Part 9

2.1K 102 4
                                        

Happy reading...

***

Aku menatap ke arah layar laptop dengan pandangan kosong. Awalnya aku membuka laptop untuk menyelesaikan laporan hasil pemeriksaan klien selama sebulan ini, tapi ternyata pikiran ku tidak bisa fokus. Padahal sudah berkali-kali aku mencoba untuk memfokuskan pikiran ku pada setumpuk pekerjaan yang harus aku selesaikan dalam minggu ini. Tapi sepertinya pikiran ku berkehendak lain.

Pikiran ku justru melayang pada percakapan ku dengan Rendra beberapa hari yang lalu. Saat Rendra mengantar ku pulang ketika kami bertemu secara tidak sengaja di supermarket. Rendra mengatakan secara terang-terangan bahwa ia tertarik pada ku dan ingin mengenal ku lebih dekat lagi.

Saat itu aku terlalu shock mendengar pernyataannya, sehingga aku hanya diam tanpa merespon apa yang dia katakan. Melihat aku yang hanya diam, Rendra pun memutuskan untuk tidak membuka suara lagi selama sisa perjalanan menuju rumah ku. Mungkin Rendra mengerti bahwa ini terlalu cepat buat ku.

Tetapi ketika aku hendak membuka pintu untuk keluar dari mobilnya, Rendra kembali membuka suara. Dia menegaskan bahwa apa yang tadi ia katakan itu benar-benar serius, bukan hanya sekedar leluconnya saja.

Yah aku tahu kalau dia serius, itu tergambar jelas di matanya. Karena pada saat dia mengatakan itu, Rendra menatap ku dengan pandangan serius. Bahkan aku dapat menemukan ketulusan di matanya.

Tapi jujur saja aku masih ragu.

Bukan, aku bukannya meragukan keseriusan serta ketulusan yang terpancar jelas dari matanya itu.

Hanya saja, aku ragu dengan diri ku sendiri.

Aku ragu apakah aku bisa membuka hati ku untuknya.

Aku ragu apakah aku bisa menerima kehadirannya disisi ku.

Aku ragu apakah saat ini aku telah siap bila harus terluka lagi... untuk kesekian kalinya?

Dan aku rasa jawabannya belum.

"Liatin laptopnya gak usah segitunya juga kali." Aurel tiba-tiba masuk ke ruangan ku dan membuyarkan lamunan ku tentang Rendra. "Emang lagi liatin apaan sih? Nonton bokep ya?"

"Enak aja. Lo kira gue doyan apa liat yang gituan? Mending gue buat sendiri besok sama laki gue." Balas ku tidak terima atas tuduhannya.

"Oh ya? Kapan? Emang udah tahu mau buatnya sama siapa? Calon laki aja belum punya." Tanya Aurel bertubi-tubi sambil melirik sinis ke arah ku.

Kampret.

Kata-katanya itu loh.

"Eh iya juga ya? Kan gue jomblo." Aku berguman kecil, mengamini apa yang dikatakan Aurel barusan sambil mengetuk-ketukkan jari telunjuk ku di dagu.

"Baru sadar kalau lo jomblo? Kemana aja lo?" Aurel memandang nista ke arah ku. "Hellow... ini udah tahun keenam elo jomblo kelles. Masak gak sadar juga sih?" kini Aurel menggelangkan kepalanya dramatis. "Efek terlalu lama sendiri nih kayanya. Makanya sampe lupa kalau butuh seseorang." Lanjutnya dengan nada bicara paling drama. Iyyuuhh dasar drama queen.

Sialan emang si Aurel ini. Kenapa kata-katanya selalu ngena gitu coba?

Tapi tunggu dulu deh, tadi Aurel bilang udah berapa lama aku jomblo? Enam tahun? Masak sih? Kok aku gak sadar ya?

"Udah deh gak usah bahas status gue yang jomblo dan udah berapa lama gue jomblo, gak ada untungnya juga kan?" Aku mengalihkan perhatian. "Mending sekarang lo bilang sama gue kenapa lo tiba-tiba masuk ruangan gue tanpa ketok pintu dulu? Gak baca tulisan di pintu itu?"

FATE - Slow UpdateTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang