Punya wajah tampan pasti menjadi keinginan semua cowok. Tapi bagaimana kalo tampannya kelewatan hingga mendekati cantik?
Itulah yang dialami Karrie saat ini. Tidak ada yang memperlakukannya sebagai cowok. Mulai dari Mamanya, teman-temannya, hingga...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Kalian kerjain soal di halaman 32. Akan Ibu periksa di pertemuan berikutnya. Sekian untuk hari ini." Bu Anggun mengakhiri pelajaran biologi hari ini.
Saat Bu Anggun meninggalkan kelas, Mikayla mengejarnya. "Bu ... Boleh bicara bentar gak?"
"Ya ... ada apa Mikayla?"
"Saya ada rencana ikut lomba essay ini, Bu." Mikayla menunjukkan pengumuman lomba di ponselnya. "Kira-kira Ibu mau gak jadi pembimbing saya?"
"Wah, senang sekali kalo Ibu bisa membantu."
"Tapi saya belom nemu yang mau jadi partner saya. Temen-temen pada gak mau saya ajak."
"Eem ... kamu mau gak Ibu rekomendasikan seseorang?"
"Boleh banget, Bu."
"Ayo ikut Ibu sebentar."
Bu Anggun mengajak Mikayla ke lantai 3. Itu artinya siswa rekomendasi dari Bu Anggun adalah anak kelas 12. Sampailah mereka di depan kelas 12 IPA-1. Bu Anggun melambaikan tangan memanggil seseorang di kelas. Dan seorang cowok dengan postur tinggi, berkulit putih, serta memakai kacamata menghampiri mereka. Berbeda dengan ekspektasi Mikayla, ternyata orang yang direkomendasikan adalah siswa laki-laki.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Mika, kenalin ini Xavian. Xavian, ini Mikayla."
Mereka berjabat tangan dan saling melempar senyum karir.
"Xavian, Mikayla ini lagi cari partner buat ikut lomba essay. Kira-kira kamu tertarik buat ikut gak?"
"Emm ... boleh. Kebetulan saya lagi gak sibuk."
"Wah ... bagus. Kamu bakal sangat terbantu, Mika. Xavian ini udah sering banget ikut lomba. Kamu bisa banyak belajar dari dia. Ibu harus balik duluan karna mau ke kelas berikutnya."
Bu Anggun pun meninggalkan mereka berdua.
"Minta nomor lo." Xavian menyodorkan ponselnya. "Nanti kita janjian di chat aja. bentar lagi pelajaran mulai."
"Oh ... oke." Mikayla menerima ponsel Xavian dan menulis nomornya.
Xavian terlihat seperti siswa teladan pada umumnya. Tapi dia bukan tipe yang pendiam seperti kutu buku. Melainkan tipe yang aktif dalam bersosialisasi. Terbukti dari banyaknya siswa yang meledeknya dengan gurauan antar teman. Wajahnya juga cukup tampan. Dengan prestasi mentereng dan wajah tampan tentu saja dia bisa jadi cowok yang populer. Tapi anehnya Mikayla tak pernah mendengar nama cowok itu disebut teman-temannya. Wajahnya juga asing.