Selamat membaca semua jangan lupa follow, vote dan komen...
.
.
.
Sementara itu di luar ruangan, Marsha duduk di kursi tunggu bersama teman-temannya. Air matanya masih terus mengalir, meski ia berusaha tersenyum agar terlihat tegar.
Kathrin memeluk bahunya pelan. “Cha, jangan gitu dong. Ini cuma efek kecelakaan, kok. Nanti juga Ferrel inget lagi sama kita semua.”
Marsha menggeleng lemah. “Tapi cara dia ngeliat aku tadi... kayak aku orang asing. Dan ferrel yakin banget kalau Flora itu masih pacarnya.”
"Sha yang sabar yah, ini semua cobaan yang diberikan Tuhan untuk hubungan kalian berdua, percaya lah ini semua bakalan ada hikamnya" Ucap kak indah sambil mengusap punggung marsha.
"Iya kak, makasih" Marsha
Ashel ikut duduk di sampingnya. “Kita nggak akan tinggal diam, sha. Kita bantu cari cara biar dia inget lagi. Yang penting sekarang lo jangan nyerah dulu.”
Marsha mengusap air matanya dengan punggung tangan, menatap lurus ke depan. “Gue nggak akan nyerah, khat. Tapi kalau ini beneran ujian buat cinta gue sama ferrel, gue harus siap. Gue bakal bikin dia inget lagi sama gue… inget semua yang pernah kita lewatin.”
Muthe menatap Marsha iba. “Tapi gimana kalau nanti Flora manfaatin keadaan, sha?”
Marsha tersenyum getir. “Justru itu. Kalau Flora manfaatin ini semua untuk dapetin Ferrel. Gue nggak akan biarin dia ngambil lagi sesuatu yang udah bukan miliknya.”
---
Keesokan harinya…
Ferrel sudah lebih segar. Ia duduk bersandar di ranjang, memandangi foto-foto di meja kecil samping tempat tidur — sebagian di antaranya adalah foto dirinya bersama Flora, tapi tak ada satu pun foto Marsha.
Ia berusaha mengingat, tapi kepalanya justru terasa nyeri setiap kali mencoba. “Kenapa ya… rasanya ada yang hilang, tapi gue nggak tahu apa,” gumamnya pelan.
Bunda Chika masuk sambil membawa sarapan. “Pagi, Nak. Gimana, udah mendingan?”
Ferrel mengangguk. “Iya, Bun. Cuma… kepala masih agak berat kalau inget-inget sesuatu.”
Bunda Chika menaruh nampan di meja. “Dokter bilang itu normal, Nak. Tapi nanti kita minta pemeriksaan lanjutan, ya,sayang.”
Tak lama, pintu terbuka perlahan. Flora masuk sambil membawa bunga. “Hai, Rel… aku bawain bunga kesukaan kamu.”
Ferrel tersenyum lebar. “Makasih,sayang.”
Namun di luar pintu, seseorang berdiri diam sambil menggenggam sesuatu di tangannya — gelang kulit coklat yang dulu selalu dipakai Ferrel, hadiah dari dirinya sendiri.
Marsha berdiri di sana, menatap Ferrel dari celah pintu. Matanya mulai berkaca-kaca, tapi kali ini bukan karena lemah, melainkan karena tekad.
Ia berbisik lirih pada dirinya sendiri, *“Kalau ingatan kamu hilang, aku bakal bikin kamu jatuh cinta lagi sama aku dari awal.”*
Lalu ia melangkah masuk ke ruangan dengan senyum tenang, menatap Flora yang seketika menegang.
“Pagi semuanya,” ucap Marsha lembut.
“Ferrel, boleh aku ngobrol sebentar sama kamu?”
Suasana ruangan seketika menegang. Flora melirik tajam, sementara Ferrel menatap Marsha dengan bingung tapi... ada sesuatu di matanya — semacam rasa familiar yang belum bisa ia pahami.Baik. Berikut lanjutan adegan beralih ke sisi **Flora**, memperlihatkan sisi liciknya dan awal rencananya untuk menjauhkan Ferrel dari Marsha 👇
Begitu Marsha melangkah masuk ke kamar Ferrel dengan senyum tenang, jantung Flora berdetak cepat — bukan karena gugup, tapi karena amarah yang mulai merambat halus di dadanya.
*“Dia ngapain sih datang lagi… dan masih nyamperin Ferrel setelah semuanya?”* batinnya geram, menahan wajah agar tetap terlihat ramah.
Flora menatap Marsha dengan senyum tipis, senyum yang bagi orang lain tampak sopan, tapi bagi siapa pun yang mengenalnya cukup dalam — itu adalah peringatan.
“Marsha…” suaranya lembut, tapi dingin. “Ferrel masih butuh istirahat, jangan bikin ferrel capek lagi dengan hal-hal yang dia nggak inget sekarang.”
Marsha menatapnya sebentar, matanya tenang. “gw cuma mau bantu fertel mengingat semua nya, Flo. Itu aja.”
Flora berdecak kecil, lalu berpura-pura menatap Bunda Chika. “gw cuma takut Ferrel jadi stres. Dokter kan bilang jangan terlalu banyak tekanan dulu, apalagi kalau tentang hal-hal yang belum dia ingat.”
Bunda Chika menatap keduanya, sedikit ragu. “Kamu benar juga, Flor. Tapi Marsha juga punya hak buat ketemu. Toh mereka dekat.”
Flora mengangguk patuh. “Iya, Bun. Aku cuma khawatir, itu aja.”
Namun begitu Bunda Chika menoleh untuk membereskan nampan sarapan, ekspresi Flora berubah — mata itu kini dipenuhi sinar licik yang dingin.
---
Beberapa jam kemudian, Flora keluar dari kamar Ferrel dan melangkah ke taman rumah sakit. Ia duduk di bangku panjang di bawah pohon, menatap layar ponselnya yang menampilkan foto Ferrel dan Marsha saat masih bersama.
Wajahnya menegang, tapi bibirnya melengkung pelan. “Lihat aja, Marsha… kali ini lo nggak bakal menang.”
Ia lalu membuka aplikasi pesan, menghubungi seseorang — **Fiorenzo**.
📩 *Flora:* “...., lo masih inget kan waktu dulu lo bilang mau bantu gue kalau gue butuh sesuatu?”
📩 * X :* “Inget. Kenapa? Lo kenapa, Flo?”
📩 *Flora:* “Gue cuma mau lo bantu sedikit aja. Tentang Ferrel… dan cewe yang sekarang deket sama dia.”
📩 * X :* “Maksud lo Marsha?”
📩 *Flora:* “Iya. Gue mau dia jauh dari Ferrel. Kalau perlu, buat Ferrel percaya kalau Marsha cuma manfaatin dia.”
X terdiam beberapa saat sebelum membalas:
📩 * X :* “Lo sadar nggak yang lo mau itu jahat, Flo?”
📩 *Flora:* “Jahat buat siapa? Gue cuma ambil balik apa yang seharusnya jadi milik gue. Lo bantu gue, atau gue cari orang lain?”
Beberapa detik berlalu. Akhirnya si X membalas pendek:
📩 * X :* “Oke. Gue bantu,tapi kalau nanti semuanya tau jangan bawa-bawa gw.”
Flora tersenyum puas. *“Bagus. Permainan baru aja dimulai.”*
---
Malam harinya, Flora kembali ke kamar Ferrel dengan ekspresi penuh perhatian, membawa makanan ringan. Ferrel tampak senang melihatnya datang.
Namun di balik senyuman itu, Flora sudah menyiapkan langkah berikutnya — ia akan membuat Ferrel semakin yakin bahwa Marsha bukan siapa-siapa, bahkan mungkin berbahaya untuknya.
Dan rencananya dimulai dari hal sederhana:
menyusupkan keraguan ke pikiran Ferrel.
“Rel,” ucapnya pelan, seolah ragu untuk bicara.
“Aku nggak tahu ini penting atau nggak, tapi… waktu kamu koma, Marsha sering nangis. Tapi… aku juga dengar dia sempat bilang kalau dia capek nunggu kamu sadar.”
Ferrel menatap Flora bingung. “Capek nunggu?”
Flora menunduk, pura-pura menyesal. “Aku nggak tahu maksudnya apa, mungkin dia cuma kelelahan… tapi ya, aku pikir kamu perlu tahu aja.”
Ferrel terdiam, matanya tampak ragu. Dalam hatinya mulai tumbuh benih kecil dari kata “mungkin” itu — benih yang perlahan bisa berubah jadi kebingungan.
Dan di luar ruangan, tanpa mereka sadari… **Marsha mendengar semuanya** dari balik pintu yang sedikit terbuka, dengan air mata yang kembali mengalir.
Namun kali ini, bukan air mata kelemahan.
Melainkan air mata tekad — tekad untuk **melawan**.
#tbc...
Udah segitu dulu yah besok lagi kalau bisa....
KAMU SEDANG MEMBACA
Perjodohan [ fresha]
No Ficción*seorang yang di jodohkan orang tuanya akan tetapi dia menolak perjodohan itu karena dia takut tidak dapat melanjutkan cintanya kepada seseorang. * * * * * " gue ada pantun nih temen - temen baca ya" * pergi ke pasar membeli merica ...
![Perjodohan [ fresha]](https://img.wattpad.com/cover/380104769-64-k129857.jpg)