CHAPTER 34

417 75 2
                                        

*Normal Pov*

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


*Normal Pov*

Erlangga Group

Di ruang CEO yang luas, Aleia duduk santai di sofa bersama Zivanya. Di atas meja kopi terdapat dua cangkir kopi yang masih mengepulkan uap hangat.

Aleia menyilangkan kedua kakinya dengan anggun sambil mengaduk kopinya perlahan.

"Bagaimana kakakmu itu?" tanya Aleia santai.

Zivanya meletakkan cangkir kopinya kembali ke atas meja. Wajahnya terlihat berpikir sejenak sebelum menjawab.

"Dia kemarin marah-marah saat pagi hari. Mengatakan bahwa penyelundupan berlian dan emas gagal juga dicuri. Dugaan sementara adalah kelompok Mafia Mawar Hitam karena ditemukan setangkai mawar hitam di tubuh orang terpercaya kami. Malamnya dia bahagia sekali, seperti mendapatkan apa yang dia mau," jawab Zivanya jujur.

Sudut bibir Aleia terangkat membentuk senyum tipis. Ia sudah bisa menebak apa yang membuat Damian begitu puas semalam.

"Setelah ini jika dia bertanya padamu, 'Apa yang kamu lakukan di sini?' jawab saja aku memanggilmu untuk memberitahu peraturan-peraturan keluarga Erlangga dan ceritakan apa yang kamu lihat sebentar lagi," ucap Aleia tenang sambil menyesap kopinya.

"Maksudnya, Kak?" tanya Zivanya bingung. Alisnya mengernyit karena tidak memahami maksud Aleia.

Aleia hanya tersenyum tipis. Belum sempat ia menjawab.

BRAK!!

Pintu ruangan terbuka dengan keras hingga membentur dinding. Zivanya sontak melihat kearah pintu karena terkejut.

Arshaka berdiri di ambang pintu dengan napas memburu. Rahangnya mengeras, urat di lehernya tampak menonjol, sementara sorot matanya dipenuhi amarah yang belum pernah dilihat Zivanya sebelumnya.

Di tangan kanannya tergenggam sebuah amplop cokelat yang sudah sedikit kusut karena diremas terlalu kuat. Tanpa mengatakan apa pun, Arshaka berjalan menghampiri meja.

Brak!

Amplop itu dilemparkannya tepat di hadapan Aleia. Aleia hanya menatap amplop tersebut sekilas, lalu mengangkat pandangannya kepada sang suami. Tidak ada rasa takut, tdak ada kepanikan, yang ada hanya senyum miring yang sulit diartikan.

"Zivanya, pergilah ke ruangan Arvin dan bahas pernikahan kalian. Oh ya, jangan lupa permintaanku tadi," ucap Aleia tenang tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya dari Arshaka.

Zivanya bergantian menatap Aleia dan Arshaka. Instingnya mengatakan, ia tidak seharusnya berada di ruangan itu.

"Ba... baik, Kak."

Dengan langkah pelan, Zivanya segera meninggalkan ruangan.

Klik.

Pintu kembali tertutup.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 5 days ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Antagonist CoupleCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang