Selamat membaca maaf tadi ada kesalahan teknis, jadi gk bisa ke buka bab 51 nya tadi...
Jangan lupa vote, komen, dan follow....
.
.
.
.
.
"Bjingan lu! Gak bisa nyelametin teman gw, gak becus banget lu kerjanya!" teriak Aldo sambil mendorong dada dokter itu dengan kasar.
Dokter hampir terhuyung, tapi tak melawan. Ia hanya menunduk, napasnya berat, keringat masih menetes dari pelipis. "Kami sudah berusaha semampu kami," katanya lirih. "Tapi-"
"JANGAN ALASAN LAGI LU ANJING!" bentak Aldo lagi, matanya merah, suaranya parau menahan emosi. Ia hendak melayangkan pukulan, tapi tiba-tiba Dava langsung menahan tubuhnya dari belakang.
"DO! Udah,Berhenti!" lukas menarik Aldo dengan tenaga penuh. "Lu mau menambah parah keadaan, hah?! Dokternya udah bilang, dia udah berusaha!"
"BERUSAHA APA?! HASILNYA NGAK ADA LUK! YANG ADA FERREL MALAH NINGGALIN KITA SEMUA ANJING! " Aldo menunjuk ke arah ranjang tempat Ferrel terbujur diam di balik kain putih. "Itu hasil kerja mereka semua!"
Suasana di lorong makin kacau. Yori menjerit kecil, ketakutan melihat Aldo yang nyaris lepas kendali.
Bunda Chika masih menangis dipeluk suaminya, sementara perawat-perawat lain berdiri canggung di sudut ruangan, tak tahu harus berbuat apa.
Fiorenzo akhirnya berdiri, wajahnya dingin tapi matanya penuh amarah. Ia berjalan pelan ke arah Aldo.
"Do..." panggilnya pelan.
Aldo menoleh, matanya masih menyala. "Bang, jangan halangin gua! Orang-orang ini gagal nyelametin Ferrel! Mereka-"
*PLAK!*
Satu tamparan keras mendarat di pipi Aldo.
Lorong langsung sunyi.
Fiorenzo menatap tajam, suaranya berat tapi bergetar. "Lu pikir cuma lu yang kehilangan, hah?! Lu pikir cuma lu yang sakit ngeliat dia kayak gitu?! Gua abang dia, Do... GUA YANG SELALU ADA BUAT DIA DO DISAAT DI SUSAH MAU PUN SENANG!!!"
Aldo terdiam. Matanya berkaca-kaca, napasnya memburu. Ia mau membalas kata-kata itu, tapi bibirnya gemetar dan air mata mulai jatuh satu per satu.
Fiorenzo menghela napas panjang, menunduk. "Kalau lu mau marah, marah ke gw. Karena gw yang gagal gelindungi dia waktu di kroyok.Tapi jangan ke orang yang udah berusaha nyelametin dia."
Suasana jadi sunyi. Hanya suara hujan di luar yang terdengar.
Aldo akhirnya melepaskan genggaman Dava, mundur selangkah, dan jatuh terduduk di lantai. Ia menunduk, memegangi wajahnya sendiri. "Maaf... gua cuma... gua gak kuat, Bang... gua gak bisa liat dia kayak gini..."
Fiorenzo mengangguk pelan. "Kita semua gak kuat, Do..."
Tiba-tiba-
suara *beep...* samar terdengar dari alat monitor.
Semua kepala langsung menoleh. Dokter yang tadi didorong mendekat, matanya melebar.
"Detaknya... balik lagi," katanya pelan tapi penuh keheranan.
Semua yang ada di ruangan menegang. Fiorenzo dan Aldo serentak berdiri, menatap ke arah tubuh Ferrel yang masih terbaring.
*Beep... beep... beep...*
Irama itu semakin jelas - pelan tapi pasti.
"FERREL!" teriak Marsha, langsung maju sambil menyingkirkan perawat. "FERREL DENGER AKU, KAMU BANGUN YA!"
Dokter dan tim medis segera bergerak cepat, memeriksa monitor dan oksigen.
"Dia balik! Cepat siapkan ruang ICU!" teriak salah satu perawat.
Aldo yang masih terpaku akhirnya jatuh berlutut, air matanya jatuh deras. "Lu gila, Rel... gua hampir bunuh dokter yang nyelametin lu..." gumamnya lirih sambil menatap ke arah Ferrel yang kini detak jantungnya kembali berdetak pelan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perjodohan [ fresha]
Non-Fiction*seorang yang di jodohkan orang tuanya akan tetapi dia menolak perjodohan itu karena dia takut tidak dapat melanjutkan cintanya kepada seseorang. * * * * * " gue ada pantun nih temen - temen baca ya" * pergi ke pasar membeli merica ...
![Perjodohan [ fresha]](https://img.wattpad.com/cover/380104769-64-k129857.jpg)