BAB 53

427 33 3
                                        

Udah yah besok kayanya author gak up deh, selamat membaca...
.
.
.
.

Marsha langsung berdiri spontan. “Apa? Ferrel sadar?”
“Iya, Nak. Tapi dia nyebut nama seseorang…” suara Bunda Chika sempat terhenti sesaat sebelum melanjutkan, “…dia nyebut nama *Flora*.”

Genggaman tangan Marsha di ponsel perlahan melemah. Pandangannya kosong, seolah dunia di sekitarnya tiba-tiba berhenti.

Lukas yang melihat perubahan ekspresinya langsung berdiri, menatapnya cemas. “Sha, kenapa? Ada apa?”

Marsha menelan ludah, suaranya hampir bergetar. “Ferrel… dia sadar. Tapi… yang pertama dia cari bukan gue.”

Lukas mengerutkan kening. “Maksud lu—”

“Dia nyebut nama *Flora*,” potong Marsha cepat, suaranya bergetar.

Lukas terdiam, rahangnya mengeras. Ia menatap Marsha dengan campuran simpati dan kekesalan. “Sial….” gumamnya pelan.

Marsha menggenggam kuat ujung jaketnya, matanya mulai berkaca-kaca lagi.
“Gue pengen seneng, Luk… pengen seneng karena dia udah sadar. Tapi kenapa justru hati gue kayak diremukin gini?”

Lukas berdiri di hadapannya, menatap dengan sungguh-sungguh. “Kalau gitu, ayo balik. Lu harus denger langsung dari dia, bukan dari omongan siapa pun. Mungkin itu cuma refleks—nama pertama yang muncul karena dia belum sepenuhnya sadar.”

Marsha mengangguk pelan, tapi langkah kakinya terasa berat saat ia mulai berjalan kembali ke ruang rawat.

Di ujung koridor, lampu-lampu putih menyala redup. Lukas mengikuti di belakang, sementara di dalam ruang rawat, suara lembut Flora terdengar samar dari balik pintu—
“Ferrel… kamu udah sadar? Aku senang banget akhirnya kamu sadar”

"I-iya sayang " Ucap ferrel terbata akibat baru sadar dari koma.

Teman lain yang mendengarkan ucapan ferrel sontak kaget.

Sedangkan marsha yang mendengarkan ucapannya ferrel seketika berhenti di depan pintu yang sedikit terbuka, menatap ke dalam dengan mata bergetar, menahan napas, dan dalam hatinya berkata lirih,

“Kalau emang cinta ini harus diuji, gue siap. Tapi jangan sampai gue harus ngeliat dia milih orang lain di depan mata gue lagi…”

Saat Christian akan menghampiri ferrel untuk meminta penjelasan mengapa ferrel memanggil flora dengan sebutan sayang. Tapi sebelum Christian menghampiri ferrel tiba-tiba marsha dan lukas masuk bersaman.

Kini marsha sudah berada di dalam ruang inap ferrel dan menghampiri ferrel yang terbaring.

Marsha langsung menggenggam tangan Ferrel dengan lembut.
“sayang… kamu udah sadar?” tanyanya marsha lembut.

Ferrel menatapnya lama, keningnya berkerut pelan seolah berusaha mencari sesuatu dalam ingatannya. “lu … siapa?”

Marsha sontak menatapnya tak percaya. “Hah? Sayang, ini aku… chacha kamu. Pacar kamu.”

Ferrel tampak bingung. Ia menoleh ke arah sekitar ruangan, lalu kembali menatap Marsha. “lu pacar gw? Enggak mungkin… pacar gw itu Flora bukan lu.”

Kata itu keluar begitu saja dari bibir Ferrel, dengan ekspresi polos dan yakin—tanpa sedikit pun sadar kalau baru saja menghancurkan hati seseorang.

Marsha langsung terdiam, matanya membulat. Bibirnya terbuka, tapi tak ada suara yang keluar. Sementara di dadanya, sesuatu terasa runtuh.

“Flora…?” suaranya akhirnya keluar pelan, hampir seperti bisikan yang pecah. “ngak pacar kamu bukan flora tapi aku sayang.”ucap marsha mangkin mengertkan gengaman tanganya dan ferrel.

Ferrel mengerutkan alis. “ngak lu bukan pacar gw pacar gw itu dia flora. Kenapa lu ngomongnya kayak gitu? Tadi juga Flora di sini ‘kan, dia yang pegang tangan aku waktu aku bangun.”

Marsha menatap Ferrel dengan air mata yang mulai menetes. “Tapi, sayang… kamu dan Flora udah lama putus. Sekarang pacar kamu itu aku… bukan flora sayang plis dengarin aku”

Ferrel terdiam, lalu menggeleng pelan. “Enggak, gw nggak inget pernah pacaran sama lu. Maaf, aku… bener-bener nggak inget.” ucap ferrel sambil melaporkan gengaman tangan marsha dan langsung mengengam tangan flora.

Marsha yang melihat itu seketika hatinya sangat hancur lebur.

Suasana hening. Hanya suara detak monitor detak jantung yang terdengar pelan.
Marsha mundur satu langkah, menutup mulutnya dengan tangan, matanya gemetar menahan tangis.

Lukas yang masih berdiri di dekat pintu langsung masuk, wajahnya tegang. “Rel, lu inget gue, kan?”

Ferrel menatapnya sebentar, lalu mengangguk pelan. “Lukas? Iya, gue inget. Lu sahabat gue.”

Lukas menarik napas lega, tapi langsung menatap Marsha dengan pandangan tak tega.
“Berarti sebagian ingetan lu hilang… tapi bukan semuanya.”

Bunda Chika yang kembali masuk setelah mendengar suara tegang di dalam langsung menghampiri.
“Ada apa ini?” tanyanya cemas.

Marsha buru-buru menghapus air matanya, berusaha terlihat kuat. “Bun… Ferrel… dia nggak inget aku.”

Bunda Chika langsung menatap Ferrel dengan kaget. “Ferrel? Nak, kamu nggak inget siapa Marsha?”

Ferrel tampak kebingungan, lalu menggeleng perlahan. “Aku… inget Flora, Bun. Tapi aku nggak inget kalau aku punya hubungan sama dia.”ucap ferrel sambil menujuk ke arah marsha yang sudah terdiam.

Bunda Chika menatap Marsha dengan wajah iba, lalu berusaha menenangkan. “Nak, mungkin ini efek dari benturan di kepalanya waktu kecelakaan. Ingatannya belum pulih sepenuhnya.”

Namun bagi Marsha, kata-kata itu tak banyak membantu.
Yang ia rasakan sekarang hanyalah kehilangan—kehilangan seseorang yang masih hidup, tapi tak lagi mengenalnya.

Flora yang sejak tadi berdiri diam di dekat marsha, seketika senyum yang sulit di artikan dan itu tidak ada yang memperhatikan sikap flora karena mereka fokes ke ferrel dan marsha.

*“hahah... Akhirnya dunia berpihak ke gw ini kesempatan gw buat ngerebut ferrel dari wanita murahan itu”* batinnya.

Bunda Chika lalu berkata pelan pada Marsha, “Nak, mungkin sebaiknya kamu istirahat dulu. Biar Ferrel tenang dulu sementara, nanti kita konsultasi ke dokter.”

Marsha hanya mengangguk kaku.
Ia berbalik perlahan, berjalan keluar ruangan dengan langkah gontai.ashel, kathrin, jessi, muthe dan kak indah menatap punggungnya yang mulai gemetar langsung menghampiri marsha untuk menenangkan marsha, sementara itu flora tersenyum licik.

Di dalam, Ferrel menatap pintu yang tertutup pelan, lalu menoleh ke arah Bunda Chika.
“Bun… kenapa dia nangis? Aku bilang salah, ya?”

Bunda Chika menatapnya dalam, menahan air mata.
“Tidak, Nak. Kamu nggak salah. Cuma… kamu lupa sesuatu yang sangat berarti buat seseorang.”

Ferrel masih menatap pintu yang baru saja tertutup, matanya kosong, seolah mencoba memahami perasaan aneh yang tiba-tiba menggelayuti dadanya. Ia tak mengerti mengapa melihat gadis itu—Marsha—menangis membuat dadanya terasa sesak.

Flora yang berdiri di sisi ranjang berpura-pura menatap Ferrel dengan tatapan lembut.
“Udah, Rel. Kamu jangan mikirin yang aneh-aneh dulu, ya. Sekarang yang penting kamu istirahat biar cepat sembuh,” ucapnya dengan suara penuh kasih yang dibuat-buat.

Ferrel menatap Flora dan tersenyum samar. “Iya, makasih, sayang. Aku senang kamu di sini bersama ku.”

Flora tersenyum manis. “Selalu, Rel. Iya aku disini dan nggak akan ninggalin kamu kayak dulu…” ucapnya pelan, seolah bernostalgia, padahal sengaja menanamkan kata-kata itu agar Ferrel semakin yakin.

Bunda Chika yang mendengarnya hanya menunduk, tak ingin memancing suasana. Dalam hatinya ia tahu, sesuatu terasa salah — tapi ia tak ingin menambah beban pikiran anaknya yang baru saja sadar.

#tbc...
Gimana apakah hubungan Marsha dan ferrel akan tetap kokoh atau sebaliknya...

Perjodohan  [ fresha] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang