#6# Promise

7.1K 727 50
                                        


Dua hari setelah acara makan malam yang memalukan seluruh keluarga, Tuan Oh memanggil Sehun dan Irene untuk datang ke rumah. Awalnya Irene menolak mentah-mentah ajakan Sehun karena tentu saja ia tahu akan ada sesuatu yang buruk terjadi disana, tapi Sehun terus memaksa.

Dengan penampilan seadanya, Irene datang ke rumah kediaman keluarga Oh yang luasnya nyaris sebesar istana. Mereka berdua mengikuti langkah sekretaris Tuan Oh menuju ke ruang keluarga dimana Tuan dan Nyonya Oh tengah duduk menunggu dengan wajah sangat tidak bersahabat disana.

Irene dan Sehun memberi salam hormat lalu duduk berdua menghadap keduanya denhan perasaan sedikit khawatir.

"Bae Irene, dari mana asalmu?" tanya Tuan Oh mulai menyelidiki.

"Busan."

"Lalu, apa pekerjaan orang tuamu?"

"Ayahku bekerja menjadi karyawan di salah satu Bank swasta, sementara ibuku hanya seorang ibu rumah tangga biasa," Irene menjawab sambil sesekali menatap Sehun yang sepertinya sama sekali tidak membantu.

"Apa kau punya saudara kandung?"

"Ya, satu adik laki laki."

Selesai bertanya, Tuan Oh mengangguk-angguk kecil. Sekarang ia menatap putranya dengan ekpresi marah sekaligus malas.

"Hey, kau...apa kuliahmu sejauh ini berjalan dengan lancar? Kudengar kau mengoleksi banyak pacar di kampus. Kabur juga dari apartemen, apa maumu, eoh?"

"Aku hanya ingin menjadi orang yang bebas," jawab Sehun dengan nada tegas.

"Bebas untuk menggauli anak orang, begitu yang kau maksud?" kini Nyonya Oh yang ikit andil bersuara. "Kami sudah bersusah payah mengenalkanmu dengan wanita yang sederajat, berpendidikan dan cantik. Tapi apa yang sudah kau lakukan dengannya, apa?!" jari telunjuk wanita itu mengarah pada Irene yang hanya menunduk terdiam meski dalam hati ia merasa jengkel karena dirinya tidak tahu alasan apa yang membuatnya terlihat seperti gadis rendahan di mata mereka.

"Bu, aku tidak menyukai Tzuyu dan aku benci dengan perjodohan semacam ini. Aku bukan tipe orang seperti ibu yang mau saja dijodohkan dengan ayah sekalipun kalian tidak saling mengenal hanya karena masalah bisnis. Bahkan sampai detik ini kalian masih saja selalu bertengkar dan mementingkan diri sendiri. Aku tidak mau menjalani hidup seperti itu."

"Sehun!!!," Tuan Oh yang kesal lantas berdiri, kemudian pria itu menampar wajah Sehun dengan sangat keras hingga Irene bergemetar ketakutan sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.

"Aku ingin menikah dengan wanita pilihanku, aku tidak mau menikah hanya untuk kepentingan bisnis kalian yang tidak masuk akal itu!"

"Jaga bicaramu!"

Tuan Oh mencengkeram bagian kerah baju Sehun, menarik putranya untuk berdiri dan memukulinya berulang kali hingga tubuh Sehun tersungkur di lantai dengan sudut bibir pecah dan berdarah. Tapi Sehun sedikitpun tidak melawan karena ia tahu amarah ayahnya tersulut akibat perbuatannya yang memang lancang.

Nyonya Oh sendiri hanya sesekali memekik berusaha untuk memisahkan keduanya. Di sisi lain, Irine yang tidak tahu harus bagaimana hanya berdiri di pojok ruangan dengan bibir dan tangan yang bergemetar ketakutan. Ia tidak pernah melihat seseorang dipukuli di depannya secara langsung dan memurutnya, tindakan Tuan Oh sangatlah berlebihan.

"Sehun...," Irene yang tidak tahan lagi melihatnya, memutuskan untuk mendekati Sehun dan membantunya berdiri. Ia memegang erat lengan Sehun sebelum akhirnya ia memilih berlindung di balik tubuh tinggi itu.

"Terserah saja jika kalian tidak mau merestui hubungan kami. Aku, dengan kesadaran penuh lebih memilih menikah dengan Irene daripada menikahi Tzuyu hanya karena kepentingan bisnis kalian. Kami pergi, selamat malam," Sehun menggandeng tangan Irene dan menarik gadis itu untuk segera keluar bersamanya.

Hey, Playboy Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang