Usap air matamu
Dekap erat tubuhku
Tatap aku sepuas hatimu
Boby terlonjak bangun dari tidurnya. Ia yang semula menenggelamkan wajahnya di kedua lengannya sayup-sayup mendengar sebuah lantunan suara lembut seorang gadis yang sangat di kenalnya. Suara merdu itu diiringi dengan dentingan merdu piano klasik. Boby mengucek matanya, ia merasa masih mengantuk namun ia tetap bangkit meninggalkan kelasnya yang sepi.
Larinya terhenti tepat di depan sebuah ruangan yang berada tak jauh dari kelasnya. Ruangan besar yang kedua pintunya terbuka lebar dan memperlihatkan bahwa ada seseorang di dalam. Boby masuk ke dalam dengan senyum manis yang menperlihatkan kedua lesung pipinya. Sebuah ekspresi yang semakin memperlihatkan wajah tampannya.
Nikmati detik demi detik
yang mungkin kita tak bisa rasakan lagi
Hirup aroma tubuhku
yang mungkin tak bisa lagi tenangkan gundahmu
Gundahmu..
Nyanyikan lagu indah
Sebelum ku pergi dan mungkin tak kembali
Nyanyikan lagu indah
Tuk melepasku pergi dan tak kembali
"Vinyy!"panggil Boby semangat saat melihat seorang gadis cantik yang sedang serius memainkan nada-nada indah dari piano klasik di sana. Mematahkan semua ketakutannya jika gadis itu pergi meninggalkannya.
Viny membuka matanya lalu tersenyum manis ke arah Boby. Ia mengisyaratkan agar Boby mendekat. Ia sadar bahwa Boby yang masuk ke dalam ruangan itu namun ia ingin menyelesaikan dahulu lagu yang ia mainkan.
Tanpa perintah lagi Boby langsung menghampiri Viny yang sekarang sedang menyandarkan tubuhnya. Entah kenapa air matanya tergenang di pelupuk matanya melihat Viny yang masih tersenyum kepadanya. Tak ada kejadian buruk yang terjadi kepadanya. Adik kecilnya tersebut selalu ada di dekatnya dan tidak pernah meninggalkannya.
"Boby kenapa?"tanya Viny bingung melihat mata Boby yang memerah.
"Aku mimpi kamu pergi ninggalin aku dan yang lain"ucap Boby pelan. Viny memiringkan kepalanya lalu tertawa pelan.
"Cuma mimpi Bobyyy. Gitu aja di seriusin. Aku masih di sini juga, masih main piano"ucap Viny menepuk pipi Boby pelan. Boby mengangguk setuju. Cuma mimpi. Viny tidak akan pernah tega meninggalkannya dan sahabat-sahabatnya.
"Masih ngantuk ya? Matanya merah tuh"ucap Viny. Boby mengangguk.
"Iya tadi kaget kebangun gara-gara mimpinya. Mimpi sialan emang jadi bikin maksain bangun"ucap Boby kesal. Viny menepuk pahanya mengisyaratkan Boby untuk merebahkan kepalanya di sana.
"Tidur sini.."perintah Viny. Boby dengan cepat langsung berbaring di paha Viny. Ia menatap wajah Viny dari bawah, mencoba meyakinkan bahwa mimpinya tadi itu keliru. Viny tidak pernah pergi darinya.
"Katanya ngantuk? Kok malah bengong"tegur Viny saat melihat Boby hanya memandangi wajahnya. Boby cengengesan lalu memeluk perut Viny dan mencoba memejamkan matanya kembali.
"Bob..."
"Hmm"
"Janji jangan nakal lagi ya. Tetap jadi Boby yang dewasa dan selalu jadi penengah antara Maul, Kinan dan Hamids..."
"Viny harus bantuin Boby juga kaya biasa yaa?" Viny menggeleng dan mengusap lembut rambut Boby.
"Udah gak bisa, waktu Viny udah habis, sekarang giliran Boby sendiri yang harus jadi penengah..."
"Kalau gitu Boby gak mau.."
"I hope that you do it for me Bob..."ucap Viny lirih namun tegas. Boby terdiam mendengar ucapan Viny, ada makna permohonan yang terdengar dalam ucapan barusan. Boby akhirnya mengangguk dan membuat sebuah senyum manis muncul di bibir Viny.
KAMU SEDANG MEMBACA
Friendship
FanfictionMenceritakan sebuah persahabatan antara 4 pemuda berandal dan seorang gadis manis. Apakah akan ada cinta di antara mereka? ataukah akan ada gadis-gadis lain yang mencuri perhatian mereka?
