CHAPTER 33

768 86 9
                                        

*Normal Pov*

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

*Normal Pov*

Pagi itu suasana di halaman depan mansion Alaster terasa tenang. Udara masih sejuk dengan embun yang belum sepenuhnya menghilang dari dedaunan. Beberapa pengawal berjaga di titik-titik yang sudah ditentukan, sementara mobil hitam mewah milik Arshaka telah terparkir rapi di depan pintu utama.

Arshaka melangkah keluar rumah bersama Rafka. Hari itu, seperti biasa, ia akan mengantar putranya ke sekolah terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan menuju Alaster Group.

Rafka yang mengenakan seragam sekolah lengkap berjalan di samping papanya sambil membawa tas ransel kecil, wajahnya tampak ceria.

"Papa, nanti sore jemput lagi ya?" tanya Rafka sambil mendongak menatap sang ayah.

Arshaka menoleh sekilas, lalu mengusap lembut kepala putranya.

"Iya. Kalau pekerjaan papa selesai tepat waktu, papa yang jemput," jawab Arshaka dengan nada tenang.

Rafka langsung mengangguk puas.

Mereka berjalan hingga tiba di samping mobil. Seorang pengawal segera membukakan pintu belakang untuk Rafka.

Namun, saat Arshaka hendak membuka pintu mobilnya sendiri, langkah seseorang terdengar tergesa-gesa dari arah pos keamanan.

"Maaf, Tuan. Tadi ada kurir mengantar berkas," lapor salah seorang satpam sambil menghampiri Arshaka. Di tangannya terdapat sebuah amplop cokelat berukuran cukup besar.

Arshaka menerima amplop itu tanpa banyak bicara. Tatapannya langsung mengamati bagian depan dan belakang amplop tersebut.

Tidak ada nama pengirim, tidak ada logo perusahaan, hanya sebuah amplop polos yang tertutup rapat. Alis Arshaka sedikit berkerut.

"Tidak ada nama pengirimnya. Sudah dicek, ini aman, Pak An?" tanya Arshaka sambil mengangkat pandangannya kepada kepala keamanan mansion.

Pak An mengangguk mantap.

"Sudah, Tuan. Sesuai prosedur, amplop itu sudah kami periksa. Tidak ada bahan peledak, racun, ataupun alat pelacak. Isinya hanya berkas," jawab Pak An dengan penuh keyakinan.

Arshaka menganggukkan kepala pelan. Tanpa menunjukkan ekspresi apa pun, ia menyelipkan amplop cokelat itu ke dalam tas kerja yang dibawanya.

"Papa, ayo! Nanti telat!" protes Rafka dari dalam mobil sambil melambai kecil.

Senyum tipis akhirnya terukir di wajah Arshaka.

"Iya, Jagoan," balas Arshaka sambil masuk ke dalam mobil.

Mobil Arshaka mulai melaju meninggalkan mansion Alaster. Kalau kalian tanya di mana Aleia, dia tidak pulang semalam dan tidur di apartemennya, sekarang pasti sudah dalam perjalanan menuju Erlangga Group.

Sekitar tiga puluh menit kemudian, mobil yang dikendarai Arshaka memasuki halaman sekolah Rafka.

Pagi itu suasana sekolah sudah ramai. Para orang tua silih berganti menurunkan anak-anak mereka di area khusus antar-jemput. Terdengar suara tawa anak-anak yang berlarian menuju gerbang sekolah, sementara beberapa guru berdiri menyambut murid dengan senyum ramah.

Antagonist CoupleCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang