Memakai celemek berwarna biru muda, Irene mulai mengambil sapu dan membersihkan lantai tempatnya bekerja dengan rajin. Tidak lupa ia juga mengelap semua permukaan meja sampai mengkilap dan bersih.
Cafe Orion baru saja dibuka. Merupakan salah satu cafe yang ramai dikunjungi oleh para muda-mudi yang ingin berkencan atau sekedar nongkrong dan menghabiskan sisa malam untuk menikmati alunan musik dari sebuah band lokal yang kerap manggung disana.
Selesai membersihkan semuanya, Irene kembali ke arah meja kasir dan mengantungkan sapunya di balik pintu dapur. Ia bersama beberapa karyawan yang lain lalu melakukan briefing dan berakhir dengan saling menyemangati untuk memulai pekerjaan masing-masing dengan baik.
Senja mulai tiba. Satu-persatu pengunjung pun mulai berdatangan. Kebanyakan dari mereka memesan minuman panas karena musim dingin mulai tiba. Angin di luar memang berhembus sangat kencang, namun cuaca itu tidaklah menghalangi para pengunjung untuk tetap datang dan duduk santai sekedar untuk menghilangkan penat.
Irene dipanggil oleh pemilik cafe untuk segera datang ke meja depan karena ada dua pengunjung yang baru saja datang.
Gadis itu itu mengambil notes dan pena lalu segera berjalan melintasi ruangan dan berakhir dengan dua pengunjung tersebut yang..oh ayolah, Irene sangat benci melihat wajah laki-laki itu sekarang.
Oh Sehun bersama bersama Yura tengah duduk santai sambil membolak-balik daftar menu yang ada di atas meja.
" Dua bubble tea dan pasta," kata Sehun sambil mendongak dan terkejut mengetahui pelayan cafe itu adalah tetangga kamar kostnya. " Kau bekerja disini juga rupanya."
"Begitulah...," jawab Irene dengan malas selesai ia mencatat pesanan Sehun. Ia baru akan berbalik dan hendak melangkah masuk ke dalam ketika Sehun tiba-tiba mencegahnya.
"Satu pasta tidak pedas sama sekali."
"Baiklah saya mengerti," bola mata Irene berputar bosan, ia sedikit membungkuk sopan lalu kembali masuk ke dalam dapur.
Apa dunia ini selebar daun kelor? Kenapa dimana ia berada, Sehun juga ada disana? Apa wanita cantik itu juga yang kemarin malam ada di dalam kamarnya? Aish...Irene lagi-lagi menggelengkan kepala berusaha fokus dengan pekerjaannya ketimbang harus pusing memikirkan Oh Sehun, si laki-laki super arogan itu.
Sepuluh menit kemudian pesanan Sehun sudah siap. Sang koki menaruhnya di atas nampan dan Irene berjalan dengan langkah hati-hati mengantarkannya sampai ke tujuan
Ia meletakan dua piring pasta dan dua bubble tea ke atas meja dengan pandangan risih. Pasalnya Oh Sehun dan Yura sedang saling berbicara mesra, bahkan tangan Oh Sehun tidak beranjak turun dari wajah Yura saat Irene mengatakan 'selamat menikmati' sembari berlalu.
" Ya ampun...apa tidak ada tempat lain yang lebih cocok untuk bermesraan?" Irene bergumam tidak jelas pada dirinya sendiri. Beruntung menit-menit berikutnya gadis itu sudah disibukan dengan pesanan dari pengunjung lain.
*
Sehun berhenti makan dan menyeruput bubble teanya dengan perlahan. Matanya tidak lepas memandangi wajah Yura hingga dering ponsel miliknya membuyarkan aktifitas itu.
"Hey, Oh Sehun, kau bilang malam ini akan mengajakku berkencan, kau dimana?"
Sehun terperanjat mendengar suara Seohyun dari seberang sana. Laki-laki itu secepat kilat berdiri dan berjalan menjauh dari meja agar Yura tidak sampai mendengar obrolannya.
"Maaf Seohyun, bagaimana kalau tengah malam nanti kujemput kau dan kita habiskan malam ini di kamar kostku? Aku sedang ada urusan sebentar dengan temanku."
KAMU SEDANG MEMBACA
Hey, Playboy
FanfictionTinggal bersebelahan di tempat kost dengan seorang playboy itu, me-mu-a-kan! Mahasiswi jurusan Fashion Design berpenampilan biasa dan berkacamata tebal-Bae Irene-hidup dengan terus di bayang-bayangi segala sesuatu tentang lelaki tampan populer nan k...
