BAB 61

298 28 3
                                        

Selamat membaca...

Flora mendengar kabar tentang Gilang yang masuk penjara. Emosinya meledak tanpa bisa ditahan.

“Akhh… BAJINGAN!
Dasar Gilang bodoh! Kenapa lu bisa sampai ketangkep, hah!? Dan kenapa juga Fiorenzo bisa tau kalau geng lu yang bikin Ferrel kayak gini!?” teriak Flora sambil melempar apa pun yang ada di hadapannya.

Vas pecah, kertas beterbangan, dan napas Flora memburu penuh amarah.

Beberapa menit kemudian, setelah kehilangan suara karena teriak, ia akhirnya terduduk lemas di lantai. Tangannya bergetar.

“Oke… Flora, lu harus tenang…” bisiknya pada diri sendiri di depan cermin.

Ia menarik napas panjang, menatap pantulan dirinya—wajah kusut, rambut acak-acakan, mata sembab.

“…Walaupun Gilang masuk penjara, rencana gue gak akan berhenti. Gue masih punya cara. Ferrel bakal tetap balik ke gue. Jadi milik gue seutuhnya.”
Senyum licik muncul di sudut bibirnya.

---

## **Keesokan Harinya…**

Langit pagi tampak pucat. Embun masih menggantung di jendela kamar Flora, tapi tak ada satu pun yang mampu menurunkan panas amarah yang terus menyala dalam dirinya sepanjang malam.

---

## **Scene di Danau — Marsha**

Angin pagi menggeser permukaan danau pelan-pelan, seakan menyapu luka hati yang tak kunjung sembuh.

Marsha berdiri di tepi danau, memandangi pantulan wajahnya sendiri… namun pikirannya hanya terlihat satu bayangan: **Ferrel**.

“Kenapa sih semuanya harus berubah…?” bisiknya lirih.

“Ferrel… kenapa lu bisa lupa semuanya? Lupa gue… cerita kita… semua janji itu…”
Air matanya jatuh.
“Apa gue emang gak cukup berarti buat lu?”

Ia duduk di atas batu besar, memeluk lutut, membiarkan dirinya rapuh untuk pertama kalinya sejak insiden itu.

Tiba-tiba.

**Krek… krek…**

Marsha cepat-cepat menghapus air matanya. Dari balik pepohonan, muncullah seorang laki-laki berjaket hitam — **Fiorenzo**.

“Marsha…” panggilnya pelan.

Marsha terkejut, “Fio? Ngapain lu di sini?”

Fio berjalan mendekat tapi menjaga jarak.
“Lu gak masuk sekolah. Flora juga gak keliatan. Ferrel masih di UKS—dan gue dapet kabar ada gerakan aneh dari orang-orang Gilang. Jadi gue cari lu. Gue khawatir.”

Marsha menunduk. “Gue cuma butuh waktu sendiri…”

Fio mengangguk, lalu menatapnya serius.

“Marsha, Ferrel mulai ingat sesuatu. Semalam, sebelum tidur… dia nyebut nama lu.”

Marsha tertegun. “A-apaa?”

“Dia juga mimpi buruk. Tentang seseorang yang dia bilang… ‘nggak bener’. Namanya: Flora.”

Marsha membelalakkan mata. “Flora…?”

“Gue rasa Flora bakal bergerak lagi. Dan setelah Gilang ketangkep, dia pasti makin nekat. Danau ini jauh. Gue gak mau lu sendirian.”

Marsha menggigit bibir.
“Kasih gue sedikit waktu lagi di sini bang… gue masih mau nenangin diri.”

Fio menghela napas, lalu mengangguk.
“Oke. Gue tunggu di sana, jangan lama.”

Perjodohan  [ fresha] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang