Part 12 #A - Garut

1.1K 29 2
                                    

“Van, bikin makanan dong! Gue laper nih!” Tiba-tiba Putra duduk disebelah Vannya di teras rumah orang tuanya di Garut, mengejutkan Vannya yang sedang memandangi dua temannya yang sedang asik berfoto ria di pematang sawah tepat depan rumah ini.

Ada sedikit perubahan rencana ternyata. Di rencana awal, hanya Ari yang akan berangkat belakangan, menyusul yang lain menggunakan motor. Namun pada akhirnya, Aldi, Niki, dan Nita juga ikut berangkat belakangan. Alasannya, Aldi karena memang sudah dua hari ini dia pindah ke bagian poli sore menemani Ari, Nita karena ada sedikit masalah, dan alasan yang paling penting karena mobil Niki yang rencananya akan mengangkut mereka masih berada di jalan menuju Bandung dari Jakarta.

“Van, buruan! Gue belum makan dari siang nih.”

“Ck, beli aja deh!” Vannya berseru jengkel, merasa terganggu dengan kehadiran Putra.

Sesaat, Putra mengamati jam tangannya. Namun tak lama dia ikut berseru kaget. “Lo gila, masa gue di suruh nahan laper selama itu. Mereka aja baru mulai jalan jam tujuh, kalo gak macet jam sembilan nyampe, lah kalo macet?... Lo mau liat gue mati kelaperan apa?”

Vannya ikut-ikutan melirik jam tangannya. Pukul lima sore. Kasihan juga kalo harus nunggu sampe empat jam lebih buat makan.

“Ya udah, gue bikinin mie instan deh.”

Mereka tiba dirumah itu sekitar satu jam yang lalu. Sepertinya, orang tua Putra di desa ini cukup terkenal dan salah satu orang kaya disini. Terlihat dari bangunan rumah yang cukup besar dan telah menggunakan bangunan permanen, berbeda dari rumah yang lainnya yang terbuat dari bilik rotan.

Selain itu rumah ini juga memiliki halaman yang benar-benar sangat luas dilapisi dengan rumput liat namun rapi. Jarak dari pagar menuju teras rumah saja sampai lima meter, disebelah kanan ada dua meter sebelum akhirnya menemui kebun singkong. Disebelah kiri ada jarak sekitar empat meter sebelum mencapai pagar, dan di belakang, selain ada sumur yang memasok air di kamar mandi, ada kebun singkong, dan kebun pepaya yang entah seberapa luas.

Vannya masuk kedalam rumah, melewati ruang tamu kecil, dilanjutkan ruang keluarga, lalu masuk ke dalam dapur. Dapurnya tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan dapur rumahnya, namun bersih, berbeda dengan apa yang dibayangka Vannya sebelumnya.

Vannya fikir, dapur di rumah ini adalah sebuah ruangan berwarna hitam legam akibat menggunakan kayu bakar sebagai pengganti kompor. Sama seperti bayangannya mengenai kamar mandinya, Vannya kira kamar mandinya akan berada diluar rumah dengan bilik rotan setinggi satu setengah meter sebagai penutup. Bahkan Vannya sempat berfikir lebih gila lagi, seperti harus pergi kesungai terdekat untuk mandi dan mencuci pakaian. Pada  kenyataannya, kamar mandi di rumah ini sangatlah luas dan bersih, dengan keramik menutupi lantai, dan tiga perempat tinggi dinding, serta bak air yang luas dengan air yang dingin menusuk khas air dari dataran tinggi pegunungan.

“Jangan mie instan dong. Gue udah sering makan itu di kostan, bisa mati cepet gue.” protes Putra tepat saat Vannya baru mengeluarkan satu bungkus mie instan dari kantong belanjaan yang tadi dibeli mereka berempat disalah satu super market, sebagian besar isinya sudah berpindah kedalam lemari es.

“Terus lo mau dibikinin apa?” rasa kasihan yang tadi muncul, kini mulai berganti dengan jengkel kembali.

“Ya apa kek. Yang penting jangan mie instan.”

Jawaban Putra sama sekali tidak memberikan saran, dengan cepat Vannya membuka lemari es dan mengamati isinya. “Lo pilih mau gue bikinin mie pake telor sama sayur atau telor dadar yang gue kasih sayur sama sosis?”

“Yah, kok simple banget sih makanannya, lo bikinin gue sup jagung aja deh, pengen yang ada kuahnya nih.”

“Lo banyak maunya yah, udah untung gue mau masakin buat elo! Jadi elo mau dimasakin engga? Gue mau liat sunset nih.” Jawab Vannya sambil menghadap Putra yang berada di ambang pintu dapur.

Senandung Masa PKLTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang