Selamat membaca semuanya lebih baik up pagi, siang, sore atau malam gays. Btw jangan lupa vote, komen and follow.
.
.
.
.
.
Namun tiba-tiba, dari balik gelap, terdengar langkah tergesa. Salah satu musuh yang masih tersisa ternyata belum kabur. Dengan wajah penuh amarah, ia menggenggam besi panjang dan berlari ke arah Ferrel.
“FEREL!!!” teriak Fiorenzo yang melihatnya lebih dulu.
Terlambat. Besi itu menghantam punggung Ferrel dengan keras. Suara dentuman membuat semua orang terkejut. Ferrel sempat menoleh, tapi pandangannya langsung buram. Napasnya tersengal, lalu tubuhnya ambruk ke aspal.
“FERREL!!!” Fiorenzo langsung berlari menghampiri, menahan tubuh adiknya yang sudah tak sadarkan diri. Darah mengalir dari bibir Ferrel, matanya terpejam.
Zean dengan marah menyeruduk musuh yang menyerang itu. Pukulan telaknya menghantam wajah si penyerang hingga roboh seketika. “Berani lo nyerang dari belakang, HAH?!” teriak Zean penuh emosi.
Anggota geng Zean lain langsung mengamankan situasi, memastikan tidak ada lagi musuh yang tersisa.
Sementara itu, Fiorenzo panik mengguncang tubuh Ferrel. “Rel! Bangun, Rel! Jangan tinggalin gue, anjing!” suaranya pecah, hampir menangis.
Zean mendekat, masih terengah. Wajahnya tegang, berbeda dari biasanya. “Tenang, dia masih napas… tapi kita harus cepet bawa dia keluar dari sini. Kalau nggak, bisa bahaya.”
Dalam kegelapan malam itu, kemenangan mereka terasa pahit. Ya, musuh memang tumbang. Tapi Ferrel, yang mati-matian bertahan, kini terbaring tak sadarkan diri di pelukan kakaknya.
Siap, aku teruskan dengan adegan mereka memutuskan membawa Ferrel ke rumah sakit, tetap dengan nuansa tegang karena kondisi darurat.
Fiorenzo masih memeluk tubuh Ferrel yang terkulai. Tangannya gemetar, suaranya serak. “Rel… tahan sedikit lagi… jangan tinggalin gue.”
Zean meremas rambutnya frustasi, lalu berdiri dengan tatapan tegas. “Nggak ada waktu lagi. Kita harus bawa dia ke rumah sakit sekarang!”
“Gimana caranya? Kita semua babak belur, motor juga sebagian rusak,” protes salah satu anak geng.
“Kalau nunggu di sini, dia bisa mati!” bentak Zean.
Tanpa banyak pikir, Zean dan dua anak gengnya mengangkat tubuh Ferrel pelan-pelan. Fiorenzo ikut menopang dari sisi lain meski tubuhnya sendiri gemetar. Mereka berjalan cepat ke motor yang masih bisa dipakai.
“Cepet! Naikin dia ke motor gue!” kata Zean.
Fiorenzo menahan napas, menatap wajah adiknya yang pucat. Ia berbisik lirih, hampir putus asa. “Rel… tolong kuat, bentar lagi kita sampai.”
Dengan hati-hati, mereka membaringkan Ferrel di jok motor, Fiorenzo duduk di belakang sambil memeluk tubuh adiknya erat agar tidak jatuh. Zean menyalakan mesin motor dengan sekali hentak, suara knalpot meraung keras memecah kesunyian malam.
Beberapa anggota geng lain ikut menyalakan motor mereka, membentuk barisan untuk mengawal. Jalanan sempit itu dilewati dengan kecepatan penuh, lampu-lampu jalan berkelebat cepat.
Di tengah perjalanan, Fiorenzo merasakan napas Ferrel makin lemah. Paniknya memuncak. “Zee! Cepetin! Ade gw makin lemes!”
"Gw tau! Pegangan yang kuat!” teriak Zean dari depan, menambah gas tanpa ragu.
Deru motor mereka menembus malam, menuju satu-satunya harapan yang tersisa—ruang gawat darurat rumah sakit terdekat.
Motor-motor meraung kencang, membelah jalanan malam yang sepi. Angin kencang menerpa wajah Fiorenzo, tapi yang ia rasakan hanyalah dinginnya tubuh Ferrel di pelukannya. Napas adiknya terasa semakin tipis.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perjodohan [ fresha]
Non-Fiction*seorang yang di jodohkan orang tuanya akan tetapi dia menolak perjodohan itu karena dia takut tidak dapat melanjutkan cintanya kepada seseorang. * * * * * " gue ada pantun nih temen - temen baca ya" * pergi ke pasar membeli merica ...
![Perjodohan [ fresha]](https://img.wattpad.com/cover/380104769-64-k129857.jpg)