ada pantun nih temen - temen baca ya" * pergi ke pasar membeli merica ...
![Perjodohan [ fresha]](https://img.wattpad.com/cover/380104769-64-k129857.jpg)