BAB 40

742 48 4
                                        

☄Selamat membaca☄
.
.
.

Suasana pesta yang tadinya penuh tawa dan keceriaan langsung berubah hening. Musik yang masih berputar seolah tidak berarti lagi ketika semua mata memandang ke arah pintu tempat Marsha pergi.

“Sha…?” bisik Khatrin lirih, tidak percaya sahabatnya meninggalkan pesta ulang tahunnya sendiri dengan cara seperti itu.

Muthe dan Grace saling berpandangan, mencoba menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi. “Apa Ferrel bilang sesuatu yang nyakitin hati Marsha?” gumam Grace dengan nada khawatir.

Namun yang membuat semua orang makin bingung adalah sikap Ferrel. Bukannya berusaha mengejar atau menjelaskan, ia justru mengambil jaketnya dan berjalan keluar dengan wajah datar.

“Rel! Tunggu! Sebenarnya apa yang barusan terjadi?!” seru Indah setengah panik.

Ferrel hanya menoleh sebentar, tatapannya dingin dan penuh rahasia, lalu tanpa sepatah kata pun ia melangkah pergi meninggalkan café.

Semua orang terdiam. Tidak ada yang mengerti apa maksud dari sikap Ferrel.

“Ini gila… ulang tahun yang tadinya manis banget jadi kacau begini,” ucap Ashel sambil memegang keningnya.

Khatrin menendang kursinya dengan kesal. “Aku nggak bisa diem aja. Aku mau cari Marsha. Dia pasti butuh kita sekarang.”

Beberapa teman pun setuju untuk membagi tugas: sebagian mencari Marsha yang kabur entah ke mana, sementara yang lain mencoba mencari tahu kebenaran tentang apa yang sebenarnya diucapkan Ferrel.

Di luar, malam semakin larut. Jalanan lengang, dan hujan rintik mulai turun. Entah di mana Marsha berada, ia pasti sedang hancur, sementara Ferrel yang memilih menjauh justru menimbulkan lebih banyak tanda tanya.

Di sisi lain, Marsha berlari tanpa arah sampai akhirnya tiba di sebuah taman sepi yang jarang sekali dikunjungi orang. Lampu taman yang redup dan suara rintik hujan membuat suasana terasa semakin muram.

Ia duduk di bangku kayu yang sudah basah, memeluk dirinya sendiri sambil terisak. Nafasnya tersengal, matanya bengkak karena tangis yang tak terbendung.

“Kenapa… kenapa harus sekarang, Rel…?” bisiknya dengan suara bergetar.

Kata-kata yang diucapkan Ferrel terus terngiang di kepalanya, menusuk lebih dalam dari sekadar luka fisik. Marsha mencoba mencerna maksud ucapan itu, tapi semakin ia memikirkannya, hatinya semakin sakit. Campuran marah, kecewa, dan sedih bercampur menjadi satu, membuatnya merasa dunia runtuh tepat di hari yang seharusnya menjadi hari terindah dalam hidupnya.

Air matanya kembali jatuh, deras, tanpa bisa ia hentikan. Ia menundukkan kepala, menutup wajah dengan kedua tangan. “Rel… kenapa kamu tega ngomong gitu ke aku…?”

Di antara sepinya malam, hanya suara tangis Marsha dan rintik hujan yang menjadi saksi betapa hancurnya perasaan seorang gadis yang baru saja disakiti oleh orang yang paling ia percayai.

Marsha menatap kosong ke arah genangan air di depan kakinya. Bayangan dirinya yang basah dan berantakan tampak samar, seolah mencerminkan isi hatinya yang kini porak-poranda.

Ia menggenggam erat kalung kecil yang selalu dipakainya—hadiah dari Ferrel beberapa bulan lalu. “Apa arti semua ini kalau akhirnya kamu ngomong kayak gitu, Rel?” ucapnya lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin malam.

Pikirannya kacau. Marsha berusaha mengingat semua kenangan indah yang pernah mereka lewati bersama: tawa, janji, dan perhatian kecil yang selalu membuatnya merasa berarti. Tapi satu kalimat dari Ferrel malam ini seolah menghapus semuanya dalam sekejap.

Perjodohan  [ fresha] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang