Part 15 - Cemburu

858 28 0
                                    

Part 15 - Cemburu

Vannya menghembuskan napas frustasi. Setengah jalan lagi dia akan sampai di kantor IFRS, mengambil nasi kotak untuk semua orang di apotek rawat jalan yang telah bekerja keras menyelesaikan stock opname hari ini.

Disebelahnya ada Aldi yang akan membantunya mengangkut kotak-kotak nasi itu nantinya, berjalan dengan santai sambil bersiul-siul pelan.

“Di, gue ke toilet dulu yah?” Seru Vannya saat melewati toilet di dekat lab0latorium dan bersiap melangkah menuju toilet, usaha terakhirnya untuk melarikan diri.

“Mau kemana lo?” Tiba-tiba tangan Aldi sudah menahan lengan bagian atas tangan Vannya. “Lo mau nyuruh gue bawa tuh kotak nasi sendirian?”

Syukurlah Aldi menganggapnya seperti itu. Huft..Sebenarnya, Vannya belum siap untuk bertemu Putra setelah kejadian curhat colongannya tentang gebetannya itu dua hari lalu.

Setelah kemarin Vannya berhasil menghindar dari Putra, masa iya sekarang ia harus datang ke kantor sih? Ini sih namanya menyerahkan diri! Aaaarrrgghhh!!

Please Di, gue kebelet..” Kata Vannya memelas.

“No.. No.. No..!! Di sana juga ada toilet lagi. Lo pipis disana aja!”  Seru Aldi dengan nada final dan langsung menarik Vannya untuk berjalan lebih cepat.

Sekarang Vannya hanya bisa berdoa semoga saja Putra sedang sangat sibuk dan tidak menyadari Vannya ada. Atau lebih bagus lagi jika Putra sedang tidak ada di kantor.

“Kenapa Vannya ditarik-tarik gitu, Di?” Bu Siska yang melihat Vannya di tarik Aldi saat masuk ke dalam kantor bertanya dengan heran.

Vannya melongok ke arah ruang administrasi sementara bu Siska dan Aldi mengobrol, mencari tahu apakah Putra ada diruangannya atau tidak. Vannya menghembuskan napas lega saat tidak menemukan laki-laki itu di dalam ruangannya. Haaaaahh...

“Heh! Katanya lo mau ke toilet? Udah sana cepet!”

Seakan tersadar, Vannya buru-buru malangkah menuju toilet. Selama beberapa menit didalam toilet Vannya menggunakannya untuk menyiapkan mentalnya kalau-kalau nanti bertemu dengan Putra.

Vannya menghembuskan napas, menguatkan dirinya kemudian melangkah keluar dari toilet. Saat tiba di ruang tamu IFRS, Vannya melihat ada Putra, Nanda, Adel dan Ari duduk di sofa menghadapi nasi kotaknya masing-masing.

Hell, sejak kapan mereka datang!? Aduuuuuhhh...

“Hai Van?” Sapa Putra seperti biasa dan hanya dibalas Vannya dengan sebuah senyuman yang dibuatnya setulus mungkin.

Vannya mendekat kearah Aldi dan bu Siska. Mencari tahu apa yang salah hingga menghitung sepuluh kotak makanan saja lama sekali.

“Nan, itu nasi tuh di pipi lo..” Suara Adel membuat Vannya menoleh kearah Nanda yang sekarang sedang mencari-cari dimana letak nasi yang dimaksud Adel.

Sebuah tangan terulur untuk mengambil nasi itu, membuat semua orang yang melihatnya senyum-senyum gak jelas.

Tapi tidak untuk Vannya, secara refleks dia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Matanya terasa panas, dan siap meluncurkan cairan-cairan bening.

“Di, sorry, gue duluan.” Bisik Vannya pada Aldi dan sedetik kemudian Vannya sudah berlari keluar ruangan.Membuat yang lain bengong campuran antara binggung dan kaget atas keanehan Vannya tersebut.

###

Vannya berlari tak tentu arah, mengikuti kemana kakinya ingin melangkah. Sesekali jarinya mengusap air mata yang terus berjatuhan.

Senandung Masa PKLTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang