Punya wajah tampan pasti menjadi keinginan semua cowok. Tapi bagaimana kalo tampannya kelewatan hingga mendekati cantik?
Itulah yang dialami Karrie saat ini. Tidak ada yang memperlakukannya sebagai cowok. Mulai dari Mamanya, teman-temannya, hingga...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pak Totok membuka kresek hitam yang dia temukan di kolong meja Mikayla. Dan setelah dibuka, ternyata isinya adalah alat tes kehamilan yang masih tersegel. Bukan hanya Pak Totok, semua yang ada disitu juga sangat kaget, termasuk Mikayla.
"Apa ini, Mikayla?!" bentak Pak Totok.
"Gak tau Pak. Bukan punya saya," jawab Mikayla.
"Bukan punya kamu gimana?! Ini kan ada di meja kamu!"
"Beneran saya gak tau, Pak kenapa bisa ada disini."
"Ikut saya!"
Dengan takut-takut Mikayla mengikuti Pak Totok keluar kelas. Bu Ivana buru-buru memasukkan barang sitaan ke dalam box dan mengikuti Pak Totok ke ruang BK.
Di kelas, Karrie melihat Mikayla berjalan mengikuti Pak Totok di koridor. Cowok itu ke pintu kelas dan melihat mereka pergi. Penasaran, Karrie ke kelas sebelah dan bertanya ke Stevan dari jendela.
Karrie segera berlari mengejar Mikayla. Dia menerobos ruang BK. Membuat Mikayla, Pak Totok, dan Bu Ivana kaget.
"Karrie? Ngapain kamu kesini?" tanya Bu Ivana.
"Bu, ada apa sama Mikayla?"
Pak Totok mengeluarkan testpack dari dalam kantong kresek dan meletakkannya di atas meja.
"Gak mungkin itu punya Mikayla. Mikayla bukan orang kayak gitu, Pak."
"Emang kamu 24 jam sama dia?" tanya Pak Totok.
Karrie tersentak. Tak bisa menjawab dengan percaya diri. Sementara itu Mikayla duduk dengan gelisah. Matanya berkaca-kaca. Shock dengan apa yang telah terjadi.
Sementara itu di kelas Chivas. Inspeksi sampai di kelas sebelah. Semua siswa langsung panik dan ingin menyembunyikan barang-barang yang kemungkinan bisa disita. Chivas menggenggam beberapa kondom yang ada di tasnya. Lalu membungkusnya dengan beberapa lembar kertas dan meremasnya hingga menjadi gumpalan. Dengan tenang dia membuangnya di tempat sampah. Lalu duduk lagi di bangkunya seperti tidak terjadi apa-apa.
Karrie mendatangi Chivas di kelas. Lalu menarik tangannya dan membawanya ke lorong sempit dekat perpustakaan.
"Apa sih?!" Chivas menarik tangannya agar terlepas dari cengkeraman Karrie.
Karrie menekan leher Chivas dengan lengannya hingga Chivas menabrak dinding di belakangnya. "Lo kemaren kemana sama Mikayla?! Lo apain dia?!"
"Maksud lo apa?"
"Jawab!!"
"Kita cuma makan, main bowling dan main sepatu roda."