BAB 46

456 35 3
                                        

Selamat membaca para pembaca setia fresha......
.
.
.
.




"Bang" Ferrel

"Apa rel" Fiorenzo

"Lu mau ikut gw keluar gak ? " Tanya ferrel

"Emangnya lu mau kemana rel? " Fiorenzo

"Ke basecamp sekalian jalan-jalan aja si bg"

"Yaudah gw mau ikut bosan juga gw dari tadi dirumah" Fiorenzo

Skip,ferrel dan fiorenzo sedang dalam perjalanan menuju basecamp nya terlebih dahulu.

---

Ferrel melaju dengan motornya di depan, Fiorenzo sedikit di belakang. Mereka ngobrol lewat teriakan karena angin malam cukup kencang.

“Rel, jangan ngebut-ngebut kali, gw ketinggalan nih!” teriak Fiorenzo.

“Hahaha, udah kayak bapak-bapak bawa motor aja lu bang, ayo ngebut dikit dong bang!” jawab Ferrel sambil ketawa.

Tiba-tiba dari arah belakang, suara knalpot bising terdengar memecah suasana. Sekelompok motor mendekat, ada sekitar 7 orang tapi hanya dengan **empat motor**. Dua motor langsung maju ke depan, memotong jalan Fiorenzo dan Ferrel. Dua motor lagi mengepung dari belakang.

“Waduh…” gumam Fiorenzo sambil menegang. “Rel, ini siapa? Kayanya mereka semua mau menghalangi jalan kita deh. ”

Ferrel melirik lewat spion. Wajah-wajah yang penuh dendam itu jelas sekali ia kenali. Ia mengepalkan tangan di setir, lalu senyum tipis. “gw juga gak tau bang.”

Motor Ferrel dipaksa berhenti oleh salah satu dari geng itu. Fiorenzo juga langsung berhenti beberapa meter di sampingnya. Mereka kini terkepung.

Salah satu dari geng itu turun, menunjuk ke arah Ferrel.
“Woy, bocah! Lu pikir bisa lari terus? Malam ini lunas utang lu sama kita!”

Fiorenzo turun dari motor, mendekat ke Ferrel sambil berbisik, “Rel… mereka  banyak banget itu. Kita cuma berdua, yakin mau lawan?”

Ferrel melirik ke Fiorenzo, matanya tajam. “Bang, kita gak minta ribut, tapi kalau mereka maksa… yaudah, tinggal kasih pelajaran lagi.”

Geng motor itu mulai merapat, beberapa sudah mengeluarkan rantai dan tongkat besi dari jok motor.

Suasana makin tegang. Jalanan sepi, hanya suara mesin motor berderum dan napas mereka yang mulai memanas.

Salah satu motor geng itu menyalakan lampu jauh tepat ke arah Ferrel, membuat matanya sedikit silau. Dari balik cahaya, suara kasar terdengar.

“Lu masih inget kita, kan? Dulu gara-gara lo sok-sokan nolongin si Zean padahal dia itu musuh lu dan karena lu kita semua sampe masuk rs. Dan malam ini, lo gak bakal pulang dengan tenang.”

Ferrel diam, tangannya masih di setir motor. Ia menatap dingin, senyum tipis muncul di wajahnya. “Kalau masalahnya cuma karena itu, kenapa gak kalian lupain aja? Lagi pula itu kan resiko kalau lu berkelahi kalau gak mau babak belur yaudah gak usaha berkelahi di rumah aja sono main barbie?” ucap ferrel dengan tengil

Beberapa dari geng itu langsung geram. Ada yang memukul-mukul rantai ke aspal, menimbulkan suara *trang trang* yang bikin bulu kuduk berdiri. Fiorenzo refleks mundur setengah langkah, lalu mendekat ke Ferrel sambil berbisik.

“Rel… ini makin gak beres. Mereka bawa senjata, kita cuma tangan kosong.”

Ferrel menjawab pelan tanpa menoleh, “Tenang, bang. Kita liat dulu arah mainnya.”

Perjodohan  [ fresha] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang