Alice
Aku memekik keras ketika menyaksikan Carlton terjatuh dari kudanya, dan itu meresahkan semua orang yang menyadari perubahan yang signifikan atas reaksiku, yang pasti bisa dikatakan bukan pada tempatnya. Sementara itu madam Regan yang duduk disampingnya memelototiku, hampir tidak menggerakkan bibirnya, mengisyaratkanku untuk tidak menampakkan sikap yang berlebihan kepada seseorang yang bukan suaminya. Disusul James yang ikut terjatuh, dan yang lebih parah pandanganku terhadap Carlton tidak teralihkan. Aku bahkan tidak mengindahkan James sama sekali. Keresahan ibu dari suaminya itu semakin menjadi ketika diluar dugaan Carlton bertindak main hakim sendiri terhadap James tanpa tahu penyebabnya. Dengan kengerian yang dirasakan semua orang, kali ini Carlton meninju tepat di kepala James hingga membuat kejadian itu menjadi sasaran empuk kamera paparazi. Tuan Regan menggelengkan kepala dan mengangkat mata ke langit, berucap dalam suara perlahan.
"Seperti anak kecil. Ini keterlaluan, keterlaluan!", kata tuan Regan, tapi madam Regan tak mendengarnya.
"Mari kita kesana, kita kesana!", kata madam Regan, "Kita memang benar-benar menderita", katanya menambahkan.
Sang tuan mengatakan, "Anak kita yang malang", karena memang tidak ada harapan keadilan lagi untuk putranya.
Aku meninggalkan mereka dan mendekati Rose di bangkunya. "Bisakah Anda, princess Rose, menemaniku kesana".
"Mari ikut aku kalau Anda menghendaki", kata Rose dengan ironis.
"Jika untuk diriku sendiri, aku bisa menjamin aku tidak akan meminta hal ini kepadamu."
Rose memberinya anggukkan sebagai jawaban. Aku pasti dianggap bodoh, pikirku. Dia hanya mengatakan, "Silahkan kesini." dengan langkah cepat Rose membawanya ke tempat Carlton dan James diamankan dari kerumunan fotografer yang menemukan sumber berita baru yang pastinya beritanya akan meledak di pasaran. Tapi tempat itu amat jauh, dan disana berkerumun demikian banyak orang, tapi pada waktu itu Ben datang dan melaporkan kepada Rose. Aku melongokkan tubuhnya kedepan, mencengkram erat ujung gaunku, dan mendengarkan.
"Tuan Carlton mengalami patah kaki", kata Ben, "Mungkin tuan James cidera lebih parah."
Mendengar itu aku lemas dan mencari tempat duduk. Tubuhku menggigil. Rose melihatku menangis dan tidak dapat menahan airmatanya. Ben menutupi kami berdua dengan tubuhnya, agar kami punya waktu untuk memulihkan diri.
"Apakah kau ingin ikut di ambulance Louis? Dia akan dibawa St. Mary", kata Rose sambil menyentuh tangannya.
"Tidak, princess. Louis sudah menikah dan itu tidak pantas."
"Tetapi, kau wanita yang penting bagi dia!"
"Aku?"
"Ya. Kau terkejut? Louis mencintaimu. Dan ada calon keponakanku di dalam perutmu."
Aku terdiam. Rose menunggu sejenak, dan karena aku tetap membisu, tampaknya kakaknya Carlton menjadi kecewa. Dibawah kabut tipis tampak langit berwarna kuning hampir merah muda yang mengingatkan pada warna kulit telur tertentu. Waktu masih kecil, aku menyebut telur semacam itu sebagai 'telur cokelat' dan telur seperti itu tampak lebih enak daripada telur-telur seputih salju yang dikeluarkan sebagian besar ayam betina. Kenangan ini membuatku lebih tenang.
"Louis menunggumu", kata Rose, "Atau lebih tepatnya menunggu seseorang yang tidak bisa dia miliki. Kehadiranmu merupakan fenomena yang menenangkan buat dia."
"Tapi, princess,"
"Panggil aku Rose saja", kata Rose sebelum kami berpisah. "Dia selalu mementingkanmu. Maka berjanjilah kepadaku untuk selalu memihaknya", katanya dengan nada yang membuat orang sulit tahu apa yang menguasai perasaannya, apakah sebagai bentuk dukungan seorang kakak terhadap adiknya, atau penyesalan karena dia pada usianya tak dapat mempertahankan cinta sejatinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE SECRET
RomanceLouis Carlton Morano Filippo berada pada urutan kesembilan dalam garis suksesi tahta dan keenam belas wilayah persemakmuran Inggris. Dunianya rapi, disiplin dan benar-benar mampu membeli segalanya, namun memiliki hobi aneh yang menantang. Mencuri ma...
