Part ini POV nya Rendra ya....
Happy Reading!!!
***
"Ayah kenapa melamun? Ayah kangen sama bunda ya?"
Aku menoleh kearah pintu. Disana berdiri seorang gadis cilik yang sedang menatapku penasaran. Dia adalah malaikatku, Anindita Wirakusuma.
"Ayah gak ngelamun kok, sayang, ayah cuma lagi pusing sama kerjaan ayah aja." Aku beranjak dari kursi menuju pintu untuk menggendongnya.
"Trus ayah kangen gak sama bunda? Dita kangen bunda, ayah." Ucap malakaikat kecilku sendu.
"Ayah juga kangen kok sama bunda. Gimana kalau besok kita ke tempat bunda?" tawar ku agar Dita kembali ceria.
"Beneran, yah?" Aku mengangguk sebagai jawaban.
"Yeeyy... Makasih ayah." Soraknya riang sambil mencium pipiku. "Dita sayang ayah."
"Ayah juga sayang Dita." Aku balas mencium pipinya. "Jadi, Dita ngapain kesini? Kangen ya sama ayah?" tanyaku sambil mencolek pipinya yang sedikit tembem itu.
"Dita bosan ayah, akhir-akhir ini ayah sibuk, gak pernah temenin Dita main lagi." Bibir mungilnya mengerucut, sehingga membuatnya semakin menggemaskan.
"Maafin ayah ya sayang. Sebagai gantinya besok ayah ajak Dita jalan-jalan kemana pun Dita mau, gimana?"
"Beneran ya yah, besok habis kita ketempat bunda kita jalan-jalan. Awas aja kalau ayah bohong, Dita bakal ngambek sama ayah selama seminggu!" Ancamnya sambil menatapku galak.
Aku tergelak mendengar ancamannya, karena aku tau itu tak akan terjadi. Karena semarah apapun Dita padaku, itu tak akan sanggup lebih dari sehari, karena dia terlalu manja padaku, apalagi semenjak ditinggal bundanya setahun yang lalu.
"Iya sayang ayah janji." Aku menampilkan ekspresi serius untuk meyakinkannya. Karena kalau tidak begitu ia tak akan percaya dan akan terus melotot galak padaku.
"Sekarang Dita tidur ya, udah malam, kan besok mau ke tempat bunda terus jalan-jalan."
"Iya ayah. Kalau gitu Dita masuk kamar lagi ya. Dah ayah." Dia kembali mencium pipiku sebelum melompat turun dari gendongan dan berlari ke kamarnya.
"Jangan lari-lari sayang nanti kamu jatuh." Teriakku yang sama sekali tidak dihiraukan olehnya.
***
Brak.
Pintu kamar terbuka secara paksa diikuti dengan munculnya malaikat kecilku.
"Ayah bangun!" Dita melompat ke atas ranjang lalu mulai mengguncang tubuhku agar terbangun. Padahal aku sudah bangun begitu mendengar suara pintu tadi.
"Ayah cepetan bangun dong. Katanya kita mau ke tempat bunda. Ayah juga janji mau ajak Dita jalan-jalan. Dita udah siap nih tinggal berangkat aja."
Aku membuka mata ketika mendengar nada suara Dita yang mulai merajuk. "Iya sayang ayah bangun. Ya udah kalau gitu sekarang Dita keluar ya, ayah mau siap-siap dulu."
"Oke ayah." Dita berlari meninggalkan kamarku. Aku hanya menggelengkan kepala melihat tingkahnya dan mulai bangkit dari tempat tidur untuk bersiap-siap.
Aku keluar kamar setelah menghabiskan waktu selama kurang lebih setengah jam untuk mandi dan bersiap-siap. Dita sedang duduk santai di depan TV sambil bercerita dengan mbok Sum. Pengasuh Dita yang sudah bekerja dirumah ini bahkan sebelum Dita terlahir kedunia.
"Dita ayo kita berangkat. Pamitan dulu sama mbok Sum."
"Iya ayah. Mbok, Dita sama ayah pergi dulu ya. Assalamualaikum." Pamitnya sambil mencium tangan mbok Sum.
KAMU SEDANG MEMBACA
FATE - Slow Update
RomanceTakdir... Aku tidak suka kata itu. Terlepas dari takdir atau tidak, Kau berada disini sekarang, Disisi ku Narendra Wirakusuma Menikah itu nasib. Mencintai itu takdir. Kau bisa berencana menikah dengan siapa. Tapi kau tak bisa rencanakan cinta mu unt...
