BAB 49

415 35 4
                                        

Selamat pagi dan selamat membaca semuanya...
.
.
.


Lorong rumah sakit makin penuh dengan ketegangan. Jam dinding sudah melewati tengah malam, tapi Fiorenzo masih duduk menunduk, matanya merah dan wajahnya kusut penuh luka. Zean berdiri bersandar di tembok, tangan terlipat, tapi tatapannya tak pernah lepas dari pintu IGD.

Tiba-tiba, suara langkah tergesa terdengar dari ujung lorong. Seorang pria paruh baya bersama seorang wanita berlari kecil, wajah mereka panik. Itu orang tua Fiorenzo dan Ferrel.

"Enzo!!" suara ibunya langsung pecah begitu melihat keadaan anak sulungnya duduk dengan tubuh penuh darah kering. Ia berlari menghampiri.
"Ya Tuhan... apa yang terjadi sama kalian? Mana Ferrel?!"

Fiorenzo langsung berdiri, meski tubuhnya masih goyah. Ia menahan ibunya yang hampir roboh karena histeris. "Bu... Rel masih di dalam. Dia... dia kena hantaman parah. Dokter bilang kondisinya kritis."

Air mata ibunya langsung jatuh deras, kedua tangannya gemetar menutupi mulutnya. "Ya Tuhan... Rel..."

Ayahnya menatap Fiorenzo dengan rahang mengeras, tapi matanya berkaca-kaca. "Enzo... ceritain semua. Siapa yang berani bikin adikmu sampai begini?"

Fiorenzo menunduk, suaranya serak. "Banyak orang, Yah. Mereka nyerang kami di jalan. Gue udah coba lindungin Rel, tapi... dia kena hantam dari belakang. Gue nggak bisa jagain dia..."

Suara itu pecah di akhir kalimat. Fiorenzo tak tahan, air matanya jatuh, tubuhnya bergetar. "Gue gagal jaga adik gue, Yah..."

Ayahnya menahan bahu Fiorenzo dengan erat, meski wajahnya sendiri penuh amarah. "Bukan salahmu. Yang penting sekarang kita doain Ferrel bisa bertahan."

Ibunya jatuh terduduk di kursi tunggu, memegangi dadanya yang sesak. "Rel anakku... kenapa harus dia yang kena begini... Tuhan, selamatkan dia..."

Suasana lorong makin berat. Fiorenzo berdiri di samping orang tuanya, mencoba menenangkan mereka padahal dirinya sendiri hampir hancur. Zean, yang sedari tadi hanya diam, akhirnya buka suara.
"Pak, Bu... kalian harus kuat. Ferrel masih berjuang di dalam. Kita nggak boleh nyerah sebelum dengar kabar pasti."

Semua mata akhirnya kembali menatap pintu IGD yang tertutup rapat, menunggu dengan hati berdebar-antara harapan dan ketakutan.

Lorong rumah sakit semakin ramai. Isak tangis pelan dari ibu Fiorenzo masih terdengar, sementara sang ayah berdiri kaku dengan wajah penuh amarah yang ia tahan mati-matian. Fiorenzo duduk di kursi tunggu, kepalanya tertunduk dalam, sesekali mengusap wajahnya yang penuh luka.

Tiba-tiba, suara langkah kaki tergesa dan gaduh terdengar dari ujung lorong. Beberapa anak muda dengan jaket lusuh dan wajah lelah muncul beramai-ramai. Mereka adalah geng sekaligus sahabat-sahabat Ferrel-anak-anak yang biasa terlihat bersama adiknya.

Begitu melihat Fiorenzo dan orang tua Ferrel, mereka langsung terdiam. Wajah keras mereka seketika luluh dengan mata sembab. Salah satu dari mereka, Aldo, maju selangkah.
"Bang Enzo..." suaranya serak, hampir pecah. "Beneran... Ferrel di dalam?"

Fiorenzo menatap mereka dengan mata merah. Ia hanya mengangguk pelan.
"Iya... dia masih di IGD. Dokter bilang... kondisinya kritis."

Aldo dan yang lain seketika menunduk dalam. Beberapa dari mereka mengepalkan tangan sampai gemetar, sebagian lain langsung terduduk di kursi dengan wajah pucat.

Christian, yang sejak tadi menahan emosi, tiba-tiba menghantam tembok dengan tangannya sendiri hingga berdarah.
"Anjing! Siapa yang berani bikin Ferrel sampai kayak gini?! Kalau gue dapet orangnya, sumpah bakal gue hajar sampe mampus!"

Bunda Chika yang mendengar itu langsung menoleh, masih terisak.
"Christian... tolong jangan ngomong gitu. Yang penting sekarang, doakan Ferrel... dia butuh kita."

Kata-kata itu membuat suasana langsung hening. Sahabat-sahabat Ferrel menunduk, sebagian tak kuasa menahan air mata.

Namun ketenangan itu pecah ketika mereka melihat Zean bersama beberapa anggotanya di lorong yang sama. Christian seketika meledak, maju dan langsung menghantam Zean dengan tinjunya.

"Bajingan! Lu yang bikin Ferrel sampai kayak gini!" teriak Christian sambil memukulinya bertubi-tubi.

Fiorenzo segera menarik tubuh Christian, berusaha memisahkan mereka.
"Chris, berhenti! Jangan main pukul sembarangan!"

"Tapi Bang, bajingan ini yang bikin Ferrel sekarat!" balas Christian dengan mata menyala penuh amarah.

Zean yang juga terbawa emosi mendorong balik dan membela diri.
"Anjing! Bukan gue yang bikin dia kayak gitu!"

"ngak usah banyak bacot lu, Zean! Lu pengecut, yang bisanya cuma main keroyok! Kalau lawan lagi sendirian," Christian makin meledak.

Fiorenzo mengangkat suaranya, mencoba mengendalikan keadaan.
"Christian! Berhenti, Dengar gue! Bukan Zean yang bikin Ferrel babak belur!"fiorenzo

"Chris tenang, lu bukan orang yang kaya gini main emosi tanpa tau sebabnya" Ucap lukas tiba-tiba.

"Tapi luk siapa lagi kalau bukan dia yang buat ferrel sampe sekarat"Christian

"Yaudah kalau gitu kita tanya dulu bang enzo siapa pelakunya bukan kaya gini, lu yang biasa nya berpikir dengan otak yang dingin sebelum melakukan sesuatu kenapa tiba-tiba lu kaya gini" Lukas

"Iya benar kata Lukas lu orangnya bukan kaya gini Chris, dan biasanya lu salah satu orang paling tenang mengahadapi kaya gini di antara kita semua " Aldo

"Maaf luk,do,lan,bg fio, bun, yah gw kebawa emosi" Ucap Christian menyesali kesalahannya.

(suara tenang tapi tegas)
"Iya, nggak apa-apa. Sekarang kalian semua tenang dulu.
Jangan ada yang berantem lagi.
Gue bakal jelasin semua kronologi kenapa Ferrel bisa sampai kayak gitu...
Tapi tunggu Ferrel sadar dulu." Fiorenzo

(emosi, maju satu langkah)
"Tapi, Bang! Kami mau tahu sekarang juga siapa pelakunya!
Kita mau balas orang itu malam ini juga!" Ollan

Fiorenzo,(berbalik cepat, menatap tajam)
"Gue nggak bakal kasih tahu siapa yang bikin Ferrel kayak gini!
Karena gue nggak mau kalian juga jadi korban kayak dia!
Tunggu dulu sampai kondisinya membaik...
Baru kita pikirin langkah selanjutnya.
*menatap mereka satu per satu*
Dengar, ya?"

"Baik, Bang..." Ucap mereka semua bersaman

*Suasana hening. Hanya terdengar detak jam di dinding dan suara langkah perawat lewat. Tak lama, Aldo, Christian, Olan, dan Lukas melangkah maju. Mereka menunduk di hadapan orang tua Ferrel.*

(suara lirih tapi mantap)
"Yah, Bun, Bang... aku minta maaf atas kejadian tadi.dan
Kami juga minta maaf karena nggak bisa bantuin Ferrel waktu dia dikeroyok.
Kami tahu... kami bukan anak baik-baik.
Tapi buat kami, Ferrel itu bukan cuma teman.
Dia saudara.
Malam ini, kami bakal nunggu di sini bareng kalian sampai dia sadar."Christian

*Ayah Aran menatap mereka. Matanya merah, tapi suaranya berusaha tegar.*

"Iya, Ayah sama Bunda maafin kamu tapi jangan keulang lagi. Dan kalian nggak perlu minta maaf... ini semua sudah takdir.
*turun nada suaranya, menatap lantai*
Walau di hati Ayah aran... masih sulit nerima anak-anak Ayah harus terluka begini.

*Chika melangkah mendekat, menepuk bahu suaminya pelan, lalu menatap semua anak muda di depannya.*

"Betul kata ayah semua ini emang takdir, maka dari itu dengarkan lagu terakhir dari kami,,, eh salah..maka dari itu bunda harap kalian tenang jangan terbawa emosi lebih baik sekarang kita berdoa untuk saja....semoga ferrel di berikan Tuhan kekuatan dan segera sadar" Chika

"Iya bunda/tante" Ucap mereka semua serentak

Fiorenzo menatap mereka satu per satu, hatinya sedikit menghangat meski rasa takutnya belum hilang. "Terima kasih semuanya... Ferrel pasti senang tau kalian ada di sini."

Malam itu, lorong rumah sakit yang dingin berubah jadi tempat pertemuan yang penuh emosi. Orang tua, kakak, sahabat, dan saudara seperjuangan Ferrel berkumpul-semua dengan satu harapan yang sama: agar ia kembali membuka mata.

#tbc...
Oke, terimakasih sudah membaca...

Bersambung....

Perjodohan  [ fresha] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang