Aleia Saraswati, seorang guru sejarah yang tiba-tiba terbangun dalam tubuh Aleia Sheeqa, karakter antagonis dalam novel terkenal "Azkia Mengejar Cinta". Aleia Sheeqa, yang selama ini dikenal sebagai pengacau dalam kisah cinta Akhtar dan Azkia, hidup...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
*Aleia Pov*
Hari ini aku datang ke kantor Erlangga Group agak siang karena aku hari ini ada jadwal di perusahaan ku sendiri. Saat aku masuk ke dalam ruangan ku di sana sudah ada Akhtar yang duduk di sofa dengan wajah lesu dan murung.
"Udah lama?"
"Iya." Dia menjawab pelan tanpa semangat sama sekali.
"Ada masalah?" Aku duduk di sebelahnya dan menatapnya intens.
"Mungkin ini waktunya aku jujur dengan takdirku di masala lalu." Akhtar mengatakannya sambil menunduk.
Akhtar belum pernah bercerita tentang kehidupannya di masa lalu. "Cerita kalau kamu sudah siap."
"Aku akan cerita sekarang. Di hari pernikahan kami, Arshaka datang menyerang dan menculik Azkia, aku membunuh Arshaka saat itu." Dia menjeda ceritanya.
"Akhtar, aku tahu hal ini. Kalau kamu belum siap tidak perlu ceritan." Aku mengelus bahunya, dia sepertinya sedangan ada masalah serius.
"AKU AKAN CERITA KAK!!" Ucapnya tegas.
"Setalah Arshaka meninggal kamu hidup bahagia, Azkia hamil dan kami menanti kelahiran anak pertama kami, tapi saat bulan ke delapan Azkia keguguran karena jatuh dari tangga. Kami terpukul, Azkia sempat depresi karena kehilangan itu. Aku menemaninya selalu dan mengatakan bahwa anak kami sudah bahagia." Akhtar bercerita sambil menangis, aku terus mengelus bahunya untuk menenangkannya.
"Azkia kembali seperti semula kak, dia sering datang ke panti asuhan untuk menghibur dirinya dan di sana dia sering bertemu dengan Damian. Tepat dua tahun pernikahan kami Damian menyerang keluarga Erlangga dengan bantuan musuh Higabana, dan juga Zivanya adalah mata-mata dalam keluarga. Zivanya mengaju padaku bahwa keguguran Azkia adalah rencana Damian dan dia yang di minta, di rumah keluarga ku juga banyak mata-mata Damian sekarang, aku membiarkan agar Damian tidak curiga aku tahu rencananya."
"Penyerangan itu Zivanyak menculik Azkia dan anak buah Damian membunuh mama juga para pelayan di rumah. Sedangkan musuh Higabana membunuh eyang dan semua yang berada di rumah utama. Zivanya tiba-tiba mengabari dimana markas Teratai darah dan tepat Azkia berada, saat aku sampai di sana Zivanya sudah meninggal ditangan Damian karena berkhianat. Aku bertarung dengan Damian dan akhirnya aku kalah, aku tidak pernah melihat Azkia, aku gagal menyelamatkannya dari Damian, kak."
Akhtar menangis saat pilu, aku tahu perasaannya saat tidak melindungi orang yang dicintai.
"Lucian Graves tidak akan mengusik Higabana ataupun Erlangga, aku dan dia sudah membuat kesepakatan yang tidak akan bisa dia khianati." Aku mengatakannya dengan serius dan tetap tenang.
"Kak? Bagaimana bisa? Kita musuh bebuyutan."
"Bisa saja, aku memberitahu dimana keberadaan istri dan anaknya, bayaranya adalah kita berdamai."
"Siapa?"
"Kamu nggak pernah ketemu dan gak tahu dia siapa, yang penting sekutu terbesar Damian udah berpihak ke kita. Kamu fokus jaga Azkia saja dari mata-mata dirumahmu, soal Zivanya dan Arvin itu urusanku."