Punya wajah tampan pasti menjadi keinginan semua cowok. Tapi bagaimana kalo tampannya kelewatan hingga mendekati cantik?
Itulah yang dialami Karrie saat ini. Tidak ada yang memperlakukannya sebagai cowok. Mulai dari Mamanya, teman-temannya, hingga...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pagi ini Mikayla menemui Bu Anggun di ruang konseling untuk memeriksa essay yang telah selesai. Mikayla menyodorkan essay yang telah dia print ke Bu Anggun. Chivas memasuki ruangan, yang disambut senyuman Bu Anggun. Ternyata Bu Anggun memang telah memanggil Chivas juga. MIkayla tak bisa menyembunyikan kecanggungannya saat cowok itu duduk di kursi sampingnya.
Bu Anggun mulai membaca essay itu. Dan setelah membacanya, Bu Anggun mencoret-coret beberapa hal. Belum selesai dengan essay itu, ponselnya berdering.
"Sebentar ya ..." Bu Anggun keluar ruangan untuk menerima telepon. Membuat Mikayla dan Chivas semakin canggung.
Mikayla berusaha melihat ke arah lain. Agar tak perlu bertatapan dengan Chivas. Sementara Chivas tampak santai seperti biasa. Duduk bersandar dengan kedua tangan masuk di saku celana. Karena sikap Mikayla yang seolah ingin lari dari sana, mau tak mau Chivas juga merasakannya.
"Kalo lo gak nyaman sama gue, nanti biar gue bilang ke Bu Anggun kalo gue akan keluar dari lomba essay."
Mikayla hanya diam.
Bu Anggun memasuki ruangan. Dia melanjutkan memeriksa essay.
"Bu, saya mau mengundurkan diri dari lomba essay," ucap Chivas.
"Kenapa?" Bu Anggun menatap Chivas.
"Eee ..." Chivas jadi kebingungan karna belum memikirkan alasannya.
Bu Anggun kembali memeriksa essay. "Kamu bilang gak lagi sibuk kan. Lagian kan tinggal dua hari lagi. Nanti Mikayla kesulitan. Bukannya kamu juga lagi ngumpulin sertifikat buat nambah poin ya. Tema ini juga katanya kamu suka banget."
Setelah mendengar ucapan Bu Anggun, Chivas malah tak bisa berkata apa-apa lagi.
"Saya anggap kamu tetep mau lanjut ya ..."
Bu Anggun menyodorkan essay yang telah dia periksa. Di sana terdapat banyak sekali coretan dengan pulpen merah.
"Perbaiki lagi ya. Besok saya mau lihat lagi."
Setelah menyelesaikan kata-katanya, guru biologi itu pun pergi.
Mikayla pusing melihat banyaknya revisi yang dia dapat. Apalagi waktu tinggal dua hari saja. Chivas mengambil lembaran essay di tangan Mikayla. Dia melihat apa saja yang perlu diperbaiki. Mikayla yang tadinya terkejut dan agak takut, kini malah heran melihat Chivas yang nampak serius melihat coretan di essay. Cowok itu pun pergi dan membawa essay itu. Mikayla sampai bengong karna essaynya malah dibawa Chivas. Ingin mengejar tapi takut. Alhasil dia cuma bisa memandangi punggung cowok itu yang semakin menjauh.
Chivas mengambil laptopnya di kelas dan membawanya ke perpustakaan. Dia bertekat mengerjakan essaynya sampai selesai meski harus tinggal di sana semalaman. Dan dia benar-benar di sana sampai bolos pelajaran, tidak makan siang, bahkan begadang semalaman saking fokusnya.
Tanpa terasa matahari telah terbit. Akhirnya Chivas berhasil menyelesaikan semua essay serta revisinya. Chivas menyimpan filenya di flashdisk. Lalu membawanya ke kelas Mikayla. Rencananya dia akan meletakkannya di meja Mikayla. Namun sampai sana, melihat ruang kelas yang kosong dan belum begitu terang, Chivas malah duduk di bangku Mikayla. Dia melepas kacamatanya dan mengucek matanya yang mengantuk. Lalu merebahkan kepalanya di meja. Kemudian tertidur pulas.