THIRTY TWO

24 1 0
                                        

Alice

Aku hanya terdiam di tempat tidur yang besar ketika menyadari Carlton memutus sambungan teleponnya. Rasa putus asa yang tak bisa ia sembunyikan, bahwa dirinya telah mengatakan sesuatu yang merugikan diri sendiri. Carlton marah karena dirinya menyebut nama James. Mungkin sekarang aku takkan bicara lagi soal itu, dan berjanji pada diri sendiri bahwa hal itu tak akan terulang lagi.

Aku berbaring sejenak menikmati cahaya yang masuk melalui kaca jendela. Mengapa aku tak menutup tirai semalam? Ironisnya aku merasakan kebersamaan disini. Aku hanyut dari kenyataan. Aku hidup di dalam bungalo megah milik seorang dermawan, kenyataan yang suram bahwa dia bajingan paling top saat dia menginginkan perjanjian yang spesial, meskipun dia belum berhasil. Apa itu benar-benar seperti yang aku inginkan? Inilah yang aku perlu klarifikasi diantara kita berdua untuk melihat apakah kita masih berada diujung yang saling berlawanan seperti pada permainan jungkat-jungkit, atau kita berdua semakin dekat ke tengahnya.

Hal itu membuatku merasa dikucilkan oleh prasangka-prasangka bahwa mulut-mulut usil di kalangan bangsawan mungkin sedang membicarakan hubungan  gelapnya sekarang, dan akupun merasa dirinya seperti terkena delusi.  Pada pokoknya, pikiran itu menggelikan dan tak berdasar. Terasa mengerikan bahwa kini ia sadar bahwa dirinya adalah orang ketiga dalam pernikahan Carlton bersama Miranda. Namun ekspresi wajahku yang ketakutan dan murung di atas tempat tidur itu ternyata tak menjanjikan apa-apa, bahkan kebohonganpun tidak.

Dengan rasa putus asa aku merangkak keluar dari tempat tidur dan beranjak dari kamar, mulai menuju ke dapur. Mrs. Darla tersenyum lebar saat dia melihatku. Pandangannya menghentikanku. Dia mengenakan kemeja putih polos yang pas ditubuhnya dan rok pensil berwarna biru tua.

"Selamat pagi, Mrs. Judd. Apakah Anda ingin sarapan?"

"Ya, Mrs. Darla. Tapi aku akan membuat sarapanku sendiri."

"Jangan nyonya, sudah tugas saya melayani anda", suaranya gemetar.

Ah, ya... Yah, dia terlalu takut pada tuannya. Dan aku perlu meyakinkan Mrs. Darla, bahwa tuan besarnya tidak akan mempermasalahkan hal sepele semacam ini.

"Ijinkan aku membuat sarapanku sendiri, Mrs. Darla. Untuk mengisi waktu luangku. Mungkin sibuk membuatku merasa lebih baik", uraiku disertai senyum sewajarnya.

Wajah Mrs. Darla memerah, "Baiklah, ma'am. Anda bisa memanggil saya jika membutuhkan sesuatu", jawabnya secara otomatis.

"Pastinya", kataku bergumam.

Sesudah mendapat kesempatan itu aku langsung mengikat rambutku menjadi kuncir. Ya, dapurnya sangat bersih dan modern. Tak ada satupun lemari ada handlenya. Perlu waktu beberapa detik untuk menyimpulkan bahwa aku harus menekan suatu tombol untuk membuka pintu lemari pendingin. Mungkin aku akan meminum segelas susu dan memasak telur diatas kompor paling mutakhir disini. Aku rasa aku bisa memahami itu.

Aku meletakkan piring sarapan ke meja di samping jendela besar yang mengarah ke lembah hijau. Hidup tenang dan alami terasa tak nyata, dengan hamparan perbukitan hijau, rumah-rumah kayu klasik dan jalan kecil berkelok yang sangat indah di tengah pedesaan Westport. Aku mencoba sesuap telur dan menikmatinya. Sambil duduk aku terpesona, yah, jujur saja, aku menikmati hunian fantasi yang pernah ditinggali oleh seorang penyanyi terkenal, Michael Bolton ini. Akupun merenungkan kata-kata Rose. Kata-katanya sangat antusias bahwa aku wanita yang penting bagi adiknya. Aku menyadari bahwa Rose tahu banyak tentang hubungan gelapnya, sehingga aku perlu mengingat semua pembicaraan kami lagi dan melihat apakah aku bisa memperbaiki keadaan.

Aku hanya terlalu khawatir dengan kehamilanmu dan kau mengendarai...

Apa kau tidak ingin bertemu denganku?

THE SECRETCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang