BAB 57

376 28 1
                                        

Selamat membaca semua nya, kalau gk suka sama alurnya gak usah di baca karena masih banyak yang masih mau baca cerita ini....


### Malam hari…

Hujan turun pelan membasahi jendela kamar Flora. Di dalam kamar yang temaram, lampu hanya menyala redup — dan di meja belajar, ponselnya bergetar pelan.

📞 *X calling...*

Flora menghela napas sebelum menjawab.
“Lo tahu kan” katanya datar, “kita udah hampir ketahuan.”

Suara di seberang terdengar santai tapi berisi tekanan.
📩 *“Justru itu, Flo. Kita harus gerak cepat sebelum ingatan Ferrel kembali sepenuhnya dan dia bakalan balik ke Marsha.”*

Flora menggigit bibir, menatap bayangannya di cermin. Wajahnya lelah, tapi matanya dingin.
“Apa yang lo maksud ‘gerak cepat’?”

📩 *“Kita ubah arah permainan. Kalau kemarin fokusnya nyalahin Marsha, sekarang kita bikin dia keliatan berbahaya.”*

Flora menatap kosong. “Berbahaya? Maksud lo?”
📩 *“Lo tenang aja. Gue udah siapin sesuatu — bukti palsu kalo Marsha pernah nyerang lo dulu. Tinggal lo bantu peran kecil aja, biar keliatan meyakinkan.”*

Flora terdiam cukup lama. Suara hujan jadi satu-satunya yang terdengar.

“Lo yakin ini bakal berhasil?”
📩 *“Kalau semua sesuai rencana, Ferrel bakal mikir Marsha punya masalah serius. Dia bakal ngerasa perlu ‘ngelindungin’ lo. Dari situ… lo menang.”*

Flora menutup matanya, menggenggam ponsel erat.
“Baik, X. Tapi inget — kali ini nggak boleh gagal.”

📩 *“Tenang. Gue udah siapkan semua. Besok pagi… drama baru dimulai.”*

---

### Keesokan harinya…

Sekolah heboh lagi. Tapi kali ini bukan soal video — melainkan **foto-foto yang beredar di grup siswa.**
Foto itu menampilkan Flora tergeletak di ruang ganti dengan luka memar di lengannya, sementara bayangan seseorang di belakangnya tampak seperti… Marsha.

> “Katanya Marsha nyerang Flora tadi malam!”
> “Gila, dia sebaik itu di depan tapi ternyata kayak gitu di belakang!”

Bisik-bisik menyebar lebih cepat dari angin.
Marsha yang baru tiba di gerbang bahkan belum sempat menaruh tasnya ketika semua mata memandangnya penuh curiga.

Kathrin dan yang lain menghampiri marsha dengan wajah panik. “Sha! Lihat ini—”
Ia menunjukkan ponselnya. Marsha menatap foto itu dengan tatapan tak percaya. “Itu… bukan gue. Sumpah, itu bukan gue!”

“Tapi lihat bajunya, Sha… sama persis kayak yang lo pakai kemarin sore.”

Marsha menatap ke bawah — benar, kaos hitam dan jaket jeans birunya sama seperti yang di foto. Tapi ia yakin betul **itu bukan dia.**

---

### Di UKS sekolah...

Flora berbaring di ranjang perawatan, lengan kanannya diperban tipis. Guru-guru berdiri di sekelilingnya, wajah khawatir.
Ferrel duduk di kursi dekat tempat tidur, menatap Flora penuh bingung.

“Flo… lo yakin yang nyerang lo itu Marsha?” tanyanya pelan.

Flora menghela napas, pura-pura menahan tangis. “Gue nggak mau nuduh, Rel. Tapi gue cuma inget… waktu itu gue lagi mau pulang, terus ada yang nyerang dari belakang. Pas gue nengok, gue liat bayangan cewek pakai jaket biru kayak punya Marsha.”

Ferrel menatap lantai, pikirannya kacau. “Tapi Marsha nggak mungkin sejahat itu…”
Flora menatapnya, menitikkan air mata. “Gue juga nggak mau percaya, Rel. Tapi mungkin dia marah karena lo mulai deket lagi sama gue.”

Perjodohan  [ fresha] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang