☄Selamat membaca I come back, jangan lupa vote, komen votenya☄.
☄
☄
☄
Kini waktunya bel istirahat. Marsha dan teman-temannya sedang duduk di kantin sambil menikmati makanan yang sudah mereka pesan tadi.
“Sha, Ferrel mana? Tumben banget dia nggak nyamperin lo,” tanya Khatrin penasaran.
“Gue nggak tahu, Khat. Gue juga nggak peduli,” jawab Marsha cuek sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
“Sha, kalau ada masalah tuh dibicarain. Jangan didiemin gini, nggak bagus tau,” nasihat Indah dengan lembut.
“Iya, Mom. Tapi gue masih kesal sama Ferrel. *Walaupun sebenarnya gue juga agak kesal sih lihat kalian…*” gumam Marsha pelan, hampir tak terdengar oleh yang lain.
“Yaudah, Sha. Daripada lo kesal terus, mending nanti pulang sekolah ikut kita. Kita bakal pergi ke suatu tempat yang bisa bikin mood lo balik lagi,” ucap Muthe tiba-tiba sambil tersenyum ke arah Marsha.
“Emang kita mau ke mana, The?” tanya Marsha penasaran.
“Ada deh, rahasia. Yang penting lo harus ikut, ya, Sha,” jawab Muthe sambil jual mahal.
“Yaelah, nggak asik banget sumpah. Ngajakin tapi nggak ada yang mau ngasih tau gue mau kemana,” protes Marsha dengan wajah manyun.
Marsha hanya bisa mendengus kesal sambil melanjutkan makannya. Teman-temannya saling melempar senyum, seolah menyimpan sesuatu yang besar untuk Marsha sore ini.
Bel sekolah akhirnya berbunyi, menandakan jam pelajaran berikutnya dimulai. Marsha kembali ke kelas dengan perasaan campur aduk—antara kesal sama Ferrel, kecewa karena merasa dilupain , tapi juga sedikit penasaran dengan ucapan Muthe tadi di kantin.
Waktu terasa berjalan lambat. Marsha beberapa kali melirik ke arah pintu, berharap Ferrel tiba-tiba muncul dengan senyuman caramel dan ucapan "selamat ulang tahun", tapi nyatanya sampai jam sekolah berakhir, Ferrel sama sekali tidak muncul di hadapannya.
“Sha, ayo ikut kita sekarang,” ajak Khatrin sambil menarik tangan Marsha begitu bel pulang berbunyi.
“Lah, kita beneran mau ke mana sih ini ?” tanya Marsha yang masih setengah malas.
“Udah, lo ikut aja nagk udah banyak. Ntar juga lu tau sendiri,” jawab Ashel sambil senyum misterius.
Mereka semua akhirnya berjalan keluar sekolah. Marsha sempat ragu, tapi karena penasaran, dia ikut juga. Mereka naik beberapa motor, Muthe duduk di depan sebagai penunjuk arah.
Setelah perjalanan sekitar lima belas menit, mereka berhenti di depan sebuah café yang terlihat mewah dengan dekorasi balon di pintu masuk. Marsha langsung mengernyit.
“Eh, ngapain kita ke café? Kita kan biasanya nongkrong di warung kopi depan sekolah aja,” ucap Marsha curiga.
“Udah ikut aja, jangan banyak tanya sha,” kata Indah sambil menggandeng tangan Marsha masuk.
Begitu pintu café dibuka, tiba-tiba terdengar teriakan ramai.
“**SURPRIISEEE!!!**”
"Selamat ulang tahun sha" Teriak anak jmt dan teman Marsha yang lain.
Ruangan itu langsung dipenuhi sorakan, confetti bertebaran di udara, dan hiasan ulang tahun berwarna Biru—warna favorit Marsha. Tepat di tengah ruangan, berdiri Ferrel dengan sebuah kue ulang tahun besar yang dihiasi lilin angka.
Mata Marsha langsung melebar, tubuhnya terdiam di tempat. Dia menutup mulutnya dengan tangan, menahan rasa terkejut sekaligus haru.
“Selamat ulang tahun, sayang…” ucap Ferrel dengan suara lembut, sambil berjalan mendekat dan menatap Marsha penuh kasih.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perjodohan [ fresha]
Non-Fiction*seorang yang di jodohkan orang tuanya akan tetapi dia menolak perjodohan itu karena dia takut tidak dapat melanjutkan cintanya kepada seseorang. * * * * * " gue ada pantun nih temen - temen baca ya" * pergi ke pasar membeli merica ...
![Perjodohan [ fresha]](https://img.wattpad.com/cover/380104769-64-k129857.jpg)