Carlton
Aku terbangun terlentang dan menatap langit-langit dengan sentakan. Hari sudah terang. Cahaya matahari pagi memenuhi kamar perawatan. Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun aku merasa sakit dimana-mana, paru-paruku sesak, kepalaku berdenyut, dan rasa sakit di kakiku yang dibalut perban menggerogoti isi perutku. Aku tak bisa lari dari rasa sakit ini, meskipun aku berusaha. Untuk sesaat aku melupakan semua yang terjadi kemarin, lalu ingatan itu kembali membanjiriku. Alice. Dimana dia?
Sebuah ratapan mengerikan menyadarkanku, detak jantungku langsung melonjak, lalu turun ketika aku menyadari itu Miranda. Dia membungkuk dan menyeringai, menggodaku, mengingatkanku pada masa lalu, tapi betapa berbedanya dirimu dengan satu-satunya perempuan yang pernah kukejar, dan aku telah tergoda untuk meninggalkan duniaku yang monoton menuju dunia yang penuh warna, namun perempuan yang kucintai tak bisa menjadi apa yang kubutuhkan.
"Selamat pagi, sayang.."
Aku mengabaikan sapaannya, "Dimana dia?"
"Dia?"
"Ya."
"Siapa?"
"Alice", geramku. "Dimana dia?"
"Aku tidak tahu", katanya.
Panik menyergapku. Bagaimana kalau dia pergi? Tidak, dia tidak akan melakukannya. Tanpa berpamitan. Tapi ini bukan yang pertama kalinya, dia pernah melakukannya. Satu-satunya perempuan yang pernah pergi meninggalkanku. Jurang menganga. Tidak. Tidak lagi. Aku langsung menepis pikiran itu.
"Dimana Ben?"
"Ssst, fokuslah pada kesembuhanmu, sayang", ia membelai pipiku dan menggerakkan jemarinya di sepanjang rahangku, menatapku terbuka, jujur, serius. Dia menawarkan dirinya kepadaku.
Oh tidak. Pikiran itu mengerikan, aku langsung menepisnya dan berpaling, dia tidak bisa. Sederhana saja, tak seorangpun boleh merasa seperti itu padaku. Dia berhenti. Kalau dia menyentuhku lagi dia akan tahu, seberapa parah hukumannya. Dia menarik napas dalam-dalam, dan bergerak mundur. Saat dia menatapku matanya menyala karena ketakutan.
"Mana ponsel sialan itu?", mulutku mengoceh, dan bangun perlahan-lahan.
"Apa yang kau lakukan, Carl?", dia menyentuh lenganku untuk membantuku duduk seperti orang lumpuh, dan sentuhannya membuatku jijik.
"Tidak. Pergi. Tinggalkan aku sendiri", aku membentaknya dengan penuh kebencian, dan perempuan itu mengerjap, matanya yang besar penuh kesengsaraan.
Aku memberinya tatapan. Pergi. Sekarang!
Lalu menggosok rambutku dengan tekad yang kuat.
Selamat tinggal.
Dan aku menarik napas.
Setelah Miranda pergi, aku meraih ponselku, mengecek semua pesan yang masuk satu persatu, dan mataku terpaku pada satu pesan yang aku tunggu.
Maaf aku tidak menepati janjiku. Aku bertengkar dengan Ibu mertuaku, dan sepertinya aku telah dicoret. Saat ini aku sedang menenangkan diri di Westport. Dan aku harap kau tidak mengkhawatirkanku.
Semoga lekas pulih, Carlton. Utamakan kesembuhanmu.
Alice.
Ini saat yang tepat untuk mereka melepasnya. Aku pun langsung meninggalkan pesan untuk dia, memohon kepadanya untuk tinggal di Casa Blanca, karena tempat itu adalah milik kita. Aku berjanji akan menyusul kesana setelah proses penyembuhanku selesai.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE SECRET
RomansaLouis Carlton Morano Filippo berada pada urutan kesembilan dalam garis suksesi tahta dan keenam belas wilayah persemakmuran Inggris. Dunianya rapi, disiplin dan benar-benar mampu membeli segalanya, namun memiliki hobi aneh yang menantang. Mencuri ma...
